Bagaimanakah Tipe Soal yang Ideal untuk UTS Online?

Tak terasa pandemi covid-19 masih membungkam sistem pendidikan yang ada di Indonesia. Dengan demikian, segala bentuk aktlivitas perkuliahan masih harus berjalan secara daring, tak terkecuali Ujian Tengah Semester (UTS). Sebagian besar mahasiswa merasa bahwa perkuliahan yang berjalan selama setengah semester terakhir masih jauh dari kata efektif, dan kini mereka harus dihadapkan dengan ujian tengah semester.
Persoalan platform yang digunakan, kendala sinyal, berubahnya jadwal perkuliahan dan penggabungan klas karena daring menjadi masalah klasik yang tidak berujung. Itupun masih ditambah tidak kesiapan dosen dalam memberikan pembelajaran daring, akan menimbulkan persoalan berikutnya, sehingga jauh sebelumnya Universitas Muhammadiyah Surakarta(UMS) melalui Lembaga Jaminan Mutu membuat standar pembelajarn daring agar ada persamaan persepsi dan tetap menjaga mutu pembelajaran serta ada alat control ketika diadakan evaluasi.
Standar pembelajaran daring di UMS selalu mengedepankan interaksi dosen-mahasiswa dan variasi model serta media pembelajaran sehingga standarnya, di setiap tatap muka pembelajaran daring harus diupload : 1. Rencana Pembelajaran Semester, 2. Modul kuliah, 3.ppt,ppt bernarasi atau video 4. Ada forum diskusi dan tugas ,5.Platform schoology dan open learning.
Meskipun pemahaman materi yang dikantongi tidak semaksimal seperti perkuliahan tatap muka secara langsung, ujian tengah semester tetap harus dilaksanakan. Keuntungan dari sistem online ini ialah mahasiswa masih dapat mengakses materi dengan kualitas yang sama rata. Berbeda ketika offline, mahasiswa harus mencatat materi yang diberikan sebagai bekal belajar.
Ujian Tengah Semester kali ini sedikit berbeda dengan pelaksanaan ujian seperti sebelumnya. Biasanya ujian dilaksanakan secara langsung di ruang ujian, akan tetapi kali ini dilaksanakan secara daring. Selain itu batas waktu pengumpulannya pun berbeda, yang biasanya lembar jawab ujian dikumpulkan langsung ketika waktu ujian berakhir, kali ini diberi batas waktu selama 24 jam bagi mahasiswa yang akan mengirimkan jawaban. Hal tersebut dilakukan guna mengantisipasi kendala sinyal yang mungkin dialami mahasiswa.
Berbeda dengan pelaksanaan ujian online sebelumnya yang memiliki batas waktu pengumpulan selama 3 hari, UTS kali ini memiliki batas yang lebih singkat. Walaupun ini bukan kali pertamanya dilaksanakannya ujian berbasis online dan bisa dikerjakan di rumah, nampaknya mahasiswa tetap memilih ujian yang dilaksanakan secara langsung. Mengapa demikian ?
Pasalnya, soal yang diberikan memiliki bobot yang berbeda. Mahasiswa menemui 5 butir soal yang setiap nomor diharuskan membuat artikel yang cukup panjang. Bagi mereka yang terbiasa menulis, mungkin hal itu sudah menjadi hal yang maklum, akan tetapi bagi mereka yang jarang bahkan tidak pernah menulis bukankah akan memberatkan mahasiswa?. Hal tersebut juga akan mendorong sifat plagiarisme atau hanya copy paste dari tulisan milik orang lain, dengan dalih yang penting lembar jawab ujian dapat terkumpul tepat waktu.
Lantas bagaimana kah tipe soal yang ideal untuk mahasiswa? Pemberian tipe soal dan bobot soal disesuaikan dari pola pengajaran yang dilakukan oleh dosen. Apa yang sudah di sampaikan sebaiknya itu yang diujikan atau soal berbasis RPS dan kompetensi yang diharapkan. Dosen juga harus mengerti bagaimana keadaan mahasiswanya apakah sudah menguasai materi yang diberikan atau belum, hal tersebut dapat di cek pada saat perkuliahan berlangsung.
