Dua Wanita Edarkan Obat Aborsi, Dijual Secara Online di Media Sosial

RINGKUS PELAKU: Petugas Satuan Reserse Kriminal Polres Cimahi menggiring pelaku pembuat tembakau gorila menuju ruang tahanan di Mapolres Cimahi. EKO SETIONO/PASUNDAN EKSPRES

CIMAHI-Polres Cimahi menangkap dua orang wanita yang berperan sebagai perantara serta penjual obat penggugur kandungan ilegal atau aborsi. Biasanya, para tersangka menjual obat mematikan itu kepada kalangan remaja di wilayah Jawa Barat dan Jakarta.

Mereka ditangkap di tempat berbeda, LY (31) diamankan di Kampung Sukanagara Desa Pagerwangi Kecamatan Lembang Kabupaten Bandung Barat (KBB). Sedangkan SA (26) di Jalan Batu Nunggal Indah Kecamatan Bandung Kidul Kota Bandung.

Kepala Satuan Reserse Narkoba Polres Cimahi, AKP Andri Alam mengungkapkan, kasus jual obat aborsi tersebut terungkap setelah polisi menerima informasi terkait maraknya aksi pengguguran kandungan menggunakan obat tersebut.

“Tim kemudian melakukan penyelidikan, akhirnya identitas tersangka LN bisa diketahui, anggota kemudian menyamar sebagai pasien. Setelah cukup bukti, LN akhirnya diamankan. Setelah dilakukan introgasi, LN mengaku menerima obat tersebut dari tersangka SC yang kemudian ditangkap di Kota Bandung,” ungkap Andri di Polres Cimahi, Selasa (8/9).

Kedua tersangka sudah tiga tahun mengedarkan obat aborsi yang diperoleh dari seseorang di Jakarta, LN dan SC biasa menjualnya secara online memanfaatkan media sosial Facebook. Sejauh ini ada sekitar 300 orang yang sudah memesan dan membeli obat penggugur kandungan tersebut. “Untuk harga per sepuluh butir dijual Rp 2,5 juta. Para tersangka memperoleh keuntungan secara berjenjang sebesar Rp 2,1 juta dari modal dasar Rp 400 ribu per sekali transaksi,” bebernya.

Tiga tahun lalu sebelum mengedarkan obat, dia menyebut, salah satu tersangka pernah mencoba dan berhasil mengugurkan kandungannya. Karena obatnya manjur, lalu tersangka menjualnya. “Rata-rata pemesannya usia remaja yang belum memiliki ikatan pernikahan dan usia kandungannya di bawah 4 bulan,” ujarnya.

Ditempat yang sama, Kabid Humas Polda Jabar, Kombes Pol Erdi Adrimurlan Chainiago menambahkan, bisnis yang dijalankan keduanya jelas terlarang alias ilegal. Sebab, BPOM sudah menyatakan bahwa obat keras tersebut sudah tidak dijual secara bebas. “Namun kenyataannya, peredaran masih dilakukan secara online,” terangnya.

BACA JUGA:  Setelah Laporkan KD, Ayu Ting-Ting Bersiap Diperiksa

Sejumlah barang bukti turut diamankan polisi, di antaranya 17 butir tablet cytotec misoprostol 200 mg (pengugur kandungan), 18 butir metformin HCL 500 gram (pembersih setelah janin keluar) dan 18 analgesyc diclofenac sodium (penahan rasa nyeri). Mereka terancam hukuman 15 tahun penjara karena melanggar Pasal 196 dan 197 Undang-undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan.

Sementara itu, LY mengaku awalnya mencoba obat penggugur kandungan untuk pengobatan kanker payudara pada 2017 lalu. “Dulu saya membeli obat aborsi karena pernah sakit kanker,” kata LY.

Tergiur dengan keuntungan yang didapat, LY lalu mencoba jadi perantara dan menawarkan obat yang disebut mampu menggugurkan kandungan yang tidak diinginkan di media sosial. “Ada teman yang tanya-tanya soal obat ini. Setelah dicoba, ada yang gagal, ada juga yang berhasil. Terakhir kali menjual bulan Juni lalu, dua-duanya gagal,” ucap LY.

Sebelumnya, Satuan Reserse Narkoba Polres Cimahi melakukan penggerebekan pada kamar kosan yang dijadikan pabrik tembakau gorila atau ganja sintetis di Jalan Terusan Babakan Jeruk 1 Kecamatan Sukasari, Kota Bandung.

Dalam penggerebekan ini, polisi mengamankan seorang pemuda 19 tahun berinisial RY yang berperan sebagai pembuat sekaligus pengedar tembakau gorila. Berikut dengan alat bukti peracik serta tembakau yang siap edar.

Dari hasil pemeriksaan, pabrik berkala industri rumahan itu menyuplai narkotika untuk wilayah Jawa dan Sumatera. Tersangka sudah menjalankan produksinya selama 2 tahun dengan omset mencapai Rp500 juta.

“Pengungkapan kasus ini berawal dari penangkapan pengguna di wilayah hukum Polres Cimahi. Dari sana, tim Reserse Narkoba melakukan pendalaman, penyelidikan selama tiga minggu dan akhirnya menangkap seorang tersangka RY di wilayah Bandung,” kata Kapolres Cimahi, AKBP Yoris Maulana Yusuf Marzuki di lokasi.

BACA JUGA:  14 Bandar Narkoba Dibekuk Satres Narkoba Polres Karawang

Yoris mengatakan, RY belajar sendiri membuat serta meracik tembakau gorila dari menonton Youtube. Sebelum diamankan polisi, tidak ada satu pun orang yang mengetahui aksi tersangka. “Selepas SMA, tersangka tidak kuliah dan tidak punya pekerjaan lain. Bahkan aktivitas sehari-hari tersangka tidak ada yang tahu, mereka (warga) baru tahu saat kami lakukan penangkapan,” bebernya.

Dalam sekali produksi, ungkap Yoris, tersangka bisa menghasilkan 5 kilogram tembakau gorila yang kemudian dikemas dalam berbagai ukuran mulai dari 5-25 gram. Setelah itu, barangnya diedarkan melalui media sosial seperti Instagram, Line dan WhatsApp. “Untuk per paket 5 gram dijual Rp 400 ribu, selama dua tahun produksi, tersangka telah meraup untung sekitar Rp 500 jutaan,” jelasnya.

Atas perbuatannya, tersangka dikenakan Pasal 112 dan 113 Undang-undang RI Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika dengan ancaman hukuman 10 tahun atau maksimal hukuman mati.

Kasat Reserse Narkoba Polres Cimahi, AKP Andri Alam menambahkan, tersangka sudah memiliki pelanggan tetap. Barang yang sudah dipesan pelanggan biasanya dikirim menggunakan jasa ekspedisi maupun sistem tempel. “Untuk mengelabui jasa ekspedisi, barang tersebut diselipkan dalam kain supaya enggak terdeteksi. Jadi pura-puranya dia ngirim kain,” terangnya.(eko/sep)