Kisah Perajin Gerabah asal Cirebon yang Terdampar di Kampung Babakan Karawang

PENGRAJIN: Wasri dan Inah, Kakak beradik yang meneruskan keahlian kerajinan gerabah asal Cirebon, sebuah hasil karya tangan warisan kedua orang tuanya asal Cirebon. DAYAT ISKANDAR/PASUNDAN EKSPRES

Sempat Tergusur Tempati Selatan Gunung Cupu Kemiringan 10-15 derajat

Di Desa Anjun Kecamatan Plered Purwakarta, ada satu kampung yang dibernama Babakan Karawang. Perkampungan ini awalnya bernama Kampung Cidadap yang masuk wilayah RT 19/04 Desa Anjun Kecamatan Plered.
———————
Perubahan nama kampung dari Kampung Cidadap menjadi Babakan Karawang, bukan serta merta begitu saja. Ada kisah yang menarik dibaliknya. Mengungkap misteri dibalik nama Kampung Babakan Karawang, Pasundan Ekspres mencoba menelusuri kisah panjang pengembaraan para pengrajin gerabah yang 70 persen tinggal di Kampung Babakan Karawang Desa Anjun itu.

Kisahnya dimulai dari dua orang kakak beradik pengrajin gerabah bernama Wasri dan Inah. Keduanya dari 13 bersaudara generasi kedua pengrajin gerabah asal Ciledug Cirebon, bernama Mak Uwas dan Suaminya Dirah. Kini keduanya sudah meninggal dunia.
Baik Wasri maupun Inah, mengaku tak ingat lagi saat kedua orang tuanya hijrah dari Ciledug-Cirebon ke Karawang. Hobinya mengembara dengan membawa serta ilmu mengolah tanah liat berupa gerabah, yang selalu mereka praktikan ditempat barunya.

Cara itu dilakukan secara mengembara (Nomaden) dan berpindah- pindah. “Saya mulai saja. Kisah yang saya ingat dari Bapak dan Ibu kami Mak Uwas dan Bapa Dirah, saat berpindah tempat dari Anjun Kanoman Karawang ke Kampung Cidadap. Brubah nama menjadi Kampung Babakan Karawang, diperkirakan terjadi pada tahun 1982 silam.

“Kala itu kami dan lima kakak dan adik, yang saat itu masih berstatus lajang diajak turut serta untuk hijrah ke Plered. Alasan Bapak dan Ibu kami, kawasan Anjun Kanoman Karawang lokasinya tak jauh dari alun-alun Karawang,” katanya.

Menurutnya, Karawang sudah tak kooperatif lagi dengan kehidupan pengrajin gerabah di sana saat itu. Sulitnya mencari bahan baku, karena menciutnya lahan sawah oleh serbuan pendatang baru di Kota Lumbung Padi Karawang saat itu.
Atas informasi sanak keluarganya, yang telah lebih dahulu menetap di Plered, maka diboyonglah anak-anak abah dan emak hijrah ke Plered.

“Perpindahan ke Plered terjadi dalam dua gelombang. Pertama tahun 1982, yang menyertakan lima anak perempuannya. Gelombang kedua, terjadi empat tahun kemudian yakni pada tahun 1986. Plered menurut informasi yang diterima Abah dan Emak, merupakan surga baru para pengrajin gerabah. Disamping di Plered tersedia bahan baku melimpah, keberpihakan penguasa khususnya Pemprov Jawa Barat dan Kabupaten Purwakarta. Kini menjadikan kawasan Plered, terutama Desa Anjun semakin dikenal di kancah nasional sebagai sentra Keramik Jabar,” tutur Wasri.

Ditempat baru itu, Wasri berlima mulai beranjak remaja, hingga kelimanya kemudian mendapat jodoh warga setempat yang sama sama bermata pencaharian pengrajin keramik.

“Perkampungan kamipun lalu berubah nama. Dari Kampung Cidadap menjadi Babakan Karawang, dengan alasan di kampung itu banyak bermukim pengrajin gerabah asal Karawang,” lanjut Wasri.

Sebagai pengrajin gerabah dengan ciri khas membuat tempayan, periuk dan cobek, selama tinggal di Kampung Babakan Karawang tetap eksis dengan karya yang khas. Selanjutnya, hasil karya ini oleh para peneliti dari perguruan tinggi hasil produksinya, serupa dengan para pengrajin gerabah asal Ciledug Cirebon. “Orang tua kami dari sana, sebelum hijrah ke Karawang,” terangnya.

Setahun lalu, terjadi perubahan yang mendasar yang mengubah peta perkampungannya. Sebuah proyek nasional bernama pembangunan jalur Kereta Api Cepat Indonesia China (KCIC) meluluhlantakan Kampung Babakan Karawang, termasuk semua warganya yang harus hengkang karena tergusur.

“Setahun lalu, kami menempati sisi Selatan Kaki Gunung Cupu Plered yang berbukit, dengan kemiringan 10-15 derajat. Namun karena kami terbiasa dengan pengembaraan, akhirnya kawasan Bebukitan Gunung Cupu, kami sulap menjadi kawasan kerajinan baru keramik Plered. Warganya merupakan pindahan dari Babakan Karawang. Akan tetapi kedua kawasan ini masih berada di satu desa yakni Desa Anjun Kecamatan Plered,” tukas Wasri.
Kini kawasan Gunung Cupu, terus bertransformasi sehingga beriringan dengan keberadaannya. Muncul pula gagasan warga lokal yang intens di bidang pariwisata budaya mulai merintis wisata hutan persis di kampung yang baru.

“Hal ini jelas membuat masa depan kami mulai terbersit cahaya paling tidak. Nantinya produk kami akan dibeli orang saat mereka mengunjungi obyek wisata baru itu, yang kini dikenal dengan nama obyek wisata Hutan Pelangi.(dyt/vry)