Konsultasi Publik Rencana Pembuatan Sodetan Tarum Timur

KONSULTASI PUBLIK: Pembangunan sodetan Tarum Timur baru tahap konsultasi publik, guna mendata kondisi sebelum pembangunan dimulai. YOGI MIFTAHUL FAHMI/PASUNDAN EKSPRES

Panjang Saluran 6 km Lebar 30 m

BINONG-Rencana pembuatan sodetan saluran induk Tarum Timur mulai masuki tahap konsultasi publik. Beberapa waktu lalu, dua perusahaan konsultan yang melakukan kajian AMDAL serta LARAP, melakukan pertemuan di Kantor Pengairan Seksi Binong.

Konsultasi public sendiri dilakukan untuk menyerap aspirasi masyarakt, serta berdialog bagi seluruh pihak yang berkepentingan.

Konsultan dari PT Hegar Daya Ferry Harjoko yang membidangi Larap Sodetan menyampaikan, bahwa lokasi pekerjaan mencakup rencana jalur trase dari Saluran Induk Tarum Timur (B,TT 53.C) hingga Saluran Irigasi Pamanukan (B.PNK.4).

“Itu melalui 1 Kecamatan, 3 Desa. Awalnya memang 4 Desa tapi setelah dikaji lagi, hanya 3 desa yang terlalui yakni Kiarasari, Jatireja dan Mekarjaya,” ucap Ferry Harjoko pada Pasundan Ekspres.

Ia manyebutkan bahwa panjang dari rencana Sodetan sendiri kurang lebih berkisar 6 KM atau 5.957 M dengan lebar 30 meter.

“Panjangnya kurang lebih 6 KM dengan lebar 30 M, jadi dari titik patok itu kanan kiri 15 meter sudah termasuk tanggul dan jalan,” jelas Ferry.

Menurut Ferry Larap dilakukan untuk menjamin terlindunginya hak-hak warga terdampak, dengan melakukan identifikasi asset dalam perencanaan akuisisi dan penggantian atau kompensasi biaya.

“Kita lakukan survey sosial ekonomi ke masyarakat mengenai sosial ekonominya, setiap informasi yang masuk kami tampung, wawancara dilapangan, kalau ada permasalahan kita diskusi seperti soal makam kemarin. Namun Alhamdulillah juga sudah beres,” ungkapnya.

Sementara itu konsultas AMDAL dari PT Jasa Perencanaan Nusantara Ahmad Dani menuturkan, bahwa kajian AMDAL merupakan salah satu elemen yang tidak dapat dilepaskan, mengenai adanya pembangunan. Ia menyebut kajian AMDAL sendiri merupakan suatu keharusan, karena juga diamanatkan oleh berbagai macam aturan.

“Kajian AMDAL ini untuk menghindari kerusakan lingkungan, untuk mengantisipasi kerusakan lingkungan saat pembangunan, Jadi sebelum pembangunan, ada masukan dan saran mengenai lingkungan ini. Ini dokumennya harus benar, prosudernya,” ungkap Dani.

Adanya AMDAL sendiri kata Dani, yakni untuk mengetahui informasi bagaimana kondisi lingkungan saat sebelum, adanya pembangunan dan melihat dampak-dampak lingkungan yang terjadi, bilamana ada suatu pembangunan.

“Misalnya sebagai informasi, mengukur kualitas udara itu seperti apa sebelum pembangunan, kebisingan lain-lain terkait lingkungan,” jelasnya.

Lalu dalam konsultasi publik yang menghadirkan unsur masyarakat serta para pihak terkait, usulan saran dan masukan yang muncul diantaranya mengenai saran, agar pelaksanaan sodetan tidak melalui pemukiman warga dan disarankan, untuk menggeserkan jalur sodetan kearah barat di daerah Desa Mekarjaya.

Selain itu, masukan dan saran juga muncul dari PJT II, yang mengetahui urusan teknis mengenai debit dan aliran saluran induk Tarum Timur, yang dikhawatirkan akan memunculkan masalah lain, jika debit untuk sodetan ini ada di angka sekitar 13 m3/perdetik.

Kegiatan konsultasi public untuk kajian AMDAL serta Larap sendiri terhitung aman dan kondusif. Meskipun dalam dialog antara konsultan perusahaan, pihak BBWS serta masyarakat banyak saran dan masukan yang disampaikan. (ygi/dan)