Politeknik Negeri Subang Bermitra dengan Desa Ciruluk Gelar Pelatihan

SAMPAIKAN MATERI: Dosen Pembimbing Politeknik Negeri Subang, Adhan Efendi, saat sedang memberikan materi pengolahan buah rambutan pada masyarakat Ciruluk. INDRAWAN SETIADI/PASUNDAN EKSPRES

Edukasi Masyarakat Olah Buah Rambutan

Melimpahnya buah rambutan di wilayah Kalijati, mengundang perhatian Politeknik Negeri Subang, untuk diolah dimanfaatkan menjadi bahan baku olahan makanan lainnya. Setelah melakukan penelitian dan beberapa kali percobaan, akhirnya beberapa mahasiswa juga dosen Politeknik Negeri Subang, mempresentasikan beberapa temuan olahan buah rambutan tersebut pada masyarakat, di Aula Desa Ciruluk, Selasa (25/2).

LAORAN: INDRAWAN SETIADI, Kalijati

Jalankan Program Kemitraan Masyarakat (PKM), rombongan mahasiswa dan dosen Politeknik Subang mengadakan pelatihan mekanisme dan diversifikasi pengolahan buah rambutan.

Salah satu dosen tehnik mesin Politehnik Negeri Subang, Adhan Efendi menjelaskan, program tersebut merupakan program tahunan Politeknik yang sudah berjalan selama kurun waktu tiga tahun.

“Ini tahun ke-3, kami adakan di Desa Ciruluk sebagai bentuk pengabdian kami pada masyarakat. Dua tahun sebelumnya kami sudah adakan di Cipunagara dengan membuat mesin pengolah makanan ternak, kemudian di Tanjungsiang menghasilkan mesin penggilingan singkong,” jelasnya.

Menurutnya, juga setiap menjalankan program PKM, Politeknik Negeri Subang selalu menyesuaikan dengan potensi di setiap daerahnya masing-masing. “Tujuan agar kebermanfataannya secara langsung bisa dirasakan oleh masyarakat,” katanya.

Kepala Desa Ciruluk, Dede Dermawan mengatakan, yang dilakukan oleh Politeknik Negeri Subang di desanya memang merupakan sesuatu yang saat ini dibutuhkan oleh masyarakatnya. Terutama bagi kelompok masyarakat pelaku UMKM di desanya. Apalagi yang diolah adalah buah rambutan, yang menurutnya merupakan salah satu buah yang banyak dihasilkan di Ciruluk, namun belum diolah secara optimal.

“Selama ini masyarakat hanya menjual buahnya saja, tanpa diolah, jika sedang panen raya, stok buah banyak, pembeli tidak ada, harganya bisa anjlok, tetapi jika diolah kan bisa memounyai nilai ekonomi yang lebih,” ungkapnya.

Menurut Dede, pelatihan pengelolaan ditunjang dengan dibuatkannya alat pemetik rambutan, sekaligus cara pengelolaannya, serta merk dagang. Ijin edar yang akan dikerjakan Politeknik Negeri Subang, dirinya merasa bahwa hal tersebut benar-benar membuat Desa Ciruluk merasa beruntung.

Maka dia berharap, bagi masyarakat yang mengikuti pelatihan, diantaranya didominasi oleh ibu-ibu. Terdiri dari kader PKK dan Posyandu, bisa mengembangkan hasil pelatihannya di wilayahnya masing-masing.

“Saya berharap program ini bisa berkelanjutan, sehingga manfaatnya bisa secara langsung dirasakan oleh masyarakat. Saya juga optimis, jika pelatihan pengelohan buah rambutan berhasil, maka potensi ekonomi masyarakat khususnya di desa kami bisa meningkat,” tambahnya.

Pada pelatihan tersebut, rencananya masyarajat Desa Ciruluk akan dilatih untuk mengolah buah rambutan menjadi beberapa olahan makanan. Seperti manisan rambutan, keripik rambutan, dodol, rambutan, bolu rambutan, selai rambutan, hingga pupuk kompos. Pelatihan tersebut juga akan dilaksanakan Politehnik Negeri Subang dalam beberapa bulan ke depan di Desa Ciruluk.(*/vry)