Budaya Membaca Menghasilkan Generasi Unggul

Oleh Maria Klara Timorina Situmorang, S.S.
Guru TK di Sekolah Nanyang Zhi Hui Modern, Medan, Sumut

Rendahnya literasi merupakan suatu dasar masalah yang memiliki dampak yang sangat luas bagi bangsa dan dunia pendidikan. Di kalangan masyarakat yang ada di Indonesia pada umumnya, kegiatan membaca belum dianggap suatu aktivitas yang bermanfaat dan ekonomis. Pemenuhan kebutuhan hidup jauh lebih penting dibandingkan dengan kegiatan membaca itu sendiri.
Di kalangan dunia pendidikan sendiri, literasi masih menjadi masalah yang kompleks. Perpustakaan sekolah saat ini hanya menjadi pelengkap tambahan saja. Sepi pengunjung, baik dari siswa maupun guru itu sendiri. Para siswa lebih banyak menghabiskan waktunya berjam-jam di depan gadget daripada melakukan kegiatan membaca.

Data Wearesocial per Januari 2017 mengungkapkan orang Indonesia bisa menatap layar gadget kurang lebih 9 jam sehari. Tidak heran, kegiatan di media sosial orang Indonesia berada di urutan ke 5. Menghabiskan waktu berjam-jam untuk melihat konten yang kurang bermanfaat sudah menjadi hal yang biasa.
Literasi itu sendiri merupakan suatu kemampuan untuk membaca dan menulis. Keduanya belum menjadi budaya di negara kita. Padahal, perkembangan ilmu dan budaya harus dimulai dari keduanya. Literasi juga bermakna praktik dan hubungan sosial yang terkait dengan pengetahuan, bahasa, dan budaya (UNESCO, 2003). Karena itu, kebiasaan membaca dapat dimulai dari keluarga. Kehidupan masyarakat yang terkecil dimulai dari keluarga.

Sebagai contoh, negara Finlandia, berdasarkan hasil survei yang dilakukan oleh organisasi pendidikan, ilmu pengetahuan dan kebudayaan PBB (UNESCO) yang dirangkum dalam laporannya, negara tersebut menduduki peringkat pertama dunia dengan tingkat literasi paling tinggi. Sedangkan Indonesia hanya peringkat 60 dari 61 negara yang disurvei. Cukup miris sebenarnya melihat Indonesia yang sudah merdeka selama 73 tahun.

BACA JUGA:  KOTA MADIUN BAK ARGANI CAKARA GANENDRA

Banyak faktor penyebab rendahnya literasi anak di Indonesia. Kesadaran akan pentingnya literasi, seharusnya dimulai dari keluarga, orangtua itu sendiri. Kesibukan para orangtua dalam pemenuhan kebutuhan hidupnya mengakibatkan orangtua itu sendiri tidak memiliki waktu untuk membaca dan memotivasi anak-anaknya untuk membaca. Mereka lebih cenderung mengajak anak-anak mereka ke mal daripada membaca buku. Hasilnya anak-anak itu lebih tertarik main game, menonton youtube, televisi. Anak-anak pun menjadi tabu dengan yang namanya buku.

Tingginya minat membaca buku seseorang itu berpengaruh terhadap mental, prilaku dan wawasannya. Banyak orangtua yang memiliki minat literasi yang rendah, sehingga mengirimkan anaknya ke sekolah dengan prinsip laundry atau terima beres, tanpa ikut berperan aktif didalamnya. Hal ini terjadi tidak hanya di sekolah-sekolah yang bertaraf nasional plus, ataupun internasional tetapi juga di sekolah-sekolah negeri biasa. Kesibukan para orangtua, ditambah dengan kurangnya minat baca para orangtua menjadikan sekolah itu sebagai tempat laundry bagi anak-anak mereka. Dengan harapan terima beres, tanpa mengetahui perkembagan dan pertumbuhan dari si anak secara signifikan.

Selain itu, perkembangan teknologi yang semakin canggih, dengan semakin banyaknya jenis games yang ada serta konten-konten lainnya yang kurang bermanfaat untuk meningkatkan minat baca anak. Mereka mampu menghabiskan waktu berjam-jam untuk itu semua.