Pembangunan Sel di Lapas Subang Terkendala Lahan

PENGGELEDAHAN: Tim gabungan menggeledah narapidana saat menggelar penyidakan di Lapas Subang jelang natal dan tahun baru. YUGO EROSPI/PASUNDAN EKSPRES

Sudah Over Kapasitas

SUBANG-Kondisi sel di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Subang sudah masuk pada level over kapasitas. Pasalnya, setiap sel yang berukuran 2 x 1 meter itu ditempati oleh banyak narapida hingga sesak. “Idealnya sel seluas itu hanya di isi oleh 1 orang, tapi kondisi sekarang justru dihuni oleh 5 hingga 6 orang. Artinya mereka harus bisa beradaptasi karena setiap narapidana punya karakter masing-masing,” kata Kepala Lapas Subang, Kusnali kepada Pasundan Ekspres, Senin (17/2).

Dia menyebut kapasitas Lapas Subang memiliki daya tampung untuk 363 narapidana. Sementara saat ini, jumlah penghuni mencapai 764 orang narapidana dan tahanan, mulai dari terpidana kasus narkoba, pidana umum dan lainya. “Sebelumnya ada 800 orang napi dan tahanan, karena adanya remisi jadi berkurang sedikit. Tapi pengurang itu tidak berpengaruh, ruang sel masih oever kapasitas,” ungkapnya.

Meski demikian, lanjut dia, belum ada laporan kasus narapidana yang menderita penyakit sesak nafas lantaran over kapasitas tersebut. “Mungkin saja sebelummnya diantara narapidana ada yang memiliki riwayat sakit sesak napas, ditambah sekarang berada di ruangan yang berjumlah banyak,” ujarnya.

Baca Juga : Over Kapasitas, Lapas Subang Perketat Penjagaan

Untuk itu, pihaknya menginginkan adanya penambahan lahan untuk membangun ruangan sel bagi narapidana. Namun hal itu sulit terealisasi lantaran terkendala tidak adanya ketersediaan lahan tersebut. “Salah satu cara agar tidak terlalu over kapasitas dan bisa berkurang, kami menerapkan pemberian hak warga binaan memalui crash program dengan pemberian pembebasan bersayarat (PB) ataupun cuti bersyarat (CB), sehingga dengan itu bisa mengurangi jumlah narapidana di Lapas,” terangnya.

KPLP Lapas kelas II Subang, Khemal mengatakan over kapasitas bisa menyebabkan terjadinya konflik dan memicu kerusuhan di dalam sel bahkan di Lapas. Untuk mengurangi hal itu, pihaknya melakukan pendekatan-pendekataan terhadap narapidana agar tidak terjadi kerusuhan atau aksi anarki di dalam Lapas. “Kita terus lakukan pendekatan pendekatan secara persuasif,” ujarnya. (ygo/sep)