Memotret Perjalanan Implementasi Kurikulum Merdeka

Memotret Perjalanan Implementasi Kurikulum Merdeka
0 Komentar

Oleh:
Agus Prasmono, M.Pd. (Kepala SMAN 1 Parang, Magetan, Jawa Timur)

Menjelang dua tahun perjalanan Implementasi Kurikulum Merdeka (IKM) yang diharapkan bisa memerdekakan Guru dalam mengembangkan ilmu dan membina karakter peserta didik, berkembanganya peserta didik sesuai dengan bakat, minat dan potensi yang dimilikinya, juga materi pelajaran yang akan dipelajari dipilih oleh peserta didik sendiri. Pembelajaran merupakan sebuah proses pendampingan pencarian ilmu dan sebuah ekplorasi oleh guru untuk mengembangkan bakat dan minat serta potensi yang dimiliki oleh perserta didik. Peserta didik diharapkan tumbuh dan berkembang dengan potensi yang dimiliki bukan sekedar berdasar kurikulum yang disajikan dan bagaimana sang guru menyajikan begitu saja. Beberapa sekolah sudah memasuki tahun kedua dalam implementasi IKM ini tentunya ada beberapa catatan penting tentang erjalanan itu.

Setelah berjalan sekian waktu, penulis mencermati ada beberapa catatan perjalanan Kurikulum Merdeka yang masih perlu dibenahi di jalan sebelum mencapai jalan yang lebih mulus lagi.

Baca Juga:Polres Karawang Identifikasi Sembilan Pelaku Tawuran PelajarBKPSDM Karawang Panggil Sekdistan Tegur ANT

Pertama, pemahaman guru tentang Kurikulum Merdeka itu sendiri ternyata masih banyak yang belum utuh. Sosialisai Kurikulum Merdeka yang dirasa oleh guru sangat kurang oleh sebagian guru atau bisa diartikan guru itu sendiri yang kurang mencari tahu tentang apa itu kurikulum merdeka, sehingga pemahaman guru belum utuh tentang Kurikulum Merdeka.

Pemerintah berharap kerikulum Merdeka dikembangkan bersamaan dengan adanya peluncuran Guru Penggerak (GP), namun implementasi guru penggerak tidak semuanya sebaik yang diharapkan . Ada yang giat mengembangkan kurikulum merdeka di lembaganya namun tidak sedikit yang apatis hanya dipakai sendiri tidak dikembangkan kepada orang lain.

Bisa saja yang dipakai sendiri ini karena oleh Kepala sekolah kurang diberi ruang gerak yang leluasa sehingga tidak bisa mengembangkan dengan baik ilmu yang sudah didapat. Bisa jadi memang tipe Guru Penggerak yang terpilih berdasar tes dan pelatihan tersebut, dia kurang mampu mengembangakan dan menyampaikan tentang kurikulum merdeka dengan baik kepada orang lain walau sekedar sesama guru dalam satu sekolah. Akan lebih parah lagi kalau dalam sekolah itu tidak ada guru yang menjadi guru penggerak.

0 Komentar