Tradisi Siraman Panjang Jaga Kearifan Lokal

Abdi dalem Keraton Kasepuhan melakukan tradisi siraman panjang di Bangsal Pungkuran, Keputren Keraton Kasepuhan Cirebon, Kamis (15/11). JAMAL SUTEJA/RADAR CIREBON

CIREBON-Setiap peringatan maulid Nabi Muhammad SAW, Keraton-keraton di Cirebon mengelar tradisi panjang jimat atau pelal. Tak terkecuali di Keraton Kasepuhan. Sebelum tradisi panjang jimat, keluarga dan abdi dalem Keraton Kasepuhan melakukan Siraman Panjang. Tradisi ini dilaksanakan di Bangsal Pungkuran, Keputren Keraton Kasepuhan Cirebon, Kamis (15/11).

Dalam tradisi ini, puluhan benda pusaka kareton dibersihkan dengan cara dicuci dalam kolam besar. Benda-benda pusaka itu diyakini merupakan peninggalan masa Sunan Gunung Jati yang telah berusia ratusan tahun. Masyarakat pun ikut menyaksikan prosesi ini. Mereka juga meyakini air bekas cucian benda pusaka tersebut, memberi karomah tersendiri. Sehingga saling berebutan untuk mengambil air tersebut.

Siraman Panjang menjadi bagian salah satu dari rangkaian kegiatan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang digelar keraton-keraton di Cirebon. Puncaknya, bakal dilaksanakan tradisi Panjang Jimat yang merupakan kirab benda pusaka kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Saat Panjang Jimat itulah, piring yang dicuci dalam Siraman Panjang akan dijadikan tempat nasi jimat. Sementara, guci akan diisi air serbat yakni air gula yang kemudian akan dibagikan kepada wargi dan masyarakat.

Tradisi siraman panjang diawali ketika para kaum dan abdi dalem membawa benda-benda pusaka dari tempat penyimpanan di gudang pusaka, di bagian belakang Bangsal Keraton Kasepuhan. Semua benda itu dibungkus dengan kain putih. Di Bangsal Pungkuran Keputren, semua benda pusaka diletakkan di atas meja. Di tengah ruangan, terdapat sebuah bak kayu berisi air, sementara keluarga dan kerabat keraton duduk mengelilinginya. Satu per satu benda pusaka dicuci lalu dilakukan doa bersama.

Sultan Sepuh Kasepuhan XIV, PRA Arief Natadiningrat mengatakan, air dalam prosesi Siraman Panjang mengandung makna penting, terutama dalam ajaran Islam. Hampir semua makhluk hidup berunsur air. “Dalam Islam, media air penting. Setidaknya 80 persen tubuh makhluk hidup berupa cairan,” ungkap Arief, kepada Radar Cirebon.

Tak hanya itu, Nabi Muhammad SAW selalu mendoakan orang sakit dengan media air. Inilah sebabnya di Mekkah terdapat air zamzam. Menurut dia, sebuah penelitian pernah menyatakan, air yang dicampurkan dalam kata-kata yang baik, strukturnya akan berubah menjadi baik pula. Tak heran jika, masyarakat berebut air bekas cucian dari benda pusaka. “Pada setiap piring yang dicuci dalam tradisi ini, terdapat kaligrafi yang tercetak di permukaannya,” ujarnya.

Kaligrafi tersebut berisi kalimat-kalimat baik, seperti halnya syahadat maupun selawat. Dengan begitu, lanjutnya, diyakini kalimat baik tersebut berimbas pula pada air yang digunakan untuk membasuh piring dan benda pusaka lainnya. (jml)