Peringati Hari Keluarga Nasional 2020, DP2KBP3A Optimalkan 8 Fungsi Keluarga

Hari Keluarga Nasional
SAMBUT: Keluarga besar DP23KBPA Kabupaten Subang siap sambut Hari Keluarga Nasional tahun 2020. YUGO EROSPRI/PASUNDAN EKSPRES

SUBANG-Peringati Hari Keluarga Nasional (Harganas) tahun 2020, Dinas Pengendalian Penduduk Keluarga Berencana Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP2KBP3A) Kabupaten Subang optimalkan kelompok ketahanan keluarga. Pasalnya, untuk menciptakan ketahanan keluarga dibutuhkan keutuhan keluarga dan saling menjaga.

Kepala DP2KBP3A Subang, Dra. Nunung Suryani mengatakan bahwa Hari Keluarga Nasional diperingati setiap tanggal 29 Juni. Untuk tahun ini, pihaknya berinovasi dengan mengoptimalkan potensi yang ada, baik dengan kelompok ketahanan keluarga maupun kelompok masyarkat lainnya, sebagai media edukasi bagi masyarakat dalam melaksanakan fungsi keluarga. “Kondisi keluarga-keluarga di Kabupaten Subang sudah bagus, dan beravariatif jika dilihat dari ketahanannya ataupun kesejahteraannya,” katanya.

Dia menjelaskan ada 8 fungsi keluarga antara lain fungsi agama, fungsi cinta kasih, fungsi reproduksi, fungsi perlindungan, fungsi sosilisasai pendidikan, fungsi ekonomi, fungsi budaya dan fungsi lingkungan. Fungsi- fungsi tersebut bisa mengikat keutuhan keluarga, dan menjaga keluarga menjadi sehat dan baik. “8 Fungi ini harus diterapkan oleh keluarga,” ucapnya.

Baca Juga: Ditengah Pandemi Keluarga Miskin Baru Bertambah 246.000

Dia menyebut keluarga sehat tentunya bisa dilihat baik dari segi fisik maupun non fisik. Secara fisik keluarga sehat berarti bisa menciptakan lingkungan keluarga yang bersih dan terhindar dari penyakit, sedangkan non fisik keluarga yang sehat bisa dilihat dari harmonis tidaknya hubungan antar anggota keluarga dan antara keluarga dan juga lingkungannya.

“Komunikasi antar anggota keluarga berjalan dengan baik, tidak sering terjadi pertengkaran. Dan setiap anggta keluarga berperan sesuai dengan fungsinya masing-masing. Sedangkan keluarga yang tida sehat adalah kebalikannya,” ungkapnya.

Lebih lanjut pihaknya menyayangkan tingginya angka perceraian di Kabupaten Subang. Pasalnya, perceraian itu menunjukan bahwa keluarga sudah tidak utuh dan tentunya akan berdampak kurang baik bagi perkembangan mental dan psikis anak. “Ini menunjukan bahwa keluarga tersebut kurang memiliki ketahanan, sehinggga tidak mampu menyelesaikan masalah yang terjadi hingga memutuskan untuk bercerai,” pungkasnya.(ygo/sep)

BACA JUGA:  Gurihnya Sop Kaki Bu Hayati