Harga Tahu dan Tempe di Kabupaten Subang Naik, Ini Penyebabnya

SUBANG-Harga tahu dan tempe di pasar mengalami kenaikan menyusul mogok yang dilakukan para pengrajin. Masyarakat keberatan dengan kenaikan harga bahan pokok tersebut.

Warga Cinangsi Enok Mariyati (43) mengatakan, sudah dua hari tak mampu membeli tempe semenjak harga di pasar mengalami kenaikan. “Ini tempe makanan sehari-hari bisa dikatakan makanan murah kalau dibanding daging kok bisa naik begini,” ungkapnya kepada Pasundan Ekspres, Minggu (3/1).

Warga lainnya Dimas R (36) mengatakan, harga tahu juga mengalami kenaikan. Bahkan beberapa hari Sabtu (2/1) kemarin tahu dan tempe tidak ditemukan di beberapa pasar tradisional di Subang. “Nyari tempe susahnya minta ampun. Kata pedagang tidak ada pasokan dari pengrajin,” katanya.

Pedagang Pujasera Subang Mihyati (50) mengatakan, untuk harga tahu dan tempe memang mengalami kenaikan sejak akhir tahun. Harga tempe selonjor yang semula Rp4.000 menjadi Rp8.500. Tahu yang semula Rp2.500 naik menjadi Rp5.000. “Kata pemasok sih kedelainya mahal jadinya harga ikutan mahal,” ujarnya.

Kepala DKUPP Kabupaten Subang H. Dadang Kurnianudin telah menerima keluhan terkait melonjaknya harga kedelai yang dominan merupakan barang impor. “Kami berharap ada solusi untuk menormalkan harga, karena menurut stok di lapangan masih aman,” katanya.

Dadang menjelaskan, beberapa waktu lalu sempat terjadi mogok produksi dari perajin tempe di Kabupaten Subang. Atas hal tersebut dia memahami kesulitan para perajin untuk menyesuaikan harga jual. “Mudah-mudahan harga kedelai bisa turun (normal) kembali dan mogok produksi dari perajin berakhir,” katanya.(ygo/ysp)