KTNA Jawa Barat Ajukan Penambahan Kuota Pupuk

KTNA Jawa Barat
KOORDINASI: Ketua KTNA Jabar H. Otong Wiranta saat berkoordinasi dengan perwakilan Komisi IV DPR RI Kang Dedi Mulyadi. YOGI MIFTAHUL FAHMI PASUNDAN EKSPRES

SUBANG-Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Jawa Barat, terus berkoordinasi dengan Komisi IV DPR RI, Kementrian Pertanian serta instansi terkait untuk mengatasi kelangkaan pupuk. Sebab, saat ini kelangkaan pupuk sudah terjadi dihampir seluruh wilayah jawa Barat.

Ketua KTNA Jawa Barat H. Otong Wiranta S.P M.M menyebut, persoalan kelangkaan pupuk ini tak hanya terjadi di Subang. Untuk itu, KTNA dalam beberapa waktu terakhir ini terus menjalin komunikasi untuk dengan Dirjen Pertanian yang membidangi masalah pupuk.
“Insya Allah nanti malam (Kamis malam) akan bertemu Pak Menteri langsung di Cirebon untuk menyampaikan masalah ini, segera dikeluarkan alokasi pupuk tambahan,” ucap Pria yang berasal dari Pantura Subang ini.

Ia menambahkan, untuk Kabupaten Subang sendiri, alokasi pupuk tahun ini berkurang dari alokasi pupuk tahun lalu. “Biasanya kita di Subang itu alokasi pupuk hingga 48.000 ton, sekarang dikasih 32.000 ton. Jadi, kurangnya memang banyak,” ucap H. Otong.

Baca juga: Ajak Petani Gunakan BIOS 44, Bisa Kembalikan Kesuburan Tanah

H. Otong menyebut kelangkaan pupuk bersubsidi ini telah diprediksi akan habis pada Bulan Agustus ini. “Agustus ini sudah habis, jadi sudah diprediski sejak awal. Tapi kita juga sudah bersurat baik ke Bupati dan Gubernur, karena kebijakan penambahan alokasi pupuk itu ada di pusat. Tidak di kabupaten maupun provinsi,” kata Otong.

Sudah mencapai 90-95 persen

Pada Kamis (13/8) lalu, Otong menjelaskan realisasi distribusi pupuk bersubsidi, khususnya jenis urea sudah mencapai 90-95 persen. Padahal, sejumlah petani terutama di kawasan Pantai Utara sudah memasuki musim tanam gadu. Selain itu, petani juga masih membutuhkan pupuk subsidi untuk kebutuhan musim tanam pada Oktober mendatang.

BACA JUGA:  Panas Menyengat, Belum Ada Pejabat Subang Menemui Ribuan Buruh di Alun-alun

Pupuk Indonesia, selaku BUMN yang ditugaskan untuk menyalurkan pupuk bersubsidi, mencatat realisasi pupuk urea di Jawa Barat sudah mencapai 370.161 ton atau 95 persen dari alokasi yang ditetapkan Kementan sebesar 388.400 ton.

Otong menilai, sulitnya petani mendapatkan pupuk karena turunnya kuota pupuk subsidi tahun 2020 yang ditetapkan Kementan. Pada tahun ini, kuota pupuk subsidi untuk Jawa Barat setelah realokasi sebesar 388.400 ton, sementara pada tahun lalu volumenya bisa mencapai lebih dari 500.000 ton.

KTNA selaku lembaga yang menaungi gabungan kelompok tani (Gapoktan) telah mengajukan permintaan tambahan alokasi kepada Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan Provinsi Jawa Barat.

Penambahan kuota yang diajukan berdasarkan data kebutuhan pupuk urea bersubsidi dalam Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok elektronik (e-RDKK) untuk Provinsi Jabar, yakni mencapai 561 ribu ton.

“Kita sudah bersurat ke Dinas Pertanian, kemarin juga bertemu dengan Komisi IV sedang dihitung kebutuhannya berapa. Saya berharap ini tidak berlarut-larut agar petani tidak kesulitan mencari pupuk,” kata Otong.(ygi/vry)