Menilik Prosesi Mitembeyan Saat Musim Panen di Pagaden Barat

BACA DOA: Warta setelah berkeliling sawah miliknya dan membacakan doa-doa, menyimpan sajen sebagi ungkapan rasa syukurnya. INDRAWAN SETIADI/PASUNDAN EKSPRES

Ungkapan Rasa Syukur Petani Terhadap Dewi Padi

Musim panen telah tiba, petani beberapa wilayah di Kabupaten Subang telah bersiap memanen padi di sawah, yang beberapa bulan kebelakang di rawatnya. Bahkan tidak sedikit dari mereka ada juga yang sudah memanennya. Namun ada yang menarik jika melihat ritual memanen padi yang dilakukan oleh petani di pagaden barat, mereka masih menjalankan ritual mitembeyan.

LAPORAN: INDRAWAN SETIADI, Pagaden Barat

Mitembeyan merupakan salah satu upacara tradisional yang diadakan oleh masyarakat petani. Para petani biasanya melakukan upacara tradisional ini sebelum memanen padi. Desa Bendungan Kecamatan Pagaden Barat Subang adalah salah satu daerah yang sampai saat ini mempertahankan upacara tradisional Mitembeyan.

Dijelaskan Mahasiswa tingkat akhir ISBI Bandung, yang sedang melakukan penelitian terkait ritual tersebut, Esza Baran mengatakan jika upacara tradisional tersebut merupakan ungkapan rasa syukur para petani terhadap dewi padi yaitu Nyi Pohaci Sanghyang Sri.

Kata Esza, Biasanya mitembeyan dilakukan oleh petani yang mempunyai sawah dengan mengucapkan do’a meminta berkah. Upacara ini dilakukan di sawah pada tanaman padi yang akan dipanen sambil membawa sesajen.

“Adapun perlengkapan sesajen untuk upacara tradisional mitembeyan yaitu rujak cau, rujak kalapa, bubur merah, bubur putih, kelapa hijau, asem, gula merah, sirih, tali kapan, bunga tujuh rupa, kopi pahit, kopi manis, cermin, congcot tumpeng, parukuyan, kemenyan, minyak wangi, kupat tantang angin, dua ikat padi, telur ayam dan bakakak hayam,” jelas Esza.

Mitembeyan dilaksanakan dalam dua hari

Sedangkan dalam pelaksanaannya, dia melanjutkan, mitembeyan dilaksanakan dalam dua hari. Hari pertama petani atau yang punya sawah mengelilingi sawah terlebih dahulu sambil membaca doa-doa secara berulang-ulang. “Setelah mengelilingi sawah, sesajen yang dibawa ditinggalkan di sawah tersebut. Prosesi panennya nanti, pada hari kedua, setelah doa dan baru lah padi dipanen,” tambahnya.

Salah seorang petani di Pagaden Barat, Warta (75) mengaku bahwa dirinya masih melakukan ritual tersebut dengan alasan kepercayaan dan keyakinan yang telah turun temurun dilakukan oleh para pendahulu nya. Dia juga mengaku, jika ritual tersebut tidak dilaksanakan, maka akan selalu saja ada aral melintang dalam proses pemanenan esok harinya.

“Sudah turun menurun, dari dulu karuhun saya juga begitu. Kita beryukur, dan berdoa agar proses panen lancar tidak ada halangan begitu, karena kami juga meyakini jika ritual tersebut tidak dijalankan, maka akan ada saja rintangannya,” jelasnya.

Meskipun era sudah semakin global, dengan berbagai informasinya termasuk kecanggihan teknologi diberbagai bidang. Namun masih ada beberapa kalangan yang masih mempertahankan kearifan lokal, yang sudah seharusnya kita jaga bersama-sama keberadaannya agar tidak tergerus zaman, serta bisa digunakan sebagai identitas budaya bertani di Subang.(idr/sep)