Maksimalkan Giliran Air, Dorong Tanam Padi Sistem Golongan

Ketua DPRD Subang H. Narca Sukanda

SUBANG-Aspirasi soal permasalahan Pertanian di musim gadu turut jadi perhatian Ketua DPRD Subang H. Narca Sukanda. Pasalnya, dalam beberapa waktu terakhir ini, banyak keluhan mulai dari persoalan pupuk hingga kesulitan air untuk pertanian yang mengancam sawah kekeringan.

Ketika ditemui Pasundan Ekspres, Narca menyebut saat ini sedang dalam kondisi musim kemarau. Dengan memperhatikan kondisi debit air yang tetap, namun kebutuhan sawah yang dialiri cukup banyak, diperlukan pengaturan sistem giliran. “Hal ini setiap tahun terjadi, pengairan sawah dimusim kemarau harus menggunakan sistem giliran. Tapi terkadang karena debit air terbatas, sawah tak teraliri baik, karena memang begitu banyaknya sawah yang harus dialiri air,” kata Narca.

Narca sangat mengapresiasi petani yang masih berjibaku dalam menanam sawah juga para penyuluh yang tak lelah membantu para petani, namun ia menyarankan agar kedepan harus ada pengaturan tanam dengan sistem golongan. “Dulu kita bisa melakukannya, tapi sekarang baik petani, penyuluh juga pengairan, dinas terkait semuanya harus sinergis, golongan tanam itu bisa dilaksanakan lagi. Sebab jika tidak dari tahun ke tahun akan seperti ini,” tambahnya.

Sebab, jika tak diatur, debit air yang terukur tak akan pernah mampu memenuhi persawahan jika musim kemarau tiba, apabila tanam dilakukan secara serentak. “Sebab jika golongan I atau yang didepan telat atau bahkan ikut dengan golongan II, III dan seterusnya yang akhirnya tanam bersama, tetap tidak akan bisa, termasuk soal harga gabah juga bisa jatuh.

Karena misal saat panen, semuanya itu panen, stok banyak, digudang penuh. Kalau dengan golongan, Setiap waktu itu ada yang panen harga juga bisa relatif stabil Meksi memang didasarkan pada kondisi pasar yang fluktuatif,” imbuhnya.

BACA JUGA:  Musda Ke-4 MD KAHMI Subang, Semangat Menyongsong Era Industri 4.0

Namun, Narca juga menyebut, jika sistem golongan ditetapkan, Dinas Pertanian bersama penyuluh dan juga Petani patut mewaspadai soal serangan hama. “Kalau air gelontor untuk golongan I, hama tikus itu mengejar dan bisa menyerang. Salah satu kendalanya ini, ini yang harus diwaspadai,” bebernya.

Untuk itu, ia juga mendorong Dinas Pertanian untuk memperkuat kelembagaan penyuluh pertanian dilapangan serta di desa desa. Sebab, kehadiran Penyuluh termasuk dalam mengedukasi petani juga dinilai penting.”Tidak hanya soal meningkatkan produksi padi, tapi pentingnya juga menjaga ekosistem tanah, penggunaan pupuk kimianya dan sebagainya itu peran penting penyuluh,” ucap Narca.

Sementara itu, salah satu petani di Pusakajaya Agus Rudianto menuturkan, kelangkaan air ini kerap terjadi ketika musim kemarau. Otomatis, tak jarang banyak terjadi rebutan air dilapangan baik antar petani juga antar desa.”Bahkan kadang dengan sistem giliran ada titik-titik sawah yang tak terairi, karena saluran tersier nya terlalu tinggi sehingga air sulit naik. Masalah irigasi dan air ini sangat krusial tapi tiap tahun seperti ini,” ungkap Agus.(ygi/sep)