Veteran Pelaku Sejarah Kemerdekaan Bangsa

DADAN RAMDAN/PASUNDAN EKSPRES VETERAN: Ketua LVRI Ranting Pagaden Barat H Sanudi bersama anggota dan pengurus LVRI Kabupaten Subang saat peringatan HUT RI ke 76 Tahun 2021.

SUBANG-Veteran adalah pejuang yang ikut membela kemerdekaan dan mempertahankan kemerdekaan saat agresi Belanda pasca kemerdekaan Bangsa Indonesia.

Keberadaan veteran saat ini adalah sebagai penggugah generasi muda akan semangat juang kemerdekaan yang telah digelorakan oleh para pahlawan melawan penjajah Belanda dan Jepang serta kemudian mengusir tentara VOC pasca kemerdekaan 17 Agustus 1945.

Salahsatu dari sekian banyak Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI), yaitu LVRI Ranting Kecamatan Pagaden Barat yang di Ketuai oleh H Sanudi.

Di Pagaden Barat pun terdapat sebuah Makam Pahlawan Kemerdekaan yaitu Makam Pahlawan Bakanasem Kampung Bakanasem Desa Mekarwangi. Dimana disana terdapat 14 pejuang yang gugur saat menghadapai serangan agresi militer Belanda ke 2.

Dari keterangan anggota Veteran Pagaden Barat, Syarif yang menceritakan, Kampung Bakanasem adalah markas para pejuang saat itu. Markas pejuang sekaligus tempat persembunyian Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Dimana telah diketahui bersama sistem perjuangan kala itu adalah gerilya.

Para pejuang yang bermarkas di Bakanasem itu, bersiasat untuk menghimpun kekuatan dengan merampas senjata para tentara Belanda saat itu, dengan taktik Bambu Runcing. Senjata tersebut kemudian dikumpulkan di gudang persenjataan di markas tersebut.

Kemudian, lanjut Syarif, veteran yang juga pernah ikut bersama ayahnya seorang pejuang bernama Arwinten, hapal persis bagaimana pola dan taktik pejuang untuk melawan Belanda saat itu. Setelah dirasa cukup kuat, kemudian direncanakan penyerangan TKR ke Markas Belanda yang berada di Tanjungsalep saat ini bernama Jatimulya Compreng.

Namun rencana para pejuang itu diketahui oleh Belanda dan kemudian Belanda menyerang terlebih dahulu ke Markas Bakanasem. Membakar rumah rakyat gudang persenjataan.

Saat itulah, pertempuran sengit antara pejuang dan tentara Belanda, yang akhirnya 14 pejuang gugur disana. Kini, Makam Pahlawanya bisa dilihat di Kampung Bakanasem.

BACA JUGA:  Kouta SMAN 3 Subang 396 Siswa

Sementara para pejuang lainnya ditarik mundur dengan menyusuri Sungai Ciasem dan menyelam hingga ke tempat yang aman.

“Sangat sengit, dentuman mortir dan senapan mesin Belanda memborbardir Markas Bakan Asem dan membumihanguskan kampung tersebut,” kata Syarif.

Itulah sekilas cerita perjuangan pahlawan kemerdekaan saat itu. Generasi muda saat ini, hanya tinggal meneruskan hasil perjuangan pahlawan kusuma bangsa yang gugur dan masih hidup hingga saat ini.(dan/vry)