Aplikasi Kuliah Online dan Dampaknya Terhadap Kualitas Pembelajaran

Oleh
1.Drs.Priyono,MSi(Dosen dan Wakil Dekan I Fakultas Geografi Universitas Muhammadiyah Surakarta)
2.Siti Nur Aisah(Mahasiswi smt II F.Geografi UMS)

Kapan proses belajar mengajar tatap muka(non virtual) di Perguruan Tinggi maupun di sekolah akan dimulai maka jawabnya tidak seorangpun ada yang tahu melihat data manusia yang terkena covid menunjukkan kenaikan meskipun mereka yang sembuh juga mengikutinya. Secara teoritis kurve statistik yang menggambarkan mereka yang terkena covid mencapai puncak dahulu baru berangsur turun dan kapan puncakpun tercapai, tidak seorangpun ada yang tahu.

Kita berusaha untuk memutus mata rantai penyebarannya dengan tetap mematuhi protokol kesehatan dan pemerintah menekankan perlu tindakan yang kompak. Kemendikbud (Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan) menghimbau masyarakat agar tetap di rumah dan menjalankan kegiatannya secara online, salah satunya kegiatan belajar mengajar.

Masyarakat agar dapat produktif walaupun kegiatannya terbatas dan hanya dilakukan di rumah. Kegiatan yang tidak terbiasa tapi harus dilakukan agar virus segera sirna dan tatap muka dapat segera dilakukan untuk bisa meningkatkan kualitas pembelajaran secara maksimal.

Kondisi seperti ini memaksa kita harus menggunakan teknologi agar materi pembelajaran bisa disampaikan dan terciptalah tatap virtual atau pembelajaran online.

Banyak masyarakat yang merasakan dampak dari kegiatan yang berubah dari system tatap muka menuju sistem online, salah satunya yaitu pelajar. Bagi siswa sekolah kelas 6 sekolah dasar, 9 sekolah menengah pertama, dan kelas 12 sekolah menengah atas ataupun kejuruan mendapat kelonggaran berupa ditiadakannya Ujian Nasional (UN).

Tidak terkecuali seorang mahasiswa, mereka tetap melakukan perkuliahan dengan sistem online. Tidak hanya perkuliahan saja, akan tetapi beberapa praktikum pun dilakukan secara online, khusus untuk kegiatan kuliah kerja lapangan ditunda semester yad karena tidak akan efektif.

Sebenarnya banyak sekali platform media belajar online yang dapat digunakan oleh mahasiswa guna mengakses materi perkuliahan. Berdasarkan survei yang telah dilakukan oleh civitas akademika Fakultas Geografi Universitas Muhammadiyah Surakarta, sebanyak kurang lebih 63 % dari mahasiswa Fakultas Geografi merasa puas dan 17 % sangat puas dengan perkuliahan daring yang telah berjalan kurang lebih selama 4 bulan terakhir.

Jadi ada 80 persen yang mengatakan kuliah online berjalan dengan baik.
Mereka menggunakan beberapa aplikasi penunjang pembelajaran daring seperti zoom, google meet, schoology, google class room, dsb. Berdasarkan survei yang dilakukan, Schoology menduduki peringkat pertama sebagai platform aplikasi perkuliahan daring yang paling efektif dengan angka perolehan sebanyak 37,9 %.

Mereka terbiasa menggunakan schoology bahkan sebelum pandemi covid-19 merebak di Indonesia, oleh karena itu kepuasan mahasiswa dengan aplikasi pembelajaran schoology cukup tinggi.

Posisi kedua diduduki aplikasi zoom dengan angka perolehan sebesar 25,8 %. Mahasisw merasa zoom merupakan media perkuliahan jarak jauh yang sesungguhnya karena anatara dosen dan mahasiswa tetap dapat melakukan tatap muka layaknya perkuliahan biasa, akan tetapi dilakukan secara daring.

Mungkin sebelumnya mahasiswa dan dosen sedikit kesulitan menggunakan aplikasi zoom, terlebih beredar kabar bahwa terjadi peretasan data dari pengguna zoom. Meskipun demikian, tidak mengurangi minat mahasiswa dan dosen untuk menggunakan aplikasi tersebut, guna menjaga keamanan dosen biasanya menggunakan zoom yang berbayar demi kenyamanan selama proses perkuliahan online berlangsung.

Peringkat ketiga diisi oleh platform google meet, aplikasi ini hampir serupa dengan zoom. Dimana antar dosen dan mahasiswa dapat bertatap muka secara tidak langsung melalui aplikasi google meet. Sayangnya, beberapa menganggap bahwa kualitas dari google meet sedikit buruk baik dari kualitas video dan audionya. Oleh karena itu, mahasiswa cenderung memilih aplikasi zoom ketimbang google meet.

Terakhir ada whatsApp grup dengan perolehan angka sebesar 10,5 %. memang tidak dapat dipungkiri whatsApp merupakan aplikasi yang paling diminati masyarakat Indonesia dalam hal berkomunikasi. Namun, apabila digunakan sebagai media pembelajaran, aplikasi tersebut dirasa kurang efektif karena diskusi yang terjadi terkesan kurang terstrukur dan kondusif sehingga materi perkuliahan tidak dapat disampaikan secara maksimal.

Pada dasarnya segala bentuk aplikasi atau platform penunjang perkuliahan daring memiliki keunggulan dan kekurangan masing-masing. Seperti pada aplikasi zoom dan google meet memang dirasa lebih efektif akan tetapi membutuhkan jaringan sinyal yang bagus dan lebih boros kuota dibandingkan dengan whatsApp dan schoology.

Jika dicermati lebih dalam maka kepiawaian penggunakan aplikasi juga tergantung dengan kemampuan dosen masing masing. Mereka yang muda,berjabatan akademik yang tinggi dan lulusan perguruan tinggi luar negeri, memiliki kemampuan yang relative baik sehingga perlu diteliti kepuasan mahasiswa terhadap pembelajaran online setiap mata kuliah agar mendapatkan output yang rigid.

Penelitian tersebut sedang dilaksanakan di Fakultas Geografi UMS semoga hasilnya lebih terarah sebagai pengambil kebijakan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di semester yang akan datang.

Semua tergantung dari kebutuhan masing-masing, segala aplikasi digunakan guna menunjang kuliah online selama masa pandemi covid-19 yang tidak ada seorangpun yang tau kapan berakhirnya. Berbagai aplikasi pbm online yang telah digunakan akhirnya berujung pada pemahaman dan pencapaian pembelajaran atau kompetensi maka indikator terakhir dapat dilihat dari nilai UAS.

Semakin bagus nilai UAS berarti proses pembelajaran semakin baik kualitasnya dan sebaliknya. Semoga kita tetap mendapatkan ilmu dari perkuliahan daring yang cukup banyak menuai pro dan kontra di kalangan mahasiswa, Aamiin…