Warga Pantura Bangun Warung Mudik

WARUNG MUDIK: Sejumlah warga Pantura Subang mulai membangun warung mudik. Warung dadakan tersebut jadi tempat istirahat. YOGI MIFTAHUL FAHMI/PASUNDAN EKSPRES

SUBANG-Jelang arus mudik yang mulai masuki H-10, warung dadakan di Jalur Pantura mulai berdiri. Dalam pantauan Pasundan Ekspres, warga mulai membangun warung di sepanjang jalur Pantura Arah Jakarta menuju Cirebon.

Salah satu pedagang yang sedang membangun Ahmad warga Desa Mundusari Kecamatan Pusakanagara mengatakan, sudah dua hari terakhir ia bersama rekannya membangun warung, seperti sudah menjadi tradisi saat musim mudik.

“Kebetulan saya udah lama disini, saya ada warung yang tetap disebrang sana. Tapi untuk mudik ini bangun dulu warung disini. Momen nya kan mudik,” kata Ahmad saat ditemui Pasundan Ekspres kemarin (26/5).

Ahmad menyebut, ia telah berjualan sejak lama di Jalur Pantura khususnya ketika musim mudik. Bahkan berjualan saat musim mudik ia lakoni saat jalur Pantura masih satu lajur.

“Sudah lama banget, waktu masih jalan satu udah jualan. Tapi kalau punya warung tetap itu sekitar tahun 2008,” terangnya.

Ia menyebutkan, modal yang diperlukan untuk membuat warung sekitar Rp 2,5 juta, untuk membuat warung dan tempat istirahat dari bahan bamboo. Bahkan totalnya bisa mencapai Rp 5 Juta dengan modal makanan berat, ringan serta beragam minuman.

“Untungnya itu bisa Rp 1 juta hingga Rp 1,5 juta, tapi itu uang berputar ya. Biasanya saya 5 hari jelang lebaran sama 2-3 hari pas arus balik. Nah kalau seperti itu tuh sudah balik modal dengan keuntungannya. Ya itung-itung untuk lebaran anak,” terangnya.

Sementara itu rekan Ahmad, Iwan Sodikin menuturkan, selain untuk keperluan membantu pemudik yang melakukan perjalanan jauh, terkadang keberadaan warung juga memberikan dampak sosial.

“Kita kadang tidak hanya berjualan aja. Kadang ada pemudik kecelakaan kita bantu, pemudik lelah istirahat disini. Sama-sama membantu sebetulnya,” ucap Iwan yang sedang membantu Ahmad mendirikan warung.

BACA JUGA:  Antisipasi Teror, Kapolri Berlakukan Buddy System

Bahkan kata Iwan, pada tahun kemarin rekannya Ahmad sempat dititipi motor oleh pemudik.Baik itu yang kecelakaan maupun karena alami kendala mogok.

“Intinya kepercayaan aja, jadi diambilnya pas mereka arus balik. Ada yang sama keluarga naik mobil kesini terus ambil motornya juga ada,” terangnya.

Sementara itu, pemilik warung yang tidak jauh yakni Ma Enok mengatakan, musim mudik juga membawa berkah tersendiri bagi usaha warungnya. Ma Enok sendiri telah memiliki warung tetap selama setahun terakhir.

“Baru lebaran kemarin buka sampai sekarang tidak dibongkar lagi, kalau hari-hari biasa ya buka tapi sampai sore. Lumayan untungnya sehari-hari juga. Kalau lebaran gini ya bisa sampai Rp 2 juta,” jelas Ma Enok.

Ma Enok menuturkan, yang biasanya paling laku saat musim mudik adalah es kelapa serta makanan seperti mie.

Adanya warung dadakan di sepanjang Jalur Pantura dalam momen arus mudik dan arus balik selalu menjadi penghias momen dan tradisi jelang hari raya. Sebab, keberadaan warung selain membantu pemudik juga memberikan dampak ekonomi yang cukup dirasakan penjual warung dadakan tersebut. (ygi/dan)