Mantan Dandim Subang: Tidak Ada Perintah Memasukan ke Sel

SUBANG-Pengadilan Militer Tinggi Militer II Jakarta yang digelar terbuka di Pengadilan Negeri Subang dengan terlapor mantan Dandim Letkol Inf Budi Mawardi Syam mengungkap beberapa hal yang menarik perhatian.

Pengadilan tersebut berupaya mengungkap kebenaran atas laporan tindakan di luar prosedur anggota TNI dalam operasi miras tahun 2016 lalu ke Pomdam NI AD. Pelapor bernama Septian yang berprofesi wartawan Peduli Rakyat melaporkan bahwa dirinya mendapat tindakan kekerasan fisik dan penahanan di sel Kodim.

Septian yang mengaku, saat operasi miras digelar di malam Idul Fitri tahun 2016 spontan memotret aktivitas operasi miras di Kawasan kota Subang. Tapi mendapat tindakan pelarangan dan akhirnya ikut digiring ke Kodim Subang. “Waktu itu saya masih aktif sebagai wartawan Peduli Rakyat,” ujar Septian.

BACA JUGA:  Efek Sistem Zonasi, Pendaftar Sekolah Swasta Menurun

Tapi mantan Dandim 0605 Subang Letkol Budi Mawardi Syam menyatakan, operasi tersebut merupakan operasi gabungan. Tidak mungkin yang terjaring Razia adalah orang yang tidak minum minuam keras.

“Sebenarnya ini operasi gabungan antara TNI, Polri dan Satpol PP. Adapun yang terjaring itu, tidak mungkin orang yang tidak melakukan mabuk miras. Apakah memungkinkan anggota saya menangkap orang yang tidak miras? Kan tidak mungkin,” kata Budi.

Di hari kedua persidangan, Selasa (9/4), sidang yang dipimpin Hakim Ketua Kolonel Chk Moch Afandi SH MH pun akhirnya berupaya mengungkap legalitas media berdasarkan pengakuan Septian. Dalam persidangan terungkap bahwa Septian bekerja sebagai jurnalis secara independen, tidak tergabung dengan organisasi Persatuan Wartawan Indonesia (PWI). Selain itu, diakui oleh redaksi media Peduli Rakyat bahwa medianya belum terverifikasi di Dewan Pers.

BACA JUGA:  Rekonstruksi Kasus Adik Bacok Kakak, 20 Adegan Diperagakan di TKP