Warga Pusakaratu Demo Kontraktor, Tuntut Perbaikan Rumah Retak

DESAK PERBAIKAN: Sejumlah warga Desa Pusakaratu menuntut perbaikan rumah terdampak dari tes pile pemasangan tiang pancang, akes jalan menuju Pelabuhan Patimban, kemarin (30/11). YOGI MIFTAHUL FAHMI/PASUNDAN EKSPRES

PUSAKANAGARA-Puluhan warga Desa Pusakaratu datangi titik 0 pembangunan akses jalan menuju Pelabuhan Patimban. Mereka datang untuk menyuarakan aspirasi, dari dampak adanya pembangunan yang dikeluhkan warga.

Seperti diketahui pertengahan Oktober lalu, saat dilakukan tes pile pemasangan tiang pancang, sekitar 57 rumah warga di Dusun Ciawitali RT19/RW04 Desa Pusakaratu mengalami retak-retak, diantaranya 4 tembok rumah warga juga runtuh.

Hal itu terjadi akibat besarnya getaran yang dihasilkan akibat pemasangan tiang pancang. Setelah, hampir 1 bulan setengah pasca rusaknya rumah warga itu, proses perbaikan rumah wargapun masih belum tuntas, akibatnya warga menuntut untuk segera dilakukan perbaikan/konpensasi.

Meskipun telah dilakukan beberapa kali mediasi antara kontraktor, warga serta pemerintah desa. Namun masih belum ada hasil.

Koordinator Aksi Tarlam mengatakan warga meminta PT Shimizu untuk segera menanggapi tuntutan warga. Selain itu, warga juga berharap ada solusi mengenai permasalahanm itu, seperti polusi udara serta kebisingan dari dampak pembangunan akses jalan.

“Kami ini datang tidak menuntut banyak hal, hanya minta rumah-rumah yang retak dan runtuh diperbaiki,” kata Tarlam.

Manager HSE PT Shimizu Pantja Nugraha mengaku, pihaknya memahami inti dari aksi atas keluhan-keluhan serta masukan dari warga. Ia juga mengungkapkan secepatnya akan memfollow up masukan warga, soal perbaikan dan relokasi bagi warga yang rumahnya terdampak tes pile tiang pancang.

“Kita akan follow up lagi sebelum pemancangan itu dilakukan, sebetulnya beberapa rumah juga sudah diperbaiki satu persatu dan masih terus berjalan” jelasnya.

Pantja juga sangat concern terhadap keinginan warga yang ingin dilakukan sosialisasi mengenai pembangunan akses jalan. Sebab keselamatan, kesehatan dan keamanan juga jadi hal yang menjadi perhatian dari kontraktor.

Sementara itu, Kepala Desa Pusakaratu Aan Ana mengatakan, aksi tersebut merupakan bentuk protes secara murni, dari warga yang menuntut soal AMDAL. Sebab saat tes pemasangan tiang pancang banyak rumah warganya yang mengalami retak-retak, serta sebagian tembok warga juga ada yang runtuh. “Hampir dua bulan belum ada penyelesaian,” ucap Aan.

Perwakilan Kementrian PUPR Febian yang hadir juga berencana untuk mencari jalan keluar atas permasalahan ini lewat mediasi. “Kita setelah ini akan lakukan mediasi dan pertemukan warga dengan kontraktor. kita bicara jalan keluarnya lewat mediasi,” ungkapnya.

Lalu, H Hermansyah salah satu tokoh Pantura juga mengaku prihatin dengan kondisi rumah warga yang retak yang hampir 2 bulan ini belum ada penyelesaian. Ia sendiri menuntut pihak kontraktor untuk tidak menganggap spele, hanya karena segelintir masyarakat saja yang datang.
“Saya lihat ini di medsos sudah lama, tapi sampai sekarang saya lihat belum selesai juga. Ini warga yang terdampak toh loh, jangan dispelekan,” ungkap Hermansyah.

Menanggapi aksi ini sesuai saran dari Kapolsek Pusakanagara Kompol Undang Sudrajat SH,PPK Kementrian PUPR, Kontraktor PT Shimizu, PT PP, Pemerintah Desa Pusakaratu serta masyarakat langsung menggelar mediasi.

untuk mencari jalan penyelesaian. Masyarakat menuntut akan datang lagi dengan massa lebih banyak, jika masih belum ada penyelesaian. Selain itu masyarakat juga menuntut untuk penghentian aktivitas sementara, bila masih belum ditemukan titik temu. (ygi/dan)