Bencana Alam, Kearifan Lokal, dan Kecerdasan Spiritual

Ramdan Hamdani, S.Pd
Praktisi Pendidikan

Menyikapi terjadinya bencana – bencana alam  sepanjang tahun ini, Presiden Joko Widodo menghimbau agar pengetahuan tentang mitigasi bencana ditanamkan sejak dini. Beliau pun memerintahkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) untuk memasukkan pendidikan kebencanaan ke dalam kurikulum. Hal tersebut perlu dilakukan untuk meminimalisir jumlah korban akibat bencana alam yang masih mungkin terjadi di masa yang akan datang.

Dalam pandangan penulis, pengetahuan tentang hal – hal yang berkaitan dengan kebencanaan memang sudah seharusnya diajarkan kepada anak – anak kita. Sebagai negara yang terletak di titik pertemuan tiga lempeng aktif (Indo – Australia, Eurasia dan Pasifik), Indonesia menjadi negara yang rawan mengalami gempa bumi yang cukup dahsyat, bahkan sejak zaman dulu kala. Namun, pemberian bekal terkait mitigasi bencana tersebut sebaiknya tidak hanya menjadi tanggungjawab pihak sekolah saja, akan tetapi menjadi tanggungjawab bersama dengan masyarakat setempat melalui penanaman kearifan lokal.

Salah satu daerah yang dapat dijadikan contoh tentang pentingnya kearifan lokal dalam menghadapi bencana alam adalah Pulau Simeulue yang terletak di Provinsi Aceh. Saat ratusan ribu jiwa melayang akibat terjadinya musibah gempa bumi dan tsunami pada tahun 2004 lalu, penduduk Pulau Simeulue yang menjadi korban hanya enam orang. Padahal, posisi pulau tersebut  berada di tengah laut Samudera Indonesia. Mengapa hal itu bisa terjadi ? Masyarakat di pulau ini ternyata memiliki cerita sendiri tentang tsunami yang diwariskan secara turun temurun oleh orangtua mereka.

Di kalangan masyarakat Simeulue, tsunami lebih dikenal dengan nama Smong. Smong menjadi pelajaran hidup tersendiri bagi masyarakat setempat mengingat bencana semacam ini pernah terjadi pada tahun 1907 dan memakan korban jiwa sangat banyak. Sejak saat itu, mereka yakin bahwa peristiwa serupa sangat mungkin terjadi di masa yang akan datang dan oleh karenanya diperlukan kesiapan yang matang untuk mencegah jatuhnya korban jiwa.

Melalui adat tutur mereka mulai mengajarkan kearifan lokal kepada para penduduknya, termasuk anak – anak. Para budayawan setempat sangat aktif dalam menyampaikan syair – syair yang mengandung ajaran terkait kewaspadaan dalam melihat setiap fenomena atau gejala alam yang terjadi di sekitar mereka. Salah satu contoh isi syair yang diajarkan adalah, jika suatu saat kita menyaksikan air laut surut secara tiba – tiba, segeralah berlari ke daerah yang sangat tinggi seperti bukit. Jangan pernah terbersit untuk mengambil ikan – ikan yang terdampar di pinggir pantai. Syair – syair semacam inilah yang diwariskan secara turun temurun dan mampu menyelamatkan mereka dari amukan gelombang tsunami yang sangat dahsyat.

Selain mengajarkan kearifan lokal, hal lain yang perlu dilakukan oleh seorang pendidik dan orangtua adalah menanamkan kesadaran bahwa setiap fenomena alam yang terjadi di muka bumi ini merupakan kehendak Sang Maha Kuasa. Artinya, berbagai bencana yang terjadi akhir – akhir ini sangat mungkin merupakan teguran bagi ummat manusia agar senantiasa menjalankan perintah serta menjauhi larangan – Nya. Dalam konteks ini, kecerdasan spiritual yang dimiliki oleh setiap individu diharapkan mampu menjauhkan dirinya dari berbagai kejadian buruk yang mungkin terjadi setiap saat.

Di tengah keterbatasan kemampuan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam memprediksi kejadian – kejadian di masa yang akan datang, kearifan lokal dan kecerdasan spiritual menjadi bekal penting yang perlu dimiliki oleh setiap individu dalam menjalani kehidupan mereka. Dalam hal ini setiap pendidik serta para orangtua hendaknya mampu bersinergi dalam menanamkan nilai – nilai kearifan lokal dan spiritual kepada anak – anaknya. (*)