Jenis Baru, Ganja Diolah Jadi Kopi dan Susu Bubuk Cokelat

JAKARTA – Narkoba jenis baru muncul lagi. Kali ini narkotika jenis ganja yang diolah menjadi bubuk susu cokelat.

Narkotika ganja yang diolah menjadi bubuk susu cokelat berhasil diungkap aparat Satuan Reserse Narkoba Polres Metro Jakarta Selatan. Narkoba jenis baru itu berasal dari Aceh.

“Jadi kasus narkoba ini cukup unik, ganja dikemas dalam bentuk susu serbuk cokelat,” kata Kapolres Metro Jakarta Selatan Kombes Pol Budi Sartono, di Polres Jakarta Selatan, Seperti dilansir dari Radar Cirebon.

Diungkapkannya, terbongkarnya kasus tersebut berawal dari penangkapan seorang pengedar berinisial KA. Pelaku ditangkap pada Jumat, 11 Desember 2020 di daerah Cipete, Jakarta Selatan. Dari tangan pelaku, petugas mendapatkan barang bukti susu bubuk cokelat. Saat dilakukan pengujian di laboratorium forensik ternyata bubuk susu tersebut mengandung ganja.

“Dari pengakuan KA, dia memesannya kepada seseorang berinisial SN yang ada di Aceh,” ungkap Budi.

Informasi tersangka kemudian dikembangkan. Polisi kemudian menelusuri keberadaan SN di Aceh, hingga melakukan penangkapan di rumahnya di Kabupaten Aceh Besar pada Kamis, 17 Desember 2020.

“Dari tangan kedua tersangka, kami mengamankan barang bukti berupa susu ganja seberat 4.831 gram, kopi ganja seberat 1.718 gram, dodol ganja seberat 1.870 gram dan ganja murni seberat 1.267 gram,” beber Budi.

Pada kesempatan yang sama, Kasat Narkoba Polres Metro Jakarta Selatan, Kompol Wadi Sa’bani mengatakan, peredaran susu ganja tergolong modus baru. Pelaku membuat susu ganja, kopi ganja dan dodol ganja dengan komposisi seimbang (50:50) yakni 50 ganja dan 50 persen bahan lainnya.

“Efeknya bagi pengguna bisa langsung teler pilek muntah-muntah pusing. Sama seperti efek ganja pada campuran makanan seperti biasanya, selalu ada efeknya,” kata Wadi.

Kedua tersangka bakal dijerat pasal berlapis. Sebab keduanya berperan sebagai pengedar dan memproduksi.

Pasal yang disangkakan yakni Pasal 114 ayat (2) Susidair Pasal 111 ayat (2) Subsidair Pasal 113 ayat (2) Undang-Undang No 35 Tahun 2009 tentang Narkoba dengan ancaman maksimal hukuman mati atau minimal lima tahun.

Terpisah, Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Heru Winarko mengatakan, selama periode 2020, pihaknya berhasil mengungkap 88 jaringan sindikat narkotika domestik dan internasional.

“Sebanyak 88 jaringan sindikat telah berhasil diungkap di mana 14 di antaranya merupakan jaringan sindikat berskala internasional,” ujarnya.

Dijelaskannya, dari para jaringan sindikat tersebut pihaknya berhasil mengungkap 806 kasus tindak pidana narkotika dengan total tersangka sebanyak 1.247 orang.

“Jumlah barang bukti yang disita 1,12 ton sabu, 2,36 ton daun ganja, dan 340.357 butir ekstasi,” ungkapnya.

Tidak hanya itu, lanjut Heru, pada 2020 BNN juga telah memusnahkan lahan ganja dengan total luas mencapai 30,5 hektare. Sedangkan barang bukti tanaman ganja yang dimusnahkan sebanyak 213.045 batang.

Dikatakannya, pihaknya terus berupaya menelusuri kejahatan narkotika dengan menelusuri tindak pidana kasus pencucian uang (TPPU) dari kasus narkotika. Berdasarkan aset yang berhasil disita BNN dari TPPU kasus narkotika pada 2020 mencapai Rp86.022.409.817.

“Dari hasil pengungkapan dan penyitaan barang bukti narkotika, BNN telah berhasil menyelamatkan sebanyak 1,7 juta jiwa anak bangsa,” ujarnya.

Ditambahkannya, berdasarkan analisis yang dilakukan BNN, penyelundupan narkotika melalui jalur laut masih menjadi primadona pada 2020.

“Oleh sebab itu BNN berupaya kuat membangun sinergitas khususnya di wilayah laut dengan melakukan operasi laut interdiksi terpadu bersama instansi terkait seperti Bea Cukai dan Polair,” katanya.(fin/ded)