Pembudidaya Ikan Menjerit, Harga Pakan Naik tapi Penjualan Ikan Merosot

??????

SUBANG-Pembudidaya ikan air tawar mengeluhkan naiknya harga pakan di tengah pandemi Covid-19. Pasalnya, mahalnya harga pakan tidak diimbangi dengan penjualan ikan yang semakin merosot lantaran minimnya daya beli masyarakat.

Pembudi daya ikan air tawar, Enjang (38) mengatakan kenaikan harga pakan tergantung, seperti pakan merek SS mencapai Rp10.000/kg, padahal sebelumnya masih di angka Rp9.000/kg. Sedangkan untuk pakan takari awalnya Rp15.000/kg kini menjadi Rp15.900/kg. “Tergantung merek juga, nah biasanya semua pembudi daya untuk mendapat pakan ikan harus ngutang dulu, nanti bulan depan baru dibayar,” ujarnya kepada Pasundan Ekspres, kemarin.

Selain harga pakan, ia mengaku kesulitan hasil produksi ikan bisa menembus pasar di berbagai daerah. Padahal, sebelum pandemi ikan air tawar seperti mas dan nila sangat laris di pasaran. “Sudah lama juga sih, tapi kerasanya baru sekarang, penjualan merosot,” ujarnya.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Subang, Rahmat Ependi mengakui banyak pembudidaya ikan air tawar yang mengeluhkan kenaikan harga pakan yang mencapai Rp100-500/kg. Apalagi banyak dari pembudi untuk mendapat pakan harus meminjam ke suplier. “Ada yang beli cash dan ada juga yang piutang. Tapi kebanyakan mereka seringnya piutang,” kata Rahmat.

Pihaknya sudah mengusulkan 30 mesin pembuat pakan ke Kementerian Kelautan bagi kelompok pembudi daya ditahun 2021. Diharapkan jika menggunakan mesin, bisa menekan biaya pakan. “Jika diperkiraan jika membeli pakan bisa menacapaiu RP10 ribu perkilo, sedangkan jika meggunakan mesin, bisa membuat dan mengolah pakan sendiri dan bisa mengunakan bahan-bahan yang ada secara mandiri,” ungkapnya.

Dia menjelaskna pembudidaya ikan air tawar seperti ikan Nila dan Mas terdapat di 8 Kecamatan yakni seperti Cibogo, Cijambe, Cisalak dan lainnya. Mereka melakukan pembenihan hingga pembudayaan ikan air tawar. “Kita di Kabupaten Subang memang lumayan besar pertahunnya, untuk pembenihan ikan air tawar mencapai 36 ribu ton,” ujarnya.

Sementara itu, Wakil Ketua Komisi IV DPR RI Subang H, Dedi Mulyadi meminta Dinas Kelautan dan Perikanan untuk mengajarkan para kelompok pembudi daya air tawar agar bisa membuat pakan ikan sendiri. Bahan bisa dari ikan yang sudah tidak layak konsumsi, roti dan sayuran dan lainna. “Maka dari itu harus sudah ada mesin pembuat pakan ikan sendiri,” ujarnya.(ygo/sep)