Omnibus law Rugikan Buruh, Pendemo Kuasai Jalur Pantura

YOGI MIFTAHUL FAHMI/PASUNDAN EKSPRES AKSI BURUH: Ribuan buruh yang menamakan aliansi buruh Subang bersatu saat melakukan aksi dan orasi di Jalan Pantura Sukamandi, Ciasem.

SUBANG-Ribuan buruh dari berbagai wilayah padati Jalur Pantura Sukamandi, Kecamatan Ciasem. Bahkan terpantau, satu jalur jalan Pantura dari arah Jakarta menuju Cirebon “dikuasai” konvoi buruh yang terus berorasi di wilayah Pantura.

Di lini media sosial, akun facebook Esti Setiyo Rini yang menampilkan siaran langsung. Salah satu orator menyampaikan, aksi tersebut dilakukan sebagai bentuk penolakan terhadap pengesahan RUU Cipta Kerja yang disahkan DPR. “Hidup Buruh! Hidup Buruh! Kami di sini untuk masyarakat, untuk buruh agar semua element tahu dan mengerti, bahwa apa yang dilakukan Pemerintah bersama DPR sangat melukai buruh di Indonesia,” katanya.

RUU Cipta Kerja ini tidak hanya berdampak terhadap buruh semata, tapi banyak hal termasuk dengan lingkungan. “Lain ngan saukur buruh wungkul, tapi kabeh, gajih, izin, kabeh tatanan kahirupan diatur ku iyeu, (bukan hanya terbatas buruh saja, tapi semua, soal gajih, izin, semua tatanan kehidupan diatur oleh UU Cipta Kerja, red),” tambahnya

Sementara itu, Kanit Reskrim Polsek Ciasem Ipda Taufik yang dihubungi Pasundan Ekspes, mengatakan, sampai saat ini ribuan buruh masih berada di wilayah Sukamandi Desa Sukamandijaya Kecamatan Ciasem. “Rencana awalnya memang mau ke Subang tapi belum ada info lagi, ini sudah ada di depan PT Texpia,” jelasnya.

Dari pantauan Pasundan Ekspres, ribuan buruh masih tertahan diwilayah pantura dan kini dua Jalur Pantura diisi oleh rombongan konvoy buruh dari berbagai elemen yang mengatasnamakan Aliansi Buruh Subang Bersatu.

Sementara itu, Aliansi Buruh Subang (ABS) melakukan aksi unjuk rasa nasional menolak undang-undang Cipta kerja yang disahkan oleh DPR RI, Selasa (6/10). Sepanjang hari para buruh dikabarkan memblokade jalan nasional di Pantura Subang, padahal semula direncanakan aksi tersebut akan sampai pula ke wilayah Subang Kota. Bahkan beberapa sumber dari buruh yang Pasundan Ekspres coba menghubungi menyebut jalan di Pantura sempat lumpuh.

Sekertaris Umum Kongres Aliansi Serikat Buruh Indonesia (KASBI) Subang, Rahmat Saputra menegaskan, selain memang jalan nasional Pantura menjadi sasaran massa dari ABS untuk dilumpuhkan, wilayah Subang Kota juga akan juga didatangi para buruh. “Ini kita sedang bergerak ke wilayah Subang Kota,” ujar Rahmat melalui pesan singkat pesan WhatsApp, Selasa (6/10) pukul 17:57 WIB.

Saat Pasundan Ekspres tanyakan apakah ada kemungkinan aksi berjalan hingga malam, bahkan menginap di sekitar kantor Pemerintahan Daerah Kabupaten Subang, Rahmat menjawab singkat dengan mempertimbangkan situasi. “Lihat situasi,” pungkasnya.

Sebelumnya, Sekjend Konfederasi Kongres Aliansi Serikat Buruh Indonesia (KASBI), Unang Sunarno mengatakan, UU Omnibus Law jika disahkan akan merugikan buruh. Berdasarkan kajian terhadap draft UU tersebut, Kasbi menilai tidak pro terhadap buruh.

Dia mengatakan, dengan Omnibus Law ini sama-sama saja subtansinya dengan revisi UU No 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan. UU tersebut dinilai tidak pro terhadap buruh. “Subtansi dari Omnibus Law ini akan merugikan buruh,” katanya saat menghadiri acara Rapat Akbar dan Konferensi Wilayah Jawa Barat ke-2, beberapa waktu lalu.

Dia mengatakan, ada sejumlah persoalan dalam Omnibus Law yang berkaitan dengan cipta lapangan kerja. Salah satunya dengan UU tersebut, skema pembayaran buruh dihitung per jam. Bukan lagi per bulan. “Terkait dengan upah biasanya per bulan atau per minggu, akan dihitung per jam. Versi pemerintah dengan seperti itu buruh akan mendapatkan lebih besar dari selama ini. Tapi kami dari serikat buruh tidak percaya,” ujarnya.

Dengan skema upah seperti ini, Kasbi khawatir justru malah akan semakin merugikan buruh. “Saat ini saja banyak pelanggaran yang dilakukan perusahaan. Mereka yang sudah kerja bertahun-tahun tapi statusnya masih dikontrak,” ujarnya.

Dia mengatakan, di tahun 2020 ini Omnibus Law menjadi salah satu perhatian serius bagi buruh. Pihaknya terus melakukan konsolidasi bahkan akan melakukan aksi turun ke jalan jika Omnibus Law ini merugikan buruh.(ygi/idr/vry)