Produksi Padi Tidak Terpengaruh Covid-19, Targetkan 1,3 Juta Ton Gabah

YOGI MIFTAHUL FAHMI/PASUNDAN EKSPRES GOTONG ROYONG: Petani di Kecamatan Compreng saat melakukan gerakan pengendalian hama di area persemaian, bebarapa waktu silam.

SUBANG-Kepala Bidang Produksi Dinas Pertanian Kabupaten Subang, Asep Heryana, mengungkapkan Subang sebagai daerah penghasil beras tebesar di Jawa Barat tidak terpengaruh pandemi Covid-19.

Adapun potensi luas sawah di Kabupaten Subang seluas 84.570 Ha, berdasarkan catatan di Dinas Pertanian Kabupaten Subang luas lahan sawah masih menggunakan angka tahun lalu.

“Kita tahu juga memang alih fungsi lahan ke non pertanian cukup tinggi, melihat kondisi Subang sedang membangun kawasan industri,” ungkapnya.

Meskipun ada zona industri termasuk adanya Pelabuhan Patimban yang ada di Pusakanegara, namun tetap angka produksi ditargetkan 1,3 juta ton gabah kering giling atau dihitung kurang lebih 846.000 ton beras.

“Mungkin sangat berat, jadi dengan kondisi yang ada itu kita masih surplus untuk kebutuhan Kabupaten Subang,” tambahnya.

Dari produksi beras ini, Asep mengungkapkan jika produksi itu tidak semua dikonsumsi warga Subang, sebagian besar atau sekitar 60% dibawa keluar Subang.

“Surplusnya, kalau gabah sekitar 400.000 ton, kalau beras 250.000 ton yang dibawa ke luar Subang. Jadi dari 846.000 ton, bisa kita hitung produktivitas padi per hektare nya 7 ton. Rata-rata, produksi padi di Subang 7 ton per hektare,” tambah Asep lagi.

Seperti diketahui, Kabupaten Subang memiliki tiga wilayah lahan strategis. Mulai dari bagian selatan yang merupakan daerah pegunungan, dataran tengah dan Pantura yang dekat dengan pesisir pantai.

“Untuk yang di Pantura, lebih luas sawahnya, sehingga penghasilan padi atau berasnya paling tinggi, bisa sampai 8-9 ton, di tengah bisa sampai 7-8 ton, sedangkan di selatan pegunungan 5-6 ton. Jika dirata-ratakan 7 ton per hektare,” jelas Asep.

Dinas Pertanian sebenarnya berkeinginan untuk meningkatkan produksi, namun beberapa kendala masih menghambat produksi pertanian. Salah satunya jaringan irigasi, yang harus sudah direhab, dan lahan yang sudah dialihfungsikan ke kawasan industri.

“Entah itu endapannya terlalu tinggi, sehingga salurannya harus dikeruk atau permasalahan di pintu air banyak yang rusak. Secara bertahap kita mengajukan perbaikaan kepada instansi yang berwenang di Provinsi Jabar,” pungkas Asep.(idr/ysp)