Paradoks Memaknai Realita, Menandai Psikolinguistik Publik

Elang Ki Maung

SUBANG-Relita adalah realita, kenyataan tidak bisa direduksi dari satu sisi saja, entah itu sisi positif atau negatifnya. Orang yang hanya membicarakan realita sebagai wacana yang selalu positif adalah orang yang munafik. Tentu yang mereka lakukan adalah demi kepentingan. Hal itu diungkapkan Elang Ki Maung kepada Pasundan Ekspres, kemarin.

Menurutnya, realita adalah ruang yang penuh dengan problem, mulai yang sederhana hingga yang paling kompleks yang susah dipecahkan. “Kita tidak bisa hanya melihat realita sebagai hal-hal yang indah dan menyenangkan saja, yang seperti ini tak ubahnya dengan hanya impian. Impian yang mengafirmasi realita sekitar dengan hal-hal positif sesuai kehendak berpikir kita sebagai subjek. Juga menjadi ketertinggalan bagi orang-orang yang menganggap realita sebagai ruang kejam yang menakutkan yang didalamnya terdapat problem yang rumit dan tak terpecahkan,” ungkapnya.

Menurutnya, realita adalah panggung kebaikan dan keburukan, bahkan melampaui semua itu. Di dalam realita ada cinta, ada benci, ada kemarahan dan ada kasih sayang. “Panggung realita disediakan bagi manusia dengan berbagai kemungkinan alam pikirnya. Realita akan menjadi realita ketika kita mencerdasinya. Menjadi cerdas adalah keputusan eksistensialis manusia,” jelasnya.

Dia menjelaskan tidak ada yang berhak menjustifikasi seseorang dalam pilihannya. Justifikasi itu adalah konstruksi sosial dari masyarakat yang terbiasa dengan kewajaran, kewajaran tentang gaya hidup dan gaya berpikir. “Realita menyediakan tempat bagi semua jenis orang dengan semua jenis gaya berpikir. Semuanya disediakan tempat oleh realita,” ujarnya.

Hanya saja, kata dia, para pendobrak realita sering kali tidak muncul dari kalangan orang kebanyakan yang hidup dengan penuh kewajaran. Pendobrak kebenaran dalam realita senantiasa unik dan berpikir dengan cara yang tidak wajar, sebuah cara yang tidak dimiliki orang kebanyakan. “Realita tidak bisa ditutup-tutupi dengan kalimat-kalimat motivasi. Premis motivasi tidak menunjukkan kebenaran, ia hanya mengarahkan pada kehendak tertentu. Menjadi kehendak kebaikan jika motivasi itu diarahkan untuk kebaikan, menjadi kehendak keburukan jika motivasi itu diarahkan untuk keburukan,” paparnya.

Lebih lanjut dia menjelaskan dunia sepenuhnya mengandung nilai kejujuran yang tidak bisa direduksi, namun juga tidak bisa dijelaskan apa adanya sebagai “das ding an sich” (meminjam istilah Kant). “Dunia selalu dinilai oleh manusia dengan cara berpikir mereka menghadapi realita. Cara pandang manusia terhadap dunia tidak bisa murni 100% benar sesuai apa yang ia lihat dan dilihat orang lain,” jelasnya.

Dia menambahkan manusia melihat dunia selalu sebagai konteks atau sebagai fragmen tertentu yang paling pas di hatinya dan paling sesuai dengan yang ada dalam anggapan berpikirnya. Fragmen itu seperti kaca mata berwarna, akan hijau jika kacamatanya berwarna hijau, akan merah jika kacamata itu berwarna merah. “Realita berwarna hijau jika manusia memahami dunianya dengan perspektif kacamata hijau. Demikianlah seterusnya,” ungkapnya.

Dia pun menjelaskan bahwa keseluruhan kenyataan memang terlalu rumit untuk dijelaskan. Manusia itu terbatas pada kemampuannya memahami realita dengan kacamatanya. “Kalau kita ingin menjadi manusia yang memahami kenyataan secara lebih ‘kaya’ dari orang kebanyakan (orang yang hanya menggunakan satu atau dua kacamata-perspektif), maka kita harus banyak mengoleksi kacamata dengan berbagai warna. Jujur pada dunia, berdamai dengan kehidupan. Kita hadapi kenyataan dengan sifat manusia yang sebenar-benarnya, coba pahami dunia dengan perspektif yang lebih luas, agar diri tidak terkungkung dalam sempitnya pemahaman yang diberikan satu macam kacamata warna.(ygo/sep)