Retno Sulap Kayu jadi Aksesoris Menarik

PEMUDA KREATIF: Retno Nugroho Pamungkas Suparno, pemuda kreatif sulap kayu jadi aksesoris menarik. YUSUP SUPARMAN/PASUNDAN EKSPRES

Miliki Nilai Ekonomis Tinggi

SUBANG-Siapa sangka dari limbah kayu bisa menjadi peluang bisnis menggiurkan. Melalui tangan kreatif, kayu-kayu sisa yang sudah tidak terpakai bisa disulap menjadi beragam aksesoris yang memiliki nilai ekonomis yang cukup tinggi.

Hal inilah yang dilakukan oleh Retno Nugroho Pamungkas Suparno, pemuda asal Perumnas Subang. Bisnis yang dilakoni anak muda 23 tahun itu sejak Agustus 2019 lalu.
Bisnis itu berawal dari hobinya membuat kerajinan dari sisa-sisa kayu dan disulap menjadi aksesoris berupa anting yang unik dan bernilai seni yang tinggi.

“Awalnya saya buat anting dari kayu. Terus saya pakai ke kampus, temen-temen pada nanya belinya dimana. Mereka penasaran karena anting yang saya pakai mengunakan magnet sedangkan yang biasa mereka temukan anting yang harus ditindik,” jelasnya.
Sejak saat itulah Retno mulai banyak menerima permintaan dari teman-temannya untuk dibuatkan anting yang serupa. Selain anting, mahasiswa ISBI Bandung tersebut juga membuat aksesoris lainnya seperti kalung, gelang, bros, jepit hingga yang terbaru yakni gantungan kunci.

Semua aksesoris yang dibuat adalah hasil kreatifitas tangan Retno, yang hanya bermodalkan pisau kater. Untuk itu, Retno pun memberi nama yang sesuai dengan cara pembutannya yaitu handmade. Hong Hand Wood begitulah nama yang Retno pilih untuk usahanya tersebut yang memiliki arti tersendiri baginya.

“Hong dalam Bahasa China artinya Keberuntungan, Wood dalam Bahasa Inggris artinya Kayu dan Hand artinya tangan. Sebetulnya nama ini dipilih juga sebagai doa semoga selalu memberikan keberuntungan,” tuturnya.

Bisnisnya kini mulai memperlihatkan kemajuan yang cukup baik. Saat ini Retno sering menerima pesanan dari luar kota bahkan dari luar Pulau Jawa. Dari sekian banyaknya pesanan yang diterima, Retno mengaku anting menjadi aksesoris yang banyak diminati khususnya untuk para laki-laki.

Dengan kelihaian tangannya Retno mampu membuat aksesoris dalam sehari mencapai 50 pcs. Satu aksesoris hanya membutuhkan waktu 5 menit, namun yang cukup memakan waktu ialah proses finishingnya.

“Untuk tetap menjaga kuantitas, kualitas juga pelayanan terhadap konsumen saya mulai menyicil sedikit untuk penyediaan alat.”ujarnya.

Harga yang dipatok untuk aksesorisnya pun cukup beragam, tergantung dari tingkat kesulitannya. Untuk anting dan cincin dibandrol dengan harga Rp30.000 kalung dan gelang Rp35.000. Harga tersebut berbeda jika konsumen memilih sendiri untuk desain yang diinginkannya.

Retno berharap ingin memiliki tempat usaha dan mengadakan workshop. Diakuinya saat ini memang masih prosuksi di rumahnya yang berlokasi di Jl. Jeruk 1 N0.29 Perumnas Subang. Dan untuk pemasarannya Retno mengandalkan media sosial Instagram dengan nama akun @honghandwood.

“Saya berharap usaha yang dirintis dari nol ini ke depannya bisa semakin maju dan berkembang. Tak hanya aksesoris mungkin nanti bisa merambah ke furniture interior, workshop juga dan semoga produk lokal Subang semakin dikenal oleh kalangan luar dan semoga mendapat perhatian lebih dari unsur pemerintah,” pungkasnya.(ysp)

BACA JUGA:  Nasib Kerupuk Miskin Purwadadi yang Mulai Ditinggal Generasi Penerus