ADAPTASI PENDIDIKAN DI ERA NEW NORMAL

Oleh: Ninik Wijayanti,

MAN 1 Magetan

Pandemi COVID-19 belum berakhir, bahkan Badan Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan pandemi ini tidak akan berakhir dengan cepat. Untuk itu diharapkan masyarakat dalam segala bidang kehidupan bersiap beradaptasi membiasakan diri hidup berdampingan dengan COVID-19. Inilah cara baru untuk tetap survive di tengah meningkatnya korban pandemi COVID-19, yang terkenal dengan istilah New Normal. Era New Normal adalah kebijakan membuka kembali aktivitas ekonomi, sosial dan kegiatan publik secara terbatas dengan menggunakan standar kesehatan yang sebelumnya tidak ada, sebelum pandemi. New normal merupakan upaya menyelamatkan hidup warga dan menjaga agar negara tetap bisa berdaya menjalankan fungsinya (Sitorus, 2020).

Dengan demikian roda perekonomian masyarakat tetap berjalan, masyarakat tetap bisa mencari nafkah. New normal merupakan tahapan baru setelah kebijakan Work From Home atau pembatasan sosial diberlakukan untuk mencegah penyebaran masif wabah virus corona.

Mendikbud menilai usai pandemi akan terjadi perubahan besar pada dua sektor sosial, yaitu pendidikan dan kesehatan. Seperti juga disampaikan olehCiput Eka Purwianti, Asisten Deputi Perlindungan Anak dalam Situasi Darurat dan Pornografi Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) dalam webinar, Kamis (28/5/2020), “Peran institusi pendidikan sudah pasti, jelas para guru harus siap remodeling sistem belajar di kelas”.

Menuju adaptasi pendidikan di era New Normal ini masing-masing sekolah/madrasah harus mulai berbenah diri menyiapkan diri dalam penyelenggaraan pendidikan di Era New Normal. Apalagi sekarang musimnya penerimaan siswa baru maka Proses Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB). mulai dari pendaftaran calon siswa baru, ujian seleksi dan pengumuman kelulusan dilakukan secara online.Jika tetap harus dilaksanakan secara langsung, harus mengikuti protokol kesehatan yang ketat.

Penyelenggaraan pembelajaran di sekolah/madrasah tetap harus memperhatikan protokol kesehatan dimana pada prinsipnya menghindari kerumunan dan harus membiasakan hidup sehat. Untuk itu mungkin tepat kiranya ide yang diusulkan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) dalam perumusan protokol new normal di sekolah, untuk memperpendek jam pelajaran menjadi 4 jam belajar dan menghilangkan jam istirahat.

Hal itupun menurut saya juga perlu dilakukan bergiliran masuknya. Bagi sekolah setingkat SMP/MTs atau SMA/MA yang terdiri dari tiga tingkat dan tiap tingkat terdiri banyak kelas bisa diberlakukan jadwal dalam satu minggu 6 hari itu dibagi masuknya untuk tiga tingkat. Jadi masing-masing tingkat mendapat jadwal masuk seminggunya dua hari.

Dalam satu hari untuk satu tingkat tersebut dibagidua sift. Sift pertama dimulai jam 06.30 – 09.30,sift kedua jam 10.30- 13.30. Ada jeda antar sift dimaksudkan supaya tidak ada tumbukan antar siswa yang pulang dan datang, sehingga bisa dihindari kerumunan. Untuk guru yang mengajar bila ada jadwal berkelanjutan juga bisa ada waktu untuk istirahat. Untuk jam belajar, 4 jam itu dilakukan secara terus menerus tanpa istirahat.

Untuk kondisi kelas juga harus didesain tempat duduk tidak terlalu rapat. Kalau idealnya pembelajaran dalam satu kelas ada 20 sampai 25 siswa maka itu sudah bagus untuk diterapkan juga pada kondisi sekarang. Jadi kelas tidak berjubel, ada jarak antar bangku.

Di sekolah/madrasah yang siswa perkelasnya banyak lebih dari 25 bisa dibagi menjadi 2 rombongan belajar, tentunya dengan jadwal pelajaran sama tetapi guru berbeda. Memang kelihatannya ribet dan perlu kerja keras untuk penanganannya, tetapi tidak apa-apa demi kenyamanan dan keselamatan siswa. Tiap kelas pun juga harus disediakan tempat cuci tangan beserta sabunnya, maupun di tempat-tempat lain diluar kelas yang sekiranya siswa sering disitu dan jauh dari kamar mandi.

Di depan sekolah/madrasah harus disediakan bilik steril (Disinfection Chamber) yang diletakkan pada gerbang utama pintu masuk, yang mana siswa diharuskan untuk masuk bilik steril (Disinfection Chamber)itu sebelum masuk ke area sekolah/madrasah. Bila di sekolah/madrasah ada pintu masuk lain selain gerbang utama bila memungkinkan ditiap pintu masuk harus disediakan bilik steril ini kalau tidak memungkinkan, karena terkendala biaya, maka keluar masuk area sekolah/madrasah dipusatkan pada satu titik yaitu gerbang utama. Bilik steril ini perlu dijaga karena mewaspadai siswa yang tidak mau masukbilik steril, sehingga bisa dipastikan bahwa siswa atau guru atau siapa saja yang masuk area sekolah/madrasah sudah dalam kondisi steril.

Pembelajaran bagi siswa sekolah di era new normal tentu membutuhkan adaptasi juga, menyesuaikan dengan waktu belajar yang tersedia dan protokol kesehatan. Kalau sebelumnya guru dan siswa sudah terbiasa pembelajaran virtual di era pandemi Covid-19, maka diera New Normal ini harus bisa menggabungkan metode pembelajaran tatap muka dan virtual.Karena jam tatap muka tidak full seperti biasa, maka guru harus kreatif dan inovatif untuk memanfaatkan waktu tatap muka yang pendek itu supaya benar-benar efektif dan efisien. Maka dari itu perlu dipilah-pilah sub bab – sub bab mana yang harus disampaikan dengan tatap muka mana yang tidak. Untuk pendalaman (tanya jawab) dan penugasan dilakukan secara virtual dengan melalui E-Learning sekolah/madrasah atau lewat whatsapp dan email.

Pembelajaran di Era New Normal ini dalam pelaksanaannya membutuhkan komunikasi dan kerjasama antara pihak sekolah/madrasah dengan orangtua siswa sehingga ada pengertian dan pemahaman serta pendampingan kepada siswa dari orang tua. Karena era New Normal ini juga tidak bisa diprediksikan kapan menjadi normalnya. Jangan sampai ada kesalah pahaman dari orang tua siswa terkait dengan melonjaknya dana untuk kebutuhan pembelajaran virtual ini.

Pandemi COVID-19 banyak memberikan pelajaran bagi kita semua khususnya di bidang pendidikan, guru dan orang tua dituntut supaya membiasakan diri memanfaatkan teknologi untuk mencari informasi dan berkomunikasi. Dengan pemanfaatan tehnologi dalam pembelajaran, diharapkan pembelajaran akan lebih bisa diarahkan pada upaya perbaikan secara terus menerus, efektif-efisien, benar, dan objektif.