Namun, masih ada saja dosen yang tidak memberikan bimbingan atau arahan materi hanya mengirim materi tanpa adanya penjelasan. Dosen seperti ini, sebaiknya tidak memberikan soal yang terlampau berat, karena mahasiswa akan menemui kendala dalam mengerjakan soal yang mana akan berdampak pada kualitas jawaban yang akan diberikan. Apabila jawaban tersebut tidak berkualitas atau dalam artian tidak tepat maka akan berdampak pada nilai yang akan diperoleh mahasiswa nantinya.
Tipe soal yang menarik adalah tipe soal yang memberikan nuansa penalaran berfikir dan mengkorelasikan antara variabel yang satu dan lainnya misalnya menjelaskan profil kependudukan di suatu wilayah mhs tinggal. Tipe soal yang membuat mereka belajar lebih giat dengan mengabsorbsi dari sumber lain. Bisa juga tipe soal dengan memberikan kasus di suatu wilayah dan mahasiswa diminta menjelaskan bagaimana cara menyelesaikan masalah di wilayah tersebut. Bisa juga tipe soal multiple choice yang bisa menjangkau tiap kompetensi yang ingin dicapai.
Jadi membuat soal harus disesuaikan dengan beberapa faktor yang terkait dengan materi dan resan materi pembelajaran. Lebih penting lagi karena dikerjakan di rumah maka soal harus mengedepankan ranah analisis, menddidik untuk menggali informasi dari sumber lain serta mereka bisa dipaksa untuk belajar dan mendekatkan teori dengan kenyataan dengan memberi kajian studi kasus. Karena ending evaluasi adalah pencapaian kompetensi mata kuliah.
Memang pendidikan tidak melulu mengenai nilai akademis, juga berkutik akan nilai kepribadian atau akhlak. Permasalahanya apabila dosen ingin mencetak mahasiswa yang berkualitas, maka sistem perkuliahan pun harus sama berkualitasnya, dalam artian disini keduanya memiliki hubungan kausalitas yang saling berkaitan.
Ujian dengan tipe soal apapun tidak ada masalahnya, entah itu pilihan ganda ataupun essai semuanya sama, tergantung pada pemahaman materi oleh mahasiswa dan sistem perkuliahan yang telah berjalan selama beberapa bulan terakhir. Namun, bobot dari soal yang akan di ujikan harus sesuai dengan materi yang telah di berikan. Terlebih dengan waktu yang cukup terbatas harapannya tidak ada soal yang mengharuskan mahasiswa memuat artikel yang cukup banyak.
Apabila ujian dilakukan secara langsung maka banyak mahasiswa yang abai dengan pelaksanaanya, akan tetapi ujian online yang dapat dikerjakan di rumah dan dapat mengakses materi perkuliahan tidak mungkin dikerjakan secara asal-asalan. Mahasiswa pasti mengusahakan jawaban terbaik untuk mengisi lembar jawab ujiannya.
Ujian bukan momok yang harus dihindari, ujian merupakan batas ukur kemampuan mahasiswa setelah menempuh setengah perjalanan semester ganjil yang sudah ia lalui. Serta tidak ada ujian yang diberikan melebihi batas kemampuan hambanya. Tipe dan jumlah soal yang diberikan harus mengacu pada rencana pembelajaran semester dan kompetensi yang ingin dicapai. Tipe soal, harus mendidik mahasiswa untuk belajar menggali sumber belajar dan lebih mendekatkan dunia teori dengan kenyataan dalam kehidupan. Tetap berdoa dan berusaha insyaa Allah kita mendapatkan hasil yang memuaskan, Aamiin.(*)

Oleh:
1.Drs.Priyono,MSi(Dosen Fakultas Geografi Universitas Muhammadiyah Surakarta)
2.Siti Nur Aisah(mahasiswa smt 3 F.Geografi UMS)