Ulfa, Balita Penderita Benjolan di Kepala Butuh Bantuan Dana

SUBANG-Sungguh kasihan balita bernama Ulfa Nur Fitriani. Sakit benjolan di kepalanya belum kunjung ditangani oleh pihak rumah sakit.

RSUD Subang dan RS Siloam yang sudah didatangi orang tua balita tersebut tidak mampu menangani. Termasuk RS Hasan Sadikin Bandung, yang hingga kini belum menangani balita tersebut.

Ulfa Nur Fitriani merupakan anak dari pasangan Eman Suherman (25) dengan Eka Komariah (25), warga Blok Jalitri Panglejar RT36/09 Kelurahan Karanganyar Subang.

Eman Suherman orang tua korban mengatakan, Ulfa Nur Fitriani berusia 8 bulan sejak lahir telah mengalami sakit karena ada benjolan di kepalanya.
Eman mengungkapkan, benjolan yang ada di kepala anaknya itu, awalnya kecil. Namun semakin lama semakin membesar.

Eman yang kesehariannya hanya menjadi sopir, tidak sanggup membayar biaya pengobatan anaknya itu, yang sudah di bawa ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Ciereng Kabupaten Subang.
Karena tidak sanggup pihak RSUD Ciereng Subang, karena alasan minimnya peralatan, kemudian anaknya itu di bawa ke Rumah Sakit Shiloam Purwakarta.

Hasilnya pun sama, kemudian dirujuk ke RSHS Bandung. Berdasarkan hasil diagnosa dokter RSHS, bahwa Ulfa mengalami retak tulang kepala di bagian atas, sehingga cairan otak keluar, dan membentuk benjolan.

“Ya kami sudah berupaya agar anak saya ini bisa sembuh, meski jujur saya tidak memiliki uang untuk mengobati anak saya ini sampai sembuh. Tetapi kami sudah mencoba membawanya ke RSUD Ciereng Subang, kemudian ke RS Shiloam Purwakarta dan terakhir ke RSHS Bandung,” ujar Eman kepada awak media, Minggu (9/2).

Eman mengatakan, sampai hari ini ia menunggu jawaban dari RSHS Bandung, yang berjanji akan menindaklanjuti penyakit anaknya ini. Tetapi sudah empat bulan ini, tidak juga ada kejelasan dari RSHS

BACA JUGA:  ACT dan MRI Salurkan 32.000 Liter Air Bersih

“Saya sempat tanyakan ke RSHS, jawabannya RSHS juga tidak memiliki peralatan untuk melakukan operasi, dan alasan lainnya, RSHS mengalami krisis keuangan akibat klaim BPJS yang sampai saat ini, belum di bayarkan. Tapi RSHS sempat menjanjikan, ke kami menunggu panggilan dari RSHS,” terangnya.

Eman mengatakan, harus tersedia uang sekitar Rp300 juta untuk biaya pengobatan anaknya itu.

Raja LAK Galuh Pakuan Rahyang Mandalajati Evi Silviadi yang menerima keluhan itu mengaku prihatin. Ia merasa terketuk hatinya untuk membantu kesembuhan Ulfa.

Evi juga menyayangkan pihak RSHS, yang lamban dalam menangani pasien. Terlebih BPJS yang didewakan pemerintah, tidak bisa berbuat banyak.

“Hak sehat, dan dilayani dengan baik oleh rumah sakit dan BPJS, merupakan hak dari setiap warga negara,” pungkasnya.(ysp/hba)