Sejarah Ruwatan Bumi di Kampung Adat Banceuy, Semua Hasil Bumi Bisa Manfaat dan Barokah

TUTUNGGULAN: Sejumlah ibu-ibu menumbuk padi secara bersama-sama sebagai salah satu prosesi ruwatan bumi di Kampung Adat Banceuy. INDRAWAN SETIADI/PASUNDAN EKSPRES

Menjelang tahun baru islam 1 Muharram, bagi masyarakat Desa Sanca Kecamatan Ciater tepatnya warga kampung adat Banceuy yang sebelumnya adalah Kampung Negla, merupakan waktu yang ditunggu-tunggu untuk menyelenggarakan dadahut.

INDRAWAN SETIADI, Subang

Dadahut yang berarti persiapan, mulai dari persiapan, musyawarah, penggalangan dana, pembuatan aneka makanan, dan sebagainya untuk prosesi adat yang sudah sejak lama mereka lakukan yaitu ruwatan bumi.

Tidak mengenal usia, baik mereka yang muda maupun yang tua, laki-laki atau perempuan, bergotong royong bahu membahu mengerjakan keperluan untuk terselenggaranya ruwatan bumi tersebut sesuai dengan kemapuan dan keahlian mereka masing-masing. Dari mulai membuat aneka dekorasi kampung, hingga olahan makanan, sampai penggalangan dana.

BACA JUGA:  Hari Jadi Purwakarta Dimeriahkan Pesta Rakyat

Menurut T.Dibyo Harsono, Peneliti BPNB Jawa Barat, tradisi ngaruwat di kampung Banceuy sudah berlangsung sejak tahun 1800an. Ketika itu Kampung Negla diterpa bencana angin puting beliung dahsyat, yang menghancurkan rumah penduduk, menghilangkan ternak, juga kebun penduduk setempat. Sehingga untuk menangkal upaya bencana tersebut maka diadakanlah ngabanceuy, yaitu musyawarah para tokoh masyarakat.

“Ada 7 tokoh, yaitu Eyang Ito, Aki Leutik, Eyang Malim, Aki Alman, Eyang Ono, Aki Uti, dan Aki Arsiam. Sesuai kesepakatan 7 tokoh tersebut mendatangkan paranormal atau seorang dukun yang dipercaya dari Kampung Cipiuh Desa Pasangrahan, sekarang Kasomalang, yaitu Eyang Suhab. Mulanya sejak itu, diadakan ritual numbal, untuk menangkal bencana tersebut datang kembali dikemudian hari. Kemudian terkait nama Kampung, yang tadinya Negla itu diganti disesuaikan berdasarkan hitungan Jawa atau Wuku, menjadi Banceuy,” jelas Dibyo.

BACA JUGA:  Harga Cabe Makin Pedas, Warga Pilih yang Kering

Menurut T.Dibyo Harsono juga, nama Negla diyakini sebagai penyebab dari datangnya bencana terhadap kampung dan penduduknya tersebut, sehingga para tokoh kampung sepakat menggantinya dan menggunakan kata banceuy yang berarti musyawarah, dengan harapan supaya kampung tersebut bisa dijadikan tempat berkumpul dan dijadikan tempat bertukar pikiran pada saat itu.