Pentingnya Empat Pilar Literasi Digital

SERANG– Pembelajaran dengan metode dalam jaringan (daring) memberikan dampak, semakin ketergantungannya anak dengan gadget atau perangkat komunikasi digital (handphone). Disatu sisi, gadget sebagai alat bantu pembelajaran daring sangat dibutuhkan. Disisi lain, gadget memberikan beberapa dampak negative seperti adanya kecanduan anak terhadap gadget dan cyber bullying serta dampak negative lainnya. Karena itu untuk mengurangi dampak-dampak negative tersebut, masyarakat termasuk siswa harus memahami pilar literasi digital.
“Ada empat pilar literasi digital: digital skill, digital ethic, digital culture dan digital safety,” kata Dra. HJ. Umi Kulsum Umayah, M.Pd, narsum Intruktur Tingkat Provinsi Banten pada seminar: Menjaga Kualitas Belajar Dari Rumah (BDR) online di era pandemic pada Rabu 1 September 2021 lalu.
Menurut Umi yang juga Kepala MTs Negeri 1 Kota Serang Banten digital skill berkaitan dengan kemampuan pengguna gadget untuk memilih kontek-kontek yang berkualitas dan dibutuhkan. Termasuk didalamnya kemampuan untuk menyaring informasi yang bermanfaat dan hoaxs. Digital skill sanbgat dibutuhkan untuk membekali anak-anak agar tidak terjurumus dalam dampak negative gadget dan cyber bullying.
Menurut Umi yang merangkap sebagai Sekretaris Umum Yayasan Pesantren Darul Irfan Kota Serang, digital ethic berkaitan dengan bagaimana pengguna gudget mampu menjaga sopan santun dalam melakukan komunikasi virtual. Karena walaupun virtual, justru komunikasi di media sosial, sering kali melibatkan perasaan.
“komunikasi di medsos itu jangan “baperan” dan tetap harus menjaga etika,” kata Umi yang membawakan materi Etika Berdigital online bagi para siswa Madasah dan SMP Se Kab Tangerang Prov Banten. Seminar tersebut diikuti oleh kurang lebih 400 siswa madrasah dan SMP sekabupaten Tangerang.
Lebih lanjut Umi menjelaskan, digital culture berkaitan dengan kebiasaan kita menggunakan gadget dan berinteraksi melalui medis sosial. Umi menyarankan kepada siswa dan orang tua agar dari 24 jam dalam sehari, penggunaan gadget bisa dibatasi. Hal ini berkaitan dengan kebiasaan siswa dan masyarakat yang mulai dari bangun tidur sampai tidur hampir tak lepas dari gadget. Menurut Umi hal ini sangat tidak baik bagi kelangsungan hubungan komunikasi dengan keluarga.
“Digital safety berkaitan dengan bagaimana kita bisa aman dari tindak cyber bullying, aman dari membuka kontek-kontek yang tidak sehat atau konten yang membawa pengaruh paham intoleran. Dan ini penting diketahui oleh semua. Sebab faktanya media sosial menjadi salah satu sarana penyebaran kebencian, paham intoleransi dan kadang menimbulkan konflik,” pungkasnya.(rls/ded)

BACA JUGA:  Demokrat: Bukti yang Diberikan Moeldoko di Pengadilan Tidak Nyambung