Analisis kendala Murid Selama Belajar dirumah Pada Masa Pandemi Covid-19

Oleh: Nur Amaliah

Mahasiswa UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Sejak awal bulan februari dunia digemparkan dengan adanya wabah Covid-19. Kehidupan berubah dengan seketika dunia gempar ketakutan, berbagai upaya telah dilakukan pemerintah dunia tak terkecuali bagi negara Indinesia. Berbagai kebijakan telah dibuat oleh Pemerintah Indonesia untuk menangani wabah covid-19. Baik itu dibidang Kesehatan, Ekonomi, Sosial, dan pendidikan.

ZONABANTEN.com – Update Sebaran Corona Indonesia di 34 provinsi Sabtu 21 November 2020. Pada hari sabtu 34 Provinsi di Indonesia mengalami penambahan kasus baru positif. Covid-19 sebanyak 4.998, sehingga total kasus positif Covid-19 di Indonesia pada hari Sabtu, 21 November 2020 mencapai 493.308 kasus. Dan data tersebut terkonfirmasi setelah memeriksa 43.122 spesien sampai dengan pukul 12.00 WIB. Dari data tersebut kita dapat menyimpulkan bahwa kita masih ditakuti oleh adanya wabah Covid 19, dan masih belum bisa beraktivitas seperti biasanya.

Salah satu dampak karena adanya Covid 19 ini bukan hanya terjadi dibidang ekonomi namun yang menjadi perbincangan sekarang adalah dibidang pendidikan. Dibulan februari sampai dengan sekarang pembelajaran dari mulai TK, SD, SMP, SMA sampai Perguruan tinggi masih dilakukan pembelajaran daring atau jarak jauh.

Senin, 09 November 2020 saya mencoba melakukan analisis kepada murid SD, SMP dan SMA mengenai proses pembelajaran yang dilakukan secara daring. Jawaban mereka tidak beda jauh, kebanyakan dari mereka mengatakan banyak kendala yang dirasakan selama pembelajaran jarak jauh ini. Baik itu dari segi kuota, signal, sistem pembelajaran yang sulit dipahami, materi yang sulit dimengerti oleh murid, pengawasan orang tua yang kurang, dan yang paling bahaya adalah kemalasan mereka dalam mengerjkan tugas yang diberikan oleh guru meningkat.

Mereka mengatakan “Walaupun materi atau tugas yang diberikan itu bisa dicari di google, bisa lihat buku akan tetapi jika materi yang disampaikan tidak dipahami maka ruang malas lebih besar daripada niat untuk mengerjakan tugas”.

Rabu,11 November 2020 saya mendatangi salah satu sekolah yang terletak di daerah Kasomalang, Subang mencoba mencari informasi tentang apakah benar nilai-nili para siswa menurun. Saya bertanya kepada salah satu guru disana dan beliau mengatakan “ Bahwa nilai mereka rata-rata mendapatkan nilai merah hal itu disebabkan karena banyak siswa yang salah satunya tidak mengerjakn tugas, tidak melakukan PTS (Penilaian Tengan Semester) dengan baik, dan tidak melakukan evaluasi yang diadakan setiap minggu disekolah tersebut”.

Lalu, siapakah yang pantas disalahkan? Menteri pendidikan kah? Pendidik kah? Atau pelajar itu sendiri? Jakarta, CNN Indonesia — Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Nadiem Makarim, mengibaratkan pandemi Covid-19 sebagai ledakan awal mula kebangkitan pendidikan Indonesia.

“Seperti ledakan yang melontarkan roket ke luar angkasa, pandemi ini adalah ibarat ledakan yang dapat jadi momentum kebangkitan pendidikan Indonesia. Kita semua akan berusaha mewujudkannya,” kata Nadiem dalam webinar “Pendidikan Indonesia di Masa Pandemi Covid-19”, Kamis (30/7).

Nadiem kemudian menyampaikan bahwa salah satu upaya Kemendikbud merespons pandemi Covid-19 adalah penerapan pembelajaran jarak jauh (PJJ). Tujuan utama kebijakan ini adalah untuk mencegah lembaga pendidikan. Kita tahu betul bahwa pemerintah mencoba melakukan yang terbaik untuk menangani keadaan yang sekarang ini. Kita tidak bisa menyalahkan siapa yang salah dan siapa yang pantas disalahkan dalam sulitya sistem pembelajaran saat ini.

Dari pihak pengajar telah melakukan berbagai langkah baik itu anjuran dari pemerintah ataupun kebijakan dari sekolah itu sendiri agar siswa ataupun mahasiswa bisa menerima materi dengan baik. tidak bisa kita pungkiri yang mendapat berbagai macam kendala itu bukan haya terjadi pada murid saja namun pengajar pun mengalami hal yang sama dalam memberikan tugasnnya sebagai pengajar.

Berbagai kendala dirasakan oleh pengajar baik itu dari signal, sistem dan teknologi, tidak semua pengajar bisa memahami teknologi dengan baik namum semua pengajar berusaha melakukan yang terbaik untuk murid-muridnya. Oleh sebab itu diharuskannya kerjasama antara guru dan muridnya serta orang tua dengan anaknya, dimana orang tua berperan untuk tetap mengawasi semua kegiatan sekolah anak. (*)