Pakar Komunikasi Dr Aqua Dwipayana Beri Banyak Kejutan Menyenangkan pada Senior

SILATURAHIM:Pakar Komunikasi Dr Aqua Dwipayana dengan seniornya yang juga mantan Redaktur Jawa Pos Santoso

MADIUN-Berbagai kejutan menyenangkan beruntun diberikan Pakar Komunikasi dan Motivator Nasional Dr Aqua Dwipayana kepada seniornya Santoso (65 tahun). Mantan wartawan Jawa Pos yang sejak 2006 memutuskan pulang kampung ke Madiun dari Malang. Setelah sebelumnya lama tinggal di Surabaya, Jawa Timur.

Kejutan pertama terjadi pada Minggu malam, 13 Juni 2021. Sekira pukul 20.00 tiba-tiba Dr Aqua sudah berada di depan rumah Santoso di Perumahan Kartoharjo Indah Kota Madiun.

Sebelumnya mendahului anggota Lalu Lintas Polres Madiun Kota Aipda Siswanto mendatangi rumah tersebut. Memastikan bahwa itu adalah rumah Santoso.

Selama lima hari di Jawa Timur Dr Aqua ditemani Siswanto. Dijemput pada Minggu siang, 13 Juni 2021 di Bandara Adi Soemarmo Solo, Jawa Tengah. Kemudian diantar ke Bandara Juanda Surabaya di Sidoarjo hari Kamis, 17 Juni 2021 setelah menginap semalam di Malang. Bersama wartawan senior Nurcholis MA Basyari, laki-laki kelahiran Pematang Siantar, Sumatera Utara, 23 Januari 1970 itu melanjutkan perjalanan ke Bandung untuk silaturahim.

‘’Apa benar ini rumah Pak Santoso?” Tanya Siswanto kepada cucu Santoso, Davi Pratama Putra yang sedang berada di teras.

Mendengar namanya disebut, Santoso yang sedang menulis di depan komputer di studio mininya langsung keluar.

Santoso kaget sekali karena ternyata yang di depannya adalah Dr Aqua. Salah seorang wartawannya saat menjadi redaktur di harian Jawa Pos. Mereka sudah sekitar 31 tahun tidak ketemu. Terakhir jumpa akhir Desember 1990.

“Ya Allah Mas Aqua,’’ begitu Santoso berteriak. “Ini benar-benar kejutan!” Lanjutnya dengan wajah sumringah.

Santoso langsung bisa menebak yang di depannya Dr Aqua dari dua buku “super best seller” berjudul “Humanisme Silaturahim Menembus Batas: Kisah Inspiratif Persahabatan Aqua Dwipayana-Ventje Suardana (Satu Kesamaan Yang Mampu Mengatasi Sejuta Perbedaan)” serta “Berkarya dan Peduli Sosial Gaya Generasi Milenial: Kisah Inspiratif Dua Bersaudara Alira-Savero Dwipayana Bergiat untuk Sesama” yang disodorkan kepadanya.

BACA JUGA:  Menipu Ngaku Bisa Gandakan Uang Rp2 Miliar, Mbah Dukun Dihabisi Korbannya

Santoso mengajak Dr Aqua masuk ke rumahnya. Kemudian dikenalkan kepada istrinya Herry Siswati (64 tahun).

“Mas Aqua ini dulu badannya kurus. Sekarang gemuk. Hidupnya sejahtera. Kegiatan sosialnya luar biasa. Masya Allah… Sudah mengumrahkan ratusan orang,” kata bapak dua anak itu ke istrinya.

Herry berkomentar dengan mengatakan sering membaca berbagai tulisan Dr Aqua dan kiprahnya yang luar biasa di grup Whatsapp Cowas JP. “Saya suka membaca berita-berita tentang kegiatan Mas Aqua. Hebat! Ternyata sekarang ketemu langsung sama Mas Aqua,” ujarnya dengan wajah gembira.

Dua jam sebelumnya, sekira pukul 18.00, Santoso mendapat telepon dari wartawan senior Slamet Oerip Prihadi. Mengabarkan bahwa dia sedang berada di Sragen. Dalam perjalanan pulang ke Surabaya akan mampir ke rumah Santoso.

‘’Saya minta alamat yang jelas Mas San, sekalian Google map ya,’’ kata Slamet yang akan mampir sehabis salat Isya.

