Misteri Tujuh Mata Air di Cijengkol

RIVER TUBING CIBENDUNGAN: Hulu sungai Ciasem, yaitu Cibendungan yang dimanfaatkan Bumdes Desa Cijengkol sebagai wahana River Tubing. Di hulunya, ada tujuh mata air yang masih misterius.

Cijengkol, adalah salah satu desa di Kecamatan Serangpanjang, Kabupaten Subang. Belum lama ini, Desa Cijengkol melalui BUMDes, membuka River Tubing Cibendungan, yaitu wisata air yang memanfaatkan sungai Cibendungan sebagai aliran irigasi.

Desa Cijengkol yang terkenal dengan Sate Cijengkol, juga memiliki tujuh mata air yang berada di hulu Sungai Cibendungan, yang mengalir sampai sungai Ciasem. Bagi kalangan tertentu juga memiliki daya tarik.

Laporan:  Indrawan Setiadi, Serangpanjang

Daerah Subang bagian Selatan, selain dikenal dengan pesona keindahan alamnya, juga terkenal dengan daerah penyeberan agama Islam di Subang. Banyak situs bersejarah terkait penyebaran agama Islam di sana. Misalnya saja di Kampung Nangka Beurit, yang sekarang masuk ke wilayah Dusun Cileungsing Desa Sagalaherang Kaler Kecamatan Sagalaherang. Lokasi tersebut, terkenal sebagai petilasan Raden Arya Wangsa Goparana, tokoh yang sangat berjasa atas perkembangan Islam di Subang.

Cisadane

Tidak jauh dari sana, tepatnya di Cijengkol, juga ada tujuh mata air yang dipercaya sebagai peninggalan para wali, yang dikenal dengan nama Sumur Bandung. Salah satu masyarakat Desa Cijengkol, Rahman Soleh (43) menjelaskan, keberadaan tujuh mata air tersebut ada di hulu Sungai Cibendungan. Salah satunya percis ditengah-tengah sungai.
“Zaman saya SMP kalau tidak salah, masih terlihat semburannya dari dasar sungai. Itu seperti pakai sanyo, nyembur. Kalau sekarang karena berbagai faktor dari sungainya sendiri, sudah tidak kelihatan,” jelasnya.

Baca Juga: Mata Air Ciloa Tak Pernah Surut Meski Kemarau Panjang

Cikaapesan

Rahman menceritakan, air yang terdapat di tujuh mata air itu, dipercaya masyarakat sekitar bisa menyembuhkan berbagai macam luka. Juga sering dikunjungi banyak orang-orang dari berbagai daerah, terutama yang mengaku keturunan dari leluhur mereka, yang dulu membuka mata air tersebut.

BACA JUGA:  Mata Air Cimutan Kasomalang yang Tak Pernah Kering di Musim Kemarau

“Dikenal dengan istilah pamandian, terutama setiap malam jumat banyak yang datang. Dari Karawang, Bekasi, luar daerah,” tambahnya.

Aparatur Desa Cijengkol Hadi menambahkan, kandungan PH air di sana setelah dicek oleh tim ahli itu tinggi, nyaris menyamai air infusan. Namun sayang, menurutnya tak banyak orang yang tahu bagaimana sejarah dari tujuh mata air tersebut. Dia juga enggan memastikan apakah ada kaitannya antara tujuh mata air di sana dengan Raden Arya Wangsa Goparana.

Cikahuripan

“Saya tidak berani memastikan kalau terkait sejarahnya. Pertama takut salah. Bisa-bisa kalau salah terus dipercaya jadi penyesatan sejarah juga takutnya. Saya berharap, ada tim ahli atau peneliti kebudayaan dari pemerintah yang bisa langsung memastikan. Jangan-jangan ini juga termasuk situs budaya,” jelas Hadi.

Cikabedasan

Adapun nama-nama mata air di sana, antara lain, Mata Air Cisadane, Cisanggiri, Cihaliwung, Cikajayaan, Cikahuripan, Cikabedasan, dan Sumur Bandung. Dijelaskan Hadi juga, keberadaan tujuh mata air di sana, membuat Desa Cijengkol nyaris jarang kekurangan air, meskipun musim sedang kemarau.

Cihaliwung

Malah ada satu fenomena aneh lagi katanya, jika kemarau kocoran tujuh mata air di sana justru semakin deras. Dia mengaku sempat terbersit akan mengemas air di tujuh mata air itu, sebagai produk BUMDes di sana, namun sesepuh masyarakat di sana tidak mengijinkan, lantaran tujuh mata air itu masih dianggap sakral.

Cikajayaan

“Ada wacana memang untuk mengolah jadi air kemasan sebagai produk BUMDes, namun masyarakat tidak setuju. Masyarakat di sana juga percaya air tersebut memikiki khasiat jika langsung diminum, tanpa dimasak terlebih dulu,” pungkasnya.(idr/vry)