Kisah Cucu Ayu Sang Penari Jaipong Terbaik Tingkat Nasional

INDRAWAN SETIADI/PASUNDAN EKSPRES MENARI: Penari Jaipong Cucu Ayu ketika menunjukan kemampuannya menarinya dari panggung hajatan.

Jaipongan kesenian tradisional yang cukup populer di Jawa Barat, terutama di beberapa daerah seperti Bandung, Karawang, Subang, Purwakarta hingga sebagian wilayah Banten ini memadukan unsur-unsur gerakan pencak silat dengan iringan kendang pencak dan juga ketuk tilu. Bagi seorang Cucu Ayu, Jaipongan yang selama ini dia geluti membawa banyak berkah, bahkan membawanya sampai ke negeri kincir angin.

INDRAWAN SETIADI, Subang

Jaipong adalah kesenian tarian pergaulan asal Jawa Barat di sebagian Tatar Sunda yang mulai populer sejak awal 1970-an. Jaipong atau jaipongan sangat populer di beberapa daerah di Jabar terutama Karawang, Bandung, Subang dan Purwakarta.

Kesenian jaipong sendiri adalah seni tradisi yang memadukan unsur seni yang sudah ada sebelumnya, yaitu pencak silat, ketuk tilu, topeng banjet hingga seni wayang golek (wayang cepak menurut sebagian kalangan).

Meski banyak kalangan menganggap tari jaipong berasal dari Bandung karena dipopulerkan oleh seorang seniman besar asal kota kembang Bandung bernama Gugum Gumbira, namun sebagian juga yakin bahwa seni jaipong berasal dari Subang.

Pasundan Ekspres berhasil menemui seorang penari Jaipong, yang cukup populer di Indonesia, bahkan sampai ke manca negara. Dia adalah Cucu Ayu, dia berasal dari Subang.

Selama pertemuannya dengan Pasundan Ekspres, Cucu Ayu banyak menceritakan pengalamannya dari mulai disandra oleh bajidor (istilah untuk penonton, biasanya laki-laki yang ikut menari dalam pertunjukan jaipongan), sampai diberikan penghargaan oleh pemerintah Belanda.

Dari Disandra Bajidor hingga Manggung di Belanda 

“Tahun 2004 saya dianugrahi penari terbaik tingkat nasional, 2010 saya diundang ke Belanda tepatnya ke Museum Trophentheatre Amsterdam, juga untuk dianugrahi penghargaan, alhamdulilah,” ujarnya.

Kendati banyak diganjar penghargaan tingkat nasional maupun mancanegara, namun perempuan pemilik nama lengkap Cucu Sriwulandari itu mengaku minim perhatian dari pemerintahan daerah. Padahal apa yang telah ditorehkan Cucu sudah membawa nama baik sekaligus wangi harum Kabupaten Subang sebagai daerah yang dianggap sebagai lumbung seni Jawa Barat. “Dulu zaman Bupati Pa Eep saja pernah diundang,” ucapnya.

Kini, Cucu Ayu tetap eksis menari mengisi setiap panggung ke panggung, dari setiap hajatan ke hajatan baik di desa sampai ke kota, beberapa waktu lalu aktivitas menarinya sempat terganggu oleh pandemi, namun masa adaptasi kebiasaan baru, membuatnya bisa kembali eksis menari. “Ketika PSBB total ya di rumah saja, stop aktivitas menari, sekarang sudah mulai, tentu dengan penerapan protokol kesehatan,” ungkapnya.

Dalam kesempatan itu juga Cucu mengutarakan harapannya agar banyak generasi muda yang bisa melanjutkan karier menarinya, dan memberi wejangan pada kaum milineal hingga generasi Z yang memilih menari sebagai profesi untuk memiliki keyakinan yang kuat, jika satu hari nanti dengan menari bisa mendatangkan banyak rezeki.

“Saya berharap ada penerus yang sungguh-sungguh punya tekad yang kuat, meneruskan profesi sebagai penari, yakinlah dengan menari itu mendatangkan banyak rezeki,” pungkasnya.(*/vry)