Ternyata yang datang bukan Slamet, tapi Dr Aqua. ‘’Saya memang wanti-wanti ke Mas Slamet agar tidak bilang kalau saya yang mau datang. Saya ingin membuat kejutan ke Mas Santoso,’’ kata Dr Aqua sambil tersenyum.

*Pemulihan dari Stroke*
Kepada Santoso, Dr Aqua menanyakan kegiatannya sehari-hari selain menulis. Spontan dijawab kakek empat cucu itu, “Saya dan istri setiap pagi jualan Nasi Kuning dan Nasi Uduk di rumah. Pembelinya lumayan banyak.”

Mendengar itu Dr Aqua kembali membuat kejutan. Langsung memesan Nasi Kuning sebanyak 200 kotak. Harga tidak dipermasalahkannya. Berapapun pasti dibayarnya.

“Saya pesan 200 kotak Nasi Kuning. Besok pagi sekitar pukul 08.00 diambil. Mau saya bagikan kepada para anggota Polres Madiun Kota buat sarapan mereka,” ujar bapak dari Alira Vania Putri Dwipayana dan Savero Karamiveta Dwipayana itu.

BACA JUGA:  Dunia Kesehatan Sambut Positif Kehadiran Vaksin COVID-19

Santoso dan istrinya kaget mendapat pesanan tiba-tiba sebanyak itu. Seakan tidak percaya. Mereka pandang-pandangan selama beberapa detik.

Karena pesanannya mendadak dan sudah malam, mereka menyatakan tidak siap membuat 200 kotak. Khawatir tidak mendapatkan bahannya.

Akhirnya disepakati 100 kotak. Begitu istri Santoso menyebutkan total harganya, Dr Aqua langsung membayar semuanya.

Kemudian mereka rundingan sejenak untuk pengadaan bahan-bahannya. Setelah itu Herry dan cucunya Davi pamit naik motor ke pasar untuk membeli 100 kotak dan kebutuhan lainnya.

Kejutan berikutnya saat mereka sedang berdua, Dr Aqua memberikan sejumlah uang kepada Santoso. Sebagai wujud penghormatan dari junior ke senior.

“Apaan ini Mas Aqua? Kok repot-repot? Makasih banyak ya,” kata Santoso sambil tersenyum.

Santoso menceritakan bahwa dirinya baru pemulihan dari sakit stroke. Keyakinan dan kegigihan yang membuatnya bisa lebih cepat proses penyembuhannya.

“Pada 11 September 2019, saat itu saya berangkat dari rumah untuk mengajar Jurnalistik di SDN 03 Nambangan Kidul. Saya naik motor. Kira-kira baru berjalan sekitar 2 km, tiba-tiba saja motor saya terasa oleng ke kiri,” jelas Santoso.

Dia melanjutkan, “Saya pikir ban roda depan gembos. Saya langsung berhenti di tambal ban yang tak jauh dari situ. Begitu berhenti, kaki kiri menginjak tanah, saya tidak kuat dan jatuh tertindih motor. Sejak saat itu saya langsung lumpuh separo kaki dan tangan kiri. Kena serangan stroke.”

Padahal selama ini laki-laki yang selalu gembira itu tak merasa gejala apa-apa. Rasanya sehat-sehat saja. Dalam kondisi itulah Santoso sempat depresi, mengingat ada salah seorang wartawan di Malang yang sampai 5 tahun belum pulih dari sakit stroke.

“Istri saya tiap hari bangun pukul 02.00 pagi agar bisa mempersiapkan jualannya. Setelah itu masih harus ngurusi saya, mandi, buang air besar, pakai pampers, dan lainnya,” terang Santoso.

BACA JUGA:  Direktur Gardiklat BPIP Ajak Kepala Sekolah Menguatkan Ideologi Pancasila di Sekolah

Kondisi Itulah yang menjadi motivasinya agar segera bisa pulih. Dengan berbagai upaya mandiri agar tidak merepotkan istri dan cucu-cucunya.

*Nulis Buku untuk Bayar Kontrakan*
Suatu hari ada seorang guru SMPN 12 Madiun yang datang ke rumahnya. Menanyakan soal ceramah literasi mandiri yang sudah dijadwalkan. Santoso langsung menyanggupi meski guru itu tidak yakin dirinya bisa karena sakit.

“Tapi saya tetap yakinkan guru tersebut bahwa saya mampu dan kuat. Padahal waktu itu saya baru saja bisa duduk. Itu pun masih dibantu,” ujar Santoso sambil mengenang perjuangannya.