Ongkos Mahal, PerajinIkan Asin Bangkrut

HARGA TINGGI: Sejumlah pengrajin ikan asin di Kabupaten Subang bangkrut. Hal itu disebabkan oleh mahalnya harga garam, menambah beban biaya produksi. YUGO EROSPRI/PASUNDAN EKSPRES

DKUPP Upayakan Pembinaan Petani Garam

SUBANG-Sejumlah petani ikan asin di Kabupaten Subang mengalami bangkrut. Hal itu disebabkan oleh langkanya ketersediaan garam di Kabupaten Subang.

Dengan kondisi itu DKUPP ingin menyelenggarakan pembinaan bagi petani garam di Subang. Hanya saja keberadaan petani garam di Subang juga langka. Sehingga pengrajin ikan asin kebutuhan garamnya dari luar kabupatan.

Seperti halnya yang dialami Juaengsih petani ikan asin Desa Bantarsari Kecamatan Cijambe. Dirinya sudah berhenti memproduksi ikan asin, lantaran ongkos produksi semakin tinggi, karena harga garam meningkat tajam.

“Ya gimana harga garam buat ikan asin juga mahal, saya aja sampai ga usaha lagi. Karena tidak sanggup beli garamnya, ongkos produksi bertambah sementaraa hasil tetap,” ujarnya.

Dengan kondisi inipun, Juaengsih bertanya-tanya,mengapa di Subang tidak ada petani garam. Padahal pantai utara Subang cukup panjang membentang dari Kecamatan Blanakan hingga ke Pusakanagara.

“Yang saya nggak habis pikir adalah nggak ada petani garam di kita. Jadi kalau mau beli garam harus ke kabupaten luar atau bahkan negara luar. Harusnya di Subang ada petani garam, sehingga pengrajin ikan asin akan terbantu,” tuturnya.

Kabid Perdagangan DKUPP Subang H. Nurudin mengakui bahwa sejumlah pengrajin ikan asin mengalami kebangkrutan, akibat langkanya garam, dan harus beli ke luar daerah, seperti Cirebon, Tegal dan Indramayu.

Menurut H. Nurudin dengan kondisi itu pihaknya meminta kepada masyarakat agar mau menjadi petani garam, agar perajin ikan asin bisa bangkit kembali.

“Ya pasti nantinya produk ikan asin di pasok dari kabupaten luar. Kita himbau masyaraat menjadi petani garam karena kita punya lautan,” imbuhnya.

Dijelaskan Nurudin sudah beberapa bulan ini Indonesia terus melakukan impor garam, sehingga harga garam mengalami kenaikan. Padahal menurut dia, bisa disiasati pembentukan dan pembinaan petani garam yang ada di Kabupaten Subang. Petani garam di Subang jumlah sedikit, ditambah kondisi cuaca hujan produksi garam menurun.

“Ya memang dengan impor menjadi naik nya harga garam belum lagi petani garam hanya beberapa jumlahnya di Subang. Maka dari itu harus ada pembentukan dan pelatihan menjadi petani garam di Subang,” ujarnya

Sementara itu pedagang sembako Pasar Terminal Subang Yuyu mengatakan, untuk garam per sachet seharga Rp 3000/bungkus, itupun bukan garam buatan Subang melainkan, dari Cirebon. Dulu banyak yang membeli garam tersebut untuk membuat ikan asin dengan membeli garam dengan partai besar kini tidak ada lagi.

“Udah jarang yang beli partai besar, udah nggak ada lagi nggak tahu kenapa,” pungkasnya.(ygo/dan)