Childfree, Pola Pikir Keliru Menentang Fitrah

Oleh: Nadia SL

Beberapa waktu lalu, istilah Childfree mendadak ramai menjadi perbincangan masyarakat Indonesia, terlebih saat banyak figur yang mengakui telah mengadopsi konsep tersebut, yang diantaranya adalah sejumlah selebritas papan atas dan kalangan influencer.

Childfree adalah keputusan yang diambil untuk tidak memiliki anak setelah mereka menikah. Mereka tidak berusaha untuk hamil secara alami ataupun berencana mengadopsi anak.

Ada banyak alasan seseorang memutuskan childfree, di antaranya adalah kekhawatiran genetik, faktor finansial, mental yang tidak siap menjadi seorang ibu, bahkan alasan lingkungan.

Hal tersebut juga sempat disuarakan oleh salah satu influencer Gita Savitri, dalam salah satu acara wawancaranya yang diunggah di youtube, dia menyampaikan bahwa salah satu alasan memilih sikap untuk Childfree adalah karna faktor finansial dan kesiapan mental orang tua untuk memiliki dan mendidik anak.

Memang sikap tersebut termasuk ranah pribadi, tapi jika idenya diseberluaskan maka menjadi ranah publik yang dapat mempengaruhi orang banyak.

Sejatinya pola pikir childfree adalah pola pikir yang keliru, bahkan melawan fitrah penciptaan manusia. Allah SWT menciptakan manusia dibekali dengan gharizah nau’ atau naluri melestarikan jenis manusia. Wujud dari gharizah nau’ adalah rasa kasih sayang pada pasangan halal dan anak-anak. Sehingga manusia pun berketurunan dan tercegah dari kepunahan. Akan makin lengkap kebahagiaan pasangan suami istri dengan hadirnya sang buah hati. Melihat anak tumbuh besar dan menjadi anak saleh sungguh merupakan kebahagiaan bagi orang tua.

Demikian fitrah tujuan dari sebuah pernikahan salah satunya adalah memiliki keturunan. Apabila yang menjadi kendala adalah finansial dan kesiapan mental dalam mendidik anak maka bukan anaknya yang tidak mau dihadirkan dalam rumah tangga akan tetapi seharusnya kita yang belajar mengelola finansial keluarga dan belajar berbagai hal agar mental kita siap untuk menjemput kehadiran buah hati.

BACA JUGA:  Alih Fungsi Lahan dan Ancaman Pangan

Adapun childfree karena kekhawatiran akan finansial tidaklah bisa dijadikan alasan. Bagi seorang muslim, anak bukanlah hitung-hitungan finansial, bukan atas pertimbangan untung rugi, melainkan karena Allah SWT memerintahkannya.

Mengasuh anak tentu butuh biaya, apalagi di bawah sistem kapitalisme saat ini yang serba mahal. Namun, Allah SWT. telah menjamin rezeki setiap anak. Jangankan manusia, rezeki hewan yang melata saja dijamin oleh Allah Sang Maha Pemberi Rezeki. Tugas orang tua (ayah) adalah bekerja mencari nafkah dengan cara yang halal.

Allah SWT berfirman, “Dan tidak satu pun makhluk bergerak (bernyawa) di bumi melainkan semuanya dijamin Allah rezekinya. Dia mengetahui tempat kediamannya dan tempat penyimpanannya. Semua (tertulis) dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (QS. Hud: 6.)

Bahkan Allah SWT akan mencukupi rezeki bagi hamba-Nya selama hidup di dunia melalui jalan yang tak disangka-sangka. Allah SWT. berfirman,

“Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” (QS. At-Thalaq: 3)

Harta yang dikeluarkan orang tua demi mengasuh dan membesarkan anak tidak dipandang sebagai beban.  Karena yakin bahwa memang ada hak anak dalam harta orang tua, yaitu hak nafkah. Orang tua wajib memenuhinya, semata demi mengharap ridho Allah SWT

Bahkan melalui pendidikan agama yang diberikan orang tua ke anaknya, bisa menjadi ilmu yang bermanfaat. Hal ini merupakan suatu investasi akhirat bagi orang tua, karena pahalanya akan terus mengalir kepada orang tua, meski mereka sudah menghadap Sang Khaliq. Selain itu, doa anak yang saleh juga akan menjadi amal yang terus mengalir pahalanya ketika orang tua sudah wafat.

BACA JUGA:  Heboh Pasangan Pesohor Terlibat Narkoba, Islam Punya Solusinya

Maka keputusan punya anak atau tidak, disandarkan pada pertimbangan ridho Allah SWT bukan pertimbangan akal manusia atau pun hawa nafsunya.

Wallahu a’lam bisshawab