ATARAXIA

Belajar Filsafat

Pojokan 73

Jelas tak sama! Namun seolah memiliki sifat ilahiyah yang universal.
Sejak manusia hadir di muka bumi dan mengenal kebutuhan hidup serta berinteraksi, “Dia” begitu dibutuhkan dan berkuasa. “Dia” bisa menjadikan seseorang berwajah “bak nabi” yang penuh welas asih atau pengemis atau menjadi wajah sebengis, sesadis si angkara murka. Tak bernurani!

Mahkluk yang satu ini pun, punya daya evolusi teramat kenyal dan fleksibel. Evolusi yang menakjubkan. Tak ada makhluk di kolong langit yang berevolusi sedemikian dahsyat dan elegan seperti makhluk ini. “Dia” berevolusi dan bertiwikrama sekaligus.

“Dia” juga memiliki kemampuan survival of the fittest (kemampuan adabtasi dalam kehidupan) di segala masa. Beradabtasi disegala cuaca politik, ekonomi, budaya, dan siapapun penguasanya. Juga adabtasi dengan yang memegangnya. “Dia” bisa melahirkan kekuasaan yang korup, diktator lalim, penjilat dan pemburu rente. Wajah-wajah bertopeng yang tak terhitung rupanya pun sering tampil. Namun juga wajah-wajah biasa berbalut kemanusiaan dan filantropis. Mengantarkan kepada kebahagian dan keberkahan umat.

Makhluk yang disebut “Dia” itu, adalah “Uang”. Uang sebagai alat tukar, telah digunakan manusia dan memiliki daya tawar yang sangat agung. “Rahim” yang paling nyaman bagi uang adalah kapitalisme, yang digagas Karl Maxs. Sebab selain sebagai rahim, kapitalisme juga bermutasi menjadi virus yang lebih imun bagi “uang”. Uang memiliki sifat universal.