Masjid Al-Ikhlas Sagalaherang Tertua di Subang Peninggalan Wangsa Goparana

MESJID TERTUA: Tampak depan bangunan megah Mesjid Al-Ikhlas di alun-alun Sagalaherang, yang disebut-sebut sebagai masjid tertua di Kabupaten Subang. INDRAWAN SETIADI/PASUNDAN EKSPRES

Sempat Berganti Nama dari Sang Arsitek Setelah Renovasi

Mesjid Besar Al-Ikhlas yang kokoh berdiri dan cukup megah, terletaknya di Jalan Raya Jalancagak Subang-Wanayasa Purwakarta. Mesji yang tepat berada di alun-alun dan area perkantoran Kecamatan Sagalaherang Subang, disebut-sebut sebagai mesjid tertua dan pertama, juga sebagai tempat penyebaran Agama Islam di Subang, setelah Wangsa Goparana sekitar abad ke 13.

LAPORAN: INDRAWAN SETIADI, Sagalaherang

Beberapa peninggalan sejarah perjalanan berdirinya mesjid ini ditunjukan warga sekitar, Suhendar (55) pada Pasundan Ekspres. Dimulai dengan tulisan Arab seperti kaligrafi di salah satu sudut masjid dengan berbagai hiasan, dan kohkol besar (sebagai alat pemberitahuan waktu Sholat sebelum dikumandangkan Adzan). Konon kabarnya, sudah ada sejak zaman dahulu, ketika awal-awal masjiud ini di bangun.

“Konon menurut ceritanya pada tahun 1899-1981, lantai mesjid yang berwarna merah karena terbuat dari tepung bata merah, yang diaduk dengan Peueut (bahan gula aren), sehingga lantainya sangat keras dan mengkilat.

Belum lagi menara yang berjumlah 4 buah, yang terbuat dari kayu jati setinggi 15 meter tanpa sambungan, yang dihiasi dengan ukiran mirip Mesjid Demak. Sekelilingnya dihiasi taman serta kolam dan tempat wudhu di sebelah kiri-kanan Mesjid, yang dibuat oleh sesepuh warga sini, Almarhum Bapa Muchammad Kurdi,” ungkapnya.

Dia juga mengaku mngetahui cerita Mesjid Al-ikhlas yang sempat mengalami beberapa fase perbaikan bangunan. meskipun secara tidak langsung.

Sempat berganti nama

Dari cerita beberapa sesepuh sekitar, pada tahun 1965 beberapa bagian dari bangunan Mesjid Al-Ikhlas ini sudah lapuk. Kemudian ada arsitektur yang bernama Iyep Rumansyah memprakarsai pembongkaran dan membangunnya kembali.

Hanya saja hampir selama 5 tahun tidak selesai, hingga dilanjutkan pada tahun 1970 oleh seorang Danramil Sagalaherang Kapten Hasyim Asyari dengan mengandalkan gotong royong.

“Kemudian katanya saat itu masjid juga berganti nama, menjadi Mesjid Agung Al-Muawanah, tetapi hasilnya tidak sesuai dengan gambar. Selanjutnya pada tahun 1977 kembali direnovasi dengan sumber dana dari Bantuan Presiden (Banpres).

Lagi-lagi hasilnya tidak memuaskan, bahkan banyak yang bocor di sana-sini, bahkan ada tiang yang sampai ambruk. Hingga pada tahun 1995 dibangun secara total Mesjid Al-Ikhlas ini, oleh Profesor Doktor Ir. Haryanto Danutirto, sehingga bangunan menjulang megah dan menjadi lebih representatif,” jelasnya lagi.

Pada kesempatan yang lain, pada sebuah kegiatan, mantan Ketua DPRD Subang, Beni Rudiono menyebutkan bahwa berdasarkan perjalanan sejarahnya Mesjid Al-Ikhlas tersebut berawal dari keberangkatan Wangsa Goparana atas perintah Prabu Gusan Ulun.

Ketika itu, Subang Larang memeluk Ajaran Islam, yang sebelumnya memeluk agama Hindu dari Kerajaan Sunda terakhir setelah Kerajaan Pajajaran runtuh.

“Setelah Prabu Gusan Ulun dikalahkan Kesultanan Cirebon, kemudian Gusan Ulun memeluk Ajaran Islam. Selanjutnya, Gusan Ulun memerintahkan seorang kyai besar bernama Eyang Wangsa Goparana dari Kerajaan Talaga, masuk ke Sagalaherang, untuk menyebarkan Islam di kalangan raja-raja bagian dari Kerajaan Sumedang Larang. Mulai dari Perbatasan Banten sampai dengan keperbatasan Jawa Tengah,” jelasnya.

Setelah raja-raja bagian sudah memeluk Islam dan sepeninggalnya Wangsa Goparana, Mesjid Al-Ikhlas Sagalaherang mulai dibangun secara megah pada tahun 1870 Masehi, atau 5 abad setelah Wangsa Goparana Wafat. Mesjid peninggalan Eyang Wangsa Goparana itu diberi nama Mesjid Jami Kaum Sagalaherang.

“Awalnya bernama Mesjid Jami Kaum Sagalaherang, pendirinya atau dibangun oleh Ki Demang Ayub, Imam Masjid Ama Mu’alif. Imam yang merangkap sebagai Penghulu, makamnya Imam Mesjid itu saat ini berada tepat di belakang Mesjid,” pungkas Beni.(idr/vry)