Budaya Menahan Diri Di Tahun Politik

(Refleksi Maulid Nabi)
Oleh: Bambang Tri Hardiono SP

*) Ketua Dewan Pengurus Area Komunitas One Day One juz Kabupaten Subang / Founder Komunitas Subang Bersedekah

Peringatan maulid nabi yang dilaksanakan setiap tanggal 12 Rabiulawal hendaknya tidak hanya sebatas dilakukan dalam bentuk seremonial belaka. Sebagai seorang muslim yang baik, kita harus bisa merefleksikan kehidupan nabi dalam aktivitas keseharian kita, baik dalam bentuk tata cara ibadah sehari-hari maupun dalam bentuk perilaku atau kepribadian dalam berbagai aspek kehidupan.

Dalam siroh nabawiyah, banyak dikisahkan tentang bagaimana kehidupan nabi. Bahkan, ada buku yang memotret kehidupan nabi atau kebiasaan nabi sehari-hari, mulai bangun tidur hingga tidur kembali. Disinilah pentingnya kita sebagai seorang muslim mengetahui bagaimana kehidupan nabi, dalam rangka meneladani dan mencintainya.

Dalam hal kepribadian misalnya, nabi memiliki karakter atau sifat yang dikenal sebagai seorang yang sidik (jujur), amanah (dapat dipercaya), tabligh (menyampaikan) dan fatonah (pandai). Selain sifat-sifat yang disebutkan tadi, nabi juga dikenal sebagai orang yang pandai menahan diri atau tidak mudah marah atau kalau jaman sekarang dikenal dengan istilah tidak “baperan”. Nabi hanya akan marah atau baper apabila agama islam diihina atau dinistakan.

Banyak kisah yang menggambarkan bagaimana nabi pandai menahan diri untuk tidak mudah marah. Suatu ketika saat nabi sedang sholat di sekitar ka’bah, ada yang menaruh kotoran unta ke tubuhnya. Apakah nabi marah? Nabi menahan dirinya untuk tidak marah.

Kemudian saat nabi berdakwah ke Tha’if, penduduk Tha’if menyambut nabi dengan lemparan batu hingga pakaian beliau berubah warnanya, yang tadinya berwarna putih menjadi merah penuh darah. Nabi pun tetap menahan dirinya untuk tidak marah, hingga malaikat Jibril pun menawarkan jasa apakah perlu bukit yang ada disekitar daerah itu, ditimpakan kependuduk Tha’if, akan tetapi nabi melarangnya, malah nabi mendo’akan mereka agar mendapat hidayah suatu hari kelak.

Kemudian moment berikutnya adalah saat nabi setiap hari melewati suatu jalan, beliau diludahi hingga akhirnya terdengar kabar bahwa yang sering meludahi beliau itu sakit. Nabi pun tidak marah, justru menjenguknya sambil membawakan makanan untuk orang tersebut. Kisah selanjutnya yang mengharukan adalah saat nabi terbiasa menyuapi seorang pengemis.

Dengan penuh kelembutan nabi menyuapi pengemis tersebut, walau setiap kali disuapi oleh nabi, pengemis tersebut mencaci maki nabi. Akan tetapi nabi menahan dirinya tidak marah, bahkan tetap melanjutkan menyuapi pengemis tersebut setiap hari hingga beliau meninggal. Pengemis itu tidak tahu hingga suatu ketika sahabat Abu bakar yang memberi tahu pengemis tersebut, bahwa orang yang selama ini menyuapinya adalah nabi Muhammad Saw yang sering dicaci makinya.

Singkat cerita, kepandaian nabi menahan dirinya untuk tidak mudah marah membuat orang-orang itu bersyahadat memeluk Islam.

Beberapa kisah di atas seharusnya bisa dijadikan pelajaran untuk kita semua dan menerapkannya dalam kehidupan kita sehari-hari. Bayangkan, seandainya nabi tidak pandai menahan diri atau baperan, mungkin islam tidak akan pernah sampai ajarannya kepada kita saat ini.

Namun, hari ini kita menyaksikan betapa banyak orang yang mengaku umat nabi tapi belum bisa meneladani nabi dalam hal menahan dirinya untuk tidak mudah marah atau emosi alias tidak baperan. Kita juga masih menyaksikan betapa maraknya aksi saling mencaci antar pendukung capres dan cawapres juga partai politik di media sosial dengan kata-kata yang tidak baik.

Para pendukung seharusnya lebih bekerja keras dalam menunjukan kelebihan pasangan yang didukungnya atau partainya daripada sekedar menyerang kubu yang bersebrangan. Berbeda pilihan merupakan hak masing – masing, akan tetapi persatuan harus tetap dijaga. Jangan sampai gara-gara beda pilihan, ikatan keluarga atau persaudaraan menjadi terputus, sesama pengurus DKM masjid menjadi tidak harmonis.

Di kantor atau ditempat kerja dan lainya menjadi tidak kondusif.
Oleh karenanya, penulis mengajak kepada semua pihak untuk dapat menahan diri dari perbuatan atau perkataan yang dapat mengancam persatuan. Mari kita jaga sikap dan ucapan kita untuk tetap saling menghormati dalam perbedaan. Kita jaga kondusifitas negeri ini dengan tetap santun dalam berpolitik. Kita tunjukkan kepada dunia kedewasaan kita dalam berdemokrasi. Mari menahan diri kita di tahun politik ini.(*)