Jadikan Puasa Momentum Khusuk Berdoa

KH. Musyfiq Amurllah, Lc.,m M.Si. Pimpinan Pondok Pesantren At-Tawazun Kalijati.

Meski siang itu terasa terik, namun udara di tempat ini terasa sejuk, adzan dzuhur baru berkumandang saat Pasundan Ekspres baru saja sampai di sini. Melewati gang-gang kecil yang disebutnya jalan belakang, mobil terparkir tepat di gerbang masuk rumah, kami langsung menuju teras, duduk bersila menunggu Kyai.

Tidak lama Pasundan Ekspres duduk kyai ke luar dari rumah, tanpa basa basi menuju tempat karpet-karpet bertumpuk. Seperti sudah biasa, tidak mau tamunya jika harus duduk di lantai tanpa alas. Setelah saling bertanya kabar, Kyai mengajak Pasundan Ekspres salat dzuhur berjamaah di tempat itu.

Pasundan Ekspres baru saja tiba di kediaman pimpinan pondok pesantren At-Tawazun Kalijati, KH. Musyfiq Amurllah Lc MSi. Dalam pertemuan itu, ada banyak yang membekas yang dibicarakan Kyai. Salah satunya terkait ajakan untuk berdoa secara khusuk dalam momentum Ramadan ini. Menurutnya, munajat kepada Allah SWT untuk membersihkan bumi ini dari setiap wabah yang serba menyulitkan manusia ini.

“Kita berusaha, kan sedang berusaha. Maka berdoanya juga jangan sampai ketinggalan. Apalagi momentum bulan puasa seperti sekarang. Mumpung sedang di rumah saja, gunakanlah dengan khusuk untuk berdoa pada Allah,” jelasnya.

Kemudian Kyai juga menyampaikan sebagai umat muslim ada satu pedoman yang bisa dijadikan pegangan, ketika pada keadaan seperti ini. Yaitu hadist rasul, yang mengalami kejadian serupa seperti saat ini di masa lampau. Apalagi pada masyarakat yang menurutnya heterogen, ada yang mau menerima, ada yang masih keukeuh mempertahankan keyakinannya.

“Seperti masa Rasul, ada sebuah hadist yang menyatakan, kalau datang wabah, larilah kalian seperti larinya kalian ketika didatangi binatang buas,” jelasnya.

Menurutnya, itu satu pedoman yang harus dijadikan sandaran. KH Musfiq juga menceritakan pada masa Umar bin Khotob, pada tahun 18 Hijriyah, ketika Beliau menjadi khalifah saat akan berkunjung ke Syiriah, ke Kamaskus. Di tengah perjalanan dia mendapatkan informasi jika di sana ada wabah penyakit, pandemik.

“Umar bin Khatab menangguhkan perjalanan ke sana. Ada sahabatnya yang bertanya, kenapa engkau tidak jadi ke sana. Apakah engkau akan menghindari takdir Allah SWT? Umar menjawab, iya saya menghindari takdir Allah yang buruk, ke takdir Allah yang baik,” ungkapnya.(idr/vry)