Belajar dari Kucing

Fuad Rifky Abdulazis, SPdI, Pengajar SDN Bojongsari Kec Compreng, Kab Subang.

Mencontek.  Apakah istilah ini melekat pada anak sekolah dasar?  Pasti kata tersebut cocoknya pada interaksi yang terdapat di anak seusia itu.  Mengejar ijazah yang hanya sekedar blanko.  Bekerja pada instansi tertentu susahnya bukan main, selidik punya selidik harus menyogok dengan sejumlah uang, baru diterima.  Banyak perilaku manusia di negeri ini mirip perilaku kucing, mencuri yang bukan haknya.

Mencontek tidak hanya terjadi di anak sekolah dasar, bagaimana kalau kejadiannya mencontek ide sampai akhirnya mencontek karakter orang lain, berbahaya, karena orang sperti ini bermuka dua, bagaimana kalau dia menjadi pemimpin kita?  Ketika semua berjalan apakah mungkin bahwa ide yang diperoleh adalah miliknya, sampai  karakter yang dia tonjolkan bukan karakter dia sebenarnya.

Biasanya dosen adalah mahasiswa berprestasi yang dipilih oleh pihak perguruan tinggi untuk kembali mengajarkan apa yang dia peroleh selama di bangku kuliah sampai mahasiswanya lulus  dan berprestasi seperti dia yang kemudian meningkatkan kualitas perguruan tinggi tersebut.  Karir mereka sampai meningkat hingga dipilih menjadi ‘best of the best’ di institusi tersebut.

Ini semua menjadi penting ketika hati manusia adalah gaib.  Sejarah bisa kabur jika fakta yang sebenarnya terkubur.  Karakter seseorang bisa merupakan tiruan dari orang lain.  Inilah bahayanya mencuri…yang pada akhirnya kita menyerah pada keadaan ini.  Ketimpangan-ketimpangan muncul karena analisa dari rasa heran saya.  Ingatkah iptek dan imtaq yang harus sejalan dengan manusia  di negeri ini?  Siapa pemimpin yang gaptek? Lalu bagaimana dengan imtaqnya?  Bukankah iptek bermula dari Al-quran?  Seluruh sendi  kehidupan berasal dari nya.  Mau sampai kapan anda semua berbohong?  Anda pencuri karakter orang lain kah?

Kaum profesional yang seharusnya imtaq dan ipteknya berbanding lurus tidak berhasil guna untuk agamanya.  Kita adalah manusia-manusia yang selalu merindu kejayaan islam di negerinya sendiri demi kemulyaan dunia dan akhirat harus selalu menunggu dan bertanya mau sampai kapan drama ini berakhir.

BACA JUGA:  Dampak Corona Perceraian di Karawang Meningkat

Mungkinkah ‘monarki kucing’ sebutan bagi negeri kita sekarang?  Tidak ada peribahasa malu-malu kucing kalau itu tidak terbukti.  Dialah sang kucing yang lenggang kangkung setelah mencuri ikan dengan muka yang tidak bersalah.  Kita tidak ingin ada pernyataan salahkan saja ‘ucing gering’ (kucing sakit) mengapa negeri kita seperti ini. Ghozwul fikri sekarang adalah perzinahan, serangan itulah yang mungkin orang kafir hembuskan.

Anda pembaca opini ini apakah sadar bahwa karakter yang ada pada diri anda bukan milik anda sendiri, itu hasil curian entah dari siapa.  Mau sampai kapan hidup dalam kebohongan, lebih dari 80 persen penduduk beragama islam melakukan sandiwara ini, entah siapa sutradaranya.(*)