Amanah

Kang Marbawi

Pojokan 92

Yudi Latief berkisah bahwa rasa syukur dan terima kasih melapangkan cakrawala kehidupan. Ia mengingatan kita dengan ketulusan hati, bukan angan ambisi. Membuat apa yang kita miliki jadi kecukupan, bahkan kelebihan. Penolakan jadi penerimaan, kekalutan menjadi ketentraman, membuat makanan jadi selamatan, rumah fisik jadi pesanggerahan dan yang asing menjadi kerabat.

Yudi memberi perspektif penerimaan terhadap apa yang ada. Dengan bersyukur, ketulusan dan kerendahan hati dalam mencerna fenomena realitas sosial yang tiba pada diri. Menjadi modal utama dalam menguatkan jati diri dan menempa kepercayaan diri. Bahwa apa yang hadir menimpa diri adalah bagian dari skenario-Nya.  Sebagai sebuah Amanah yang harus ditunaikan, disampaikan dengan aman, damai, tak kurang suatu apa. Tak melahirkan kerusakan pada hakikat kemanusiaan dan keadilan.

BACA JUGA:  Dampak Bencana Terhadap Perbaikan Mental

Amanah bukan sebuah mistifikasi kekuasaan dan komodifikasi kepercayaan. Manakala realitas terkomodifikasi, maka kegalauan dan penolakan, muncul sebagai residu utama. Penerimaan terhadap apa yang ada, adalah kerendahan hati untuk menerima Amanah. Ambisi hanya menjadi patologi yang merusak kerendahan hati untuk mensyukuri skenario-Nya.

Kita seharusnya tahu bahwa apa yang dikerjakan kita (Amanah) musti memberikan manfaat dan perubahan ke arah kebaikan. Kebermanfaatan untuk sesama dan apa yang menjadi tujuan bersama. Entah institusi atau kelompok juga individu. Kebermanfaatan yang dilandasi keadilan, kemanusiaan untuk mewujudkan kesejahteraan serta kedamaian bersama. Bukan untuk kemanfaatan dan kesenangan alter ego masing-masing.

Sebab kebaikan yang hanya bisa dirasa oleh alter ego masing-masing, hanya melahirkan kesewenangan dan penindasan. Serta tumpulnya kepekaan, empati jiwa terhadap lian. Melahirkan komodifikasi kekuasaan dan pengaruh. Penyimpangan dan privatisasi urusan publik. Juga privatisasi yang menyimpang, seperti korupsi.

BACA JUGA:  Ibu-ibu Meninggalkan Dept Store pun Demikian Negara

Entah lahir atau datang dari mana, Amanah adalah darma yang harus ditunaikan. Amanah adalah kontrak sosial berdimensi spiritual yang harus dilaksanakan sebaik-baiknya dan tanggungjawab. Amanah bukan milik privat untuk diprivatisasi. Amanah adalah tanggungjawab publik, baik pemegang atau pemberi Amanah.

Amanah adalah rasa syukur dan sekaligus kerendahan hati untuk belajar bertanggungjawab. Untuk tak menjadi lupa diri. Sebab lupa diri bisa membatalkan Amanah. Amanah adalah fardu yang wajib ditunaikan. Tak peduli orang atau diri, suka atau tidak. Sebab yang fardu itu berkaitan dengan perantara pemberi dan pemberi yang hakiki. Legitimasi formalnya adalah apa yang ditetapkan dalam konstitusi. Konstitusi yang dibuat untuk menjaga yang fardu, Amanah itu, bisa berupa apa saja. Hatta selembar kertas keputusan.

BACA JUGA:  Pemimpin Masa Depan & Netralitas KPU dan Bawaslu