Padi Inpari 32 Produksi Capai 9 Ton/Ha

GERAKAN TANAM: Kepala Distan Kabupaten Subang Ir. Djadja Rohadamadja bersama Dandim 0605 Sbg Letkol Arh Edi Maryono, saat percepatan olah tanah dan percepatan gerakan tanam, di Desa Margahayu Kecamatan Pagaden Barat, Kamis (13/12). DADAN RAMDAN/PASUNDAN EKSPRES

PAGADEN BARAT-Dandim 0605 Sbg Letkol Arh Edi Maryono mengatakan Babinsa di wilayah Kodim 0605 Sbg, harus melekat kepada masyarakat, memberikan motivasi dan spirit, agar petani lebih semangat mengejar produksi padi.

Guna mengawal produksi pertanian dari olah tanah hingga panen, pihaknya melibatkan 253 Babinsa AD yang bertugas di desa/kelurahan. Babinsa AD siap membantu dan mengawal pertanian di Subang, hingga mencapai target yang ditentukan.

“Dengan tanam serempak ini, bisa menjadi titik awal dalam mencapai target. Dan Subang harus jadi nomor satu di Jawa Barat menjadi lumbung utama padi Jabar,” ujarnya, usai melaksanakan Percepatan Olah Tanah dan Pencanangan Gerakan Tanam Padi, di Desa Margahayu Kecamatan Pagaden Barat, Kamis (13/12).

Ir. Djadja Rohadamadja mengatakan, dari jumlah area baku pertanian Subang seluas 84570 ha, saat ini baru mencapai 30 ribu ha yang sudah tanam sudah melaksanakan olah tanah dan tanam. Dan ditargetkan pada akhir Desember ini mencapai 40 ribu ha.

Dari luas area baku 84570 ha tersebut, belum ada pendataan baru, namun, kata Djadja, Agraria tengah mendata ulang pertanian Subang, seiring dengan tumbuhkembangnya industeri.

Musim tanam periode 2018/2019, Distan Subang menganjurkan petani, untuk menanam, varietas Inpari 31, 32, 33, 42 dan ketan. Dari sekian varietas itu, Ciherang masih menjadi pilihan utama petani. Sementara itu, untuk sentra padi ketan, masih di wilayah kecamatan Binong dan Tambakdahan.

Dr Ir. Liferdy sebagai Kepala BPTP Balai Pengkajian Teknologi Pertanian dibawah Badan Litbang Kementan menyatakan, bahwa percepatan tanam, dalam arti kata petani harus segera menanam, seiring dengan iklim hujan.

Namun secara teknologi tanam, ini sudah ketinggalan, sebab petani bisa menanam pada musim kemarau atau menjelang musim hujan.

“Bisa tiga kali tanam dalam setahun. Dengan teknologi Patboter untuk sawah tadah hujan, sebuah teknologi pola tanam padi dengan sistem air bawah tanah,” tuturnya.

Karena menurutnya, tanaman padi bukan tanaman air, yang membutuhkan banyak genangan air, tetapi tanaman padi membutuhkan pasokan air. Dengan pola air tehnik macak-macak, sudah cukup dan tanaman bisa berkembang baik.

“Saat musim panas sangat bagus untuk menanam padi. Karena panas matahari cukup dan produksi padi lebih tinggi sekitar 2 ton/ha,” kata Liferdi.

Dengan begitu, maka menanam padi saat musim panas/kemarau dengan sistem Patboter, akan lebih menguntungkan petani dari segi produksi dan harga padi.

“Diupayakan petani menanam padi tiga kali, namun harus variatif setiap musim tanam,” imbuhnya.

Untuk varietas Inpari 32 dengan produksi cukup tinggi 9-10 ton/ha. Inpari 32 adalah turunan varietas Ciherang, namun dari segi produksi lebih tinggi Inpari 32.

Di Majalengka dan Sumedang sudah tanam inpari 42, melalui teknologi Patboter.

“Rata-rata produksi padi 6,2 ton/ha di Jabar.
Dan itu akan terus ditingkatkan melalui teknologi tepat guna dan tepat sasaran,” tuturnya.

Sistem Pajale bisa dikembangkan dengam metoda tumpang sari, dalam arti dalam satu musim tanam jangan ada yang ditiadakan.

“Kita bisa tanam padi, juga jagung dan kedelai dalam satu musim, dengan metoda tumpang sari,” pungkasnya.(dan)