Menilik Kesulitan Petani di Daerah Lumbung Padi Nasional

CEK BIBIT: Kelompok Tani Kiara di Desa Sukadana Kecamatan Compreng saat sedang cek bibit. DOK PASUNDAN EKSPRES

Terlambat Aplikasi, Terpaksa Beli Pupuk Non Subsidi

Bagaimana jadinya negara tanpa petani? Apakah negara dapat memenuhi kebutuhan pokok manusia? Tanpa petani takkan ada kesehatan, cinta, kreativitas, karena aktivitas manusia diperoleh dari tenaga, dan tenaga itu diperoleh dari sumber makanan. Sumber makanan didapat dari usaha bercocok tanam yang dilakukan oleh para petani. Jasa petani begitu besar maka hormatilah pekerjaan mereka.

LAPORAN: INDRAWAN SETIADI, Subang

Membicarakan petani dan segala persoalannya, terlebih di Kabupaten Subang, memang tidak akan habisnya. Apalagi Subang didaulat pemerintah pusat sebagai salah satu daerah lumbung padi nasional, namun faktanya belum lama ini persoalan-persoalan yang memberatkan bagi seorang petani memproduksi padi masih saja banyak ditemukan di Subang.

Belum lama ini, salah satu persoalannya misalnya saja, seperti tepatnya pada bulan lalu, yang sempat dilanda kelangkaan pupuk bersubsidi, Para petani seperti di Kecamatan Pabuaran Subang mengaku tidak mengetahui apa penyebab kelangkaan pupuk tersebut.

Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Jawa Barat, Otong Wiranta mengatakan, para petani khususnya di Kabupaten Subang kini kesulitan mencari pupuk subsidi. Akibatnya petani terlambat melakukan aplikasi pupuknya. Sebagian kecil petani, kini terpaksa memilih menggunakan pupuk non subsidi yang harganya lebih mahal.

“Dampaknya dari kesulitan mencari pupuk subsidi, petani kini telat melakukan aplikasi pupuknya. Kalaupun ada yang menggunakan pupuk non subsidi tapi jumlahnya tidak banyak karena harganya mahal,” kata Otong.

Hilangnya pupuk subsidi dipasaran ini, menurut Otong, diakibatkan alokasi pupuk subsidi untuk Kabupaten Subang sudah habis. Sebab aplikasinya pada tahun ini turun 35 persen dibanding tahun 2019. Otong berharap pemerintah segera mengeluarkan alokasi pupuk subsidi tambahan untuk para petani khususnya di Kabupaten Subang. “Harapan saya agar pemerintah segera mengeluarkan alokasi tambahan pupuk subsidi untuk petani, supaya kebutuhan untuk petani segera terpenuhi,” tambah Otong.

Menanggapi kelangkaan pupuk bersubsidi di kalangan petani Ketua DPRD Subang, Narca Sukanda kala itu ikut bersuara mendesak Pemkab Subang untuk segera melakukan langkah antisipasi. Menurut Narca, akibat kelangkaan pupuk bersubsidi jenis Urea dan SP36 di pasaran membuat para petani menjerit. Bahkan petani ada yang sampai tidak bisa tanam.

“Saya minta Pemkab Subang, harus bertindak cepat. Karena kelangkaan pupuk bersubsidi itu, tidak bisa dibiarkan berlarut-larut, karena akan berdampak fatal. Petani akan gagal panen,” tegas Narca kepada wartawan di Subang.

Maka dari itu kata Narca, Pemkab Subang harus segera melakukan sidak lapangan, dengan menggandeng TNI/Polri. Karena khawatir ada oknum yang bermain, dengan pupuk bersubsidi tersebut. “Saya khawatir, kelangkaan pupuk bersubsidi itu, karena dipicu adanya oknum yang menyalahgunakan atau digunakan untuk perkebunan, atau industri, bahkan digunakan untuk tambak. Jika benar adanya, maka saya harap, TNI/Polri, harus menindak tegas, karena telah menyengsarakan masyarakat petani,” imbuhnya.

Sementara itu, Manager Komunikasi Perusahaan PT Pupuk Kujang, Fitria Ratu Pagih menegaskan, ketersediaan stok pupuk bersubsidi jelang musim tanam kedua di tahun 2020 ini dipastikan aman. Stok pupuk urea bersubsidi yang tersedia di gudang lini III Kabupaten Subang mencapai 5.589 ton. Sedangkan realisasi penyaluran wilayah Subang untuk Urea mencapai 30.315 ton atau 101% dari ketentuan sebesar 29.920 ton. Sehingga pihaknya belum bisa menyalurkan kembali pupuk bersubsidi ke Kabupaten Subang karena sudah melebihi alokasi dari Pemerintah.

“Saya pastikan ketersediaan stok pupuk subsidi saat ini di gudang lini III aman, kami siap menyalurkan pupuk subsidi sesuai alokasi,” kata Fitria. Menurutnya stok pupuk urea bersubsidi wilayah Jawa Barat, Banten dan sebagian Jawa Tengah tercatat sebanyak 122.533 ton atau 1.147 persen dari ketentuan Distan sebesar 10.687 ton. Sampai dengan hari ini Pupuk Kujang telah menyalurkan 104 persen pupuk subsidi kepada petani.
“Jumlah tersebut setara dengan sekitar 475.818 ton pupuk, dari ketentuan Distan sebesar 457.188 ton, dan Pupuk Kujang sudah menyalurkan sesuai alokasi dari pemerintah” kata Fitria.

Soal di atas hanya dari satu sisi saja, yaitu ketersediaan pupuk subsidi, belum lagi hama, permainan harga oleh tengkulak, dan masih banyak lagi.(*/vry)