Akankah Ramadan di Depan Mata Indah?

Oleh : Yanyan Supiyanti, A.Md
Pendidik Generasi Khoiru Ummah, Member AMK

Sedih. Menyambut bulan suci Ramadan 1441 Hijriyah kali ini terasa berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Biasanya orang-orang sebelum memasuki bulan Ramadan, mereka mempersiapkan diri dengan riang gembira. Seperti membersihkan rumah dan lingkungan hingga mencat rumahnya dan pagar, ada juga yang membeli baju lebaran agar saat Ramadan khusyuk beribadah, ada yang membeli sembako untuk persediaan makan sahur dan berbuka, dan lain sebagainya. Akankah Ramadan tahun ini indah meski di tengah wabah?

Penyebaran virus corona secara global terus mengalami peningkatan, baik dari jumlah kasus maupun pasien yang sembuh. Dilansir dari data Worldometers hingga Selasa (14/4/2020) pagi, jumlah kasus positif virus corona telah menginfeksi hampir dua juta orang. Lebih tepatnya 1.920.057 orang di dunia telah dinyatakan positif covid-19. Sementara itu, sebanyak 443.732 orang yang sebelumnya positif virus corona telah dinyatakan sembuh.

Ramadan adalah bulan yang selalu dinanti oleh umat muslim di seluruh dunia. Karena di dalamnya penuh berkah, ampunan, serta dibukakannya pintu surga dan ditutupnya pintu neraka.

Suasana Ramadan yang syahdu, adanya rasa aman untuk beribadah dengan khusyuk, melaksanakan salat tarawih berjamaah di masjid, tadarus Al-Qur’an di masjid, berbagi takjil, dan lain sebagainya. Apakah semua itu bisa terwujud saat ini?

Musibah wabah corona, menyisakan kesedihan bagi umat muslim yang akan melaksanakan ibadah puasa Ramadan. Sebab, Ramadan tahun ini kemungkinan beribadah hanya di rumah saja. Masjid-masjid sepi dari jamaah salat, tadarus Al-Qur’an, kajian Islam dan lain-lain.

Tidak adanya rasa aman, ketakutan tertular dan ketakutan pada orang jahat, akibat dari dibebaskannya 30.000 narapidana lewat asimilasi kemarin.

BACA JUGA:  Narkoba Merusak Generasi

Kurangnya informasi dan edukasi pada masyarakat tentang virus corona ini. Menjadikan masyarakat saling curiga, hingga menolak jenazah yang meninggal akibat virus corona ini. Miris.

Bagaimana Islam memandang semua itu. Islam sebagai agama dan sistem kehidupan yang berasal dari wahyu Allah Swt., sudah membuktikan kemampuannya dalam menyelesaikan berbagai masalah kehidupan, termasuk dalam penanganan wabah yang melanda masyarakat.

Bercermin pada pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab yang pernah diuji Allah dengan dua musibah. Pertama, bencana kekeringan dan kelaparan yang terjadi di Madinah selama kurang lebih 9 bulan. Kedua, wabah tha’un amwas yang menyerang wilayah Syam, menelan korban hingga 30.000 orang.

Sekalipun ditimpa dua bencana besar, namun Khalifah Umar bin Khattab tidak kehilangan kendali. Beliau tetap menunjukkan karakternya sebagai seorang pemimpin yang bersegera menyelesaikan masalah rakyat yang menjadi tanggung jawabnya.

Kedua bencana tersebut dihadapi dengan solusi yang menyelesaikan. Bukan terletak pada sosok Khalifah Umar bin Khattab sebagai pribadi, namun disebabkan sistem aturan yang diterapkan oleh beliau, yakni sistem Islam, yang dilaksanakan secara sempurna mengikuti Rasulullah saw.

Solusi pertama, yaitu memadukan antara akidah dan syariah. Musibah itu disikapi dengan penuh keimanan dan qanaah dalam menerimanya. Betapa lemahnya manusia dan Maha Kuasa nya Allah Swt. untuk meruntuhkan kesombongan manusia.

Kedua, adanya sinergi antara negara sebagai pelaksana hukum syariat yang dipimpin oleh pemimpin yang berkarakter mulia, dengan masyarakat yang melakukan amar makruf nahi mungkar, dan ditopang oleh ketakwaan individu rakyat.

Negara hadir sebagai penanggung jawab urusan umat. Negara senantiasa ada dan terdepan dalam setiap keadaan.

Seperti yang dicontohkan Khalifah Umar bin Khattab sewaktu menghadapi bencana kekeringan dan kelaparan. Beliau mengirimkan bantuan logistik ke Madinah. Beliau rela meninggalkan kebiasaan menikmati susu, minyak samin dan daging, beralih pada makanan yang sangat sederhana, dan menyeru pada keluarga serta rakyatnya supaya tidak hidup berfoya-foya. Hingga dalam suatu riwayat disebutkan bahwa kulit Umar menjadi menghitam karena hanya makan roti kering saja.

BACA JUGA:  Sel Mewah Lapas Sukamiskin Belum Banyak Perubahan

Dalam bencana tha’un amwas, Umar melakukan apa yang pernah disabdakan Rasulullah saw., “Jika kalian mendengar wabah di suatu wilayah, janganlah kalian memasukinya. Jika terjadi wabah di tempat kalian berada, janganlah keluar darinya.” (HR. al-Bukhari)

Inilah yang disebut karantina atau lockdown. Selama lockdown, negara menanggung kebutuhan dasar rakyatnya, termasuk hewan ternak milik rakyat.

Demikianlah, dalam sistem Islam, negara harus mengurusi urusan rakyatnya dengan serius. Keselamatan dan keamanan jiwa rakyat nomor satu.

“Amir (pemimpin) masyarakat adalah pemelihara dan dia bertanggung jawab atas (urusan) rakyatnya.” (HR. al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud, at-Tirmidzi dan Ahmad)

Ramadan akan indah, jika Islam diterapkan secara total. Semoga segera terwujud.

Wallahu a’lam bishshawab. (*)