Selain Korona, Demam Berdarah Ikut Mengintai

ANTISIPASI: Kepala P2P Dinkes Subang dr Maxi bersama staf menunjukan bubuk abate dan alat foging di gudang penyimpanan Dinkes Subang. YUGO EROSPRI/PASUNDAN EKSPRES

Warga Minta Bubuk Abate

SUBANG-Saat wabah virus korona menghantui masyarakat saat ini, serangan nyamuk aedes aegypti juga tidak bisa dianggap abai. Buktinya belasan warga di Cipeundeuy terjangkit DBD akibat gigitan nyamuk tersebut. Hal tersebut diakui oleh Kepala Desa Wantilan, Komarudin.

Menurutnya 13 orang warganya sudah terjangkit DBD, dan sudah mendapati penanganan oleh Puskesmas terdekat. “Sebelumnya ada 13 orang yang kena DBD. Hari ini kita lakukan pengasapan untuk membasmi nyamuk aedes aegypti,” jelasnya.

Kepala Puskesmas Kalijati, Asep Supriatna mengatakan, penyebaran nyamuk aedes aegypti sebagai penyakit musiman, seharusnya bisa dihindari dengan pola hidup sehat. Dia juga menyampaikan sampai saat ini di UPTD Puskesmas Kalijati, belum ada terdeteksi.
“Mudah-mudahan saja jangan sampai ada, Insya Allah,” jelasnya.

Asep juga menyampaikan, terkait layanan kesehatan Upaya Kesehatan Masyarakat (UKM) dan Upaya Kesehatan Perorangan (UKP), sebagai upaya kampanye untuk terhindar dari penyakit DBD.

Menurut Asep, UPTD Puskesmas Kalijati telah melakukan UKM, meliputi berbagai upaya. Antara lain, promosi kesehatan, pemeliharaan kesehatan, pemberantasan penyakit menular, pengendalian penyakit tidak menular, penyehatan lingkungan dan penyediaan sanitasi dasar, perbaikan gizi masyarakat, kesehatan jiwa, pengamanan sediaan farmasi dan alat kesehatan, pengamanan zat adiktif dan bahan berbahaya, serta penanggulangan bencana dan bantuan kemanusiaan.

“Sedangkan UKP sudah ada beberapa kegiatan yang dilakukan oleh pemerintah atau masyarakat serta swasta, untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan, serta mencegah dan menyembuhkan penyakit serta memulihkan kesehatan perorangan, yang meliputi upaya-upaya promosi kesehatan, pencegahan penyakit, pengobatan rawat jalan, pengobatan rawat inap, pembatasan dan pemulihan kecacatan yang ditujukan pada perorangan,” tambahnya.

Pada kesempatan yang sama, di tempat yang berbeda, dr umum di UPTD Puskesmas Rawalele, dr. Gilang Kukuh Megantoro mengungkapkan, dari beberapa pasien yang sempat dia tangani, ada beberapa orang yang gejalanya mirip dengan BDB. Beberapa orang malah sudah terjangkit DBD, namun tidak dirawat di UPTD Puskesmas Rawalele.

“Ya beberapa ada, tapi tidak di rawat di sini, sudah dirujuk ke RSUD,” pungkasnya.
Sementara di Desa Padamulya Kecamatan Pagaden, warga merasa resah dengan DBD. Salah seorang warga, Enah (44) mengatakan, banyak tetangga dan kerabatnya yang sakit DBD. Kabarnya, musim saat ini DBD mulai berkembang.

Pihaknya meminta agar pihak Pemda Subang membagikan bubuk abate ke rumah-rumah. “Khawatir banyak yang sakit, kita minta bubuk abate jika bisa,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala P2P Dinkes Subang dr Maxi mengatakan, sesuai data bulan Maret 2020 ada 5 kasus DBD di Kabupaten Subang. Kasus tersebut langsung ditindaklanjuti, dengan pemoggingan dan imbauan untuk menerapkan PSN 9 pemberantasan sarang nyamuk.

Dijelaskan Maxi, ada perbedaan antara DD (Demam Dengue ) dan Demam Berdarah Dengue (DBD). Mungkin saja kebanyakan masyarakat terkena DD dan langsung berobat ke puskesmas. Standar WHO, trombosit di bawah 100.000 dengan Hematrokit naik 20 persen, sedangkan standar Kementrian Kesehatan, trombosit di atas 100.000.

“Kebanyakan mereka di atas 100.000 trombositnya, sehingga dikategorikan DBD jika mengacu kepada standar kementrian kesehatan,” terangnya.(idr/ygo/vry)