CINTA YANG DILANDASI KEIMANAN

Oleh : Andi Noor Fitrah Syarifin, M.Pd.

Tulisan kali ini saya beri judul seperti di atas setelah merenungi sebuah ungkapan yang sangat terkenal di kalangan Umat Islam khususnya dari saudara-saudaraku warga Nahdhiyyin yaitu “Hubbul Wathan Minal Iman” (mencintai negeri/nasionalisme adalah bagian dari keimanan kepada tuhan). Menurut KH. Prof. Dr. Sadi Aqil Siroj yang dikutip dari www.nu.or.id , ungkapan tersebut bukanlah hadis Rasulullah. S.A.W. melainkan ucapan Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ary. Ucapan Hadratus Syaikh KH.

Hasyim Asy’ary tersebut seakan menegaskan bahwa kecintaan kita kepada negeri ini betul-betul haruslah berasal dari hati yang penuh dengan keimanan kepadaNya sehingga nilai-nilai ketuhanan meresap di dalam setiap sendi kehidupan berbangsa dan bernegara.

Rasa cinta kepada negeri yang merupakan buah dari keimanan kepadaNya bukanlah isapan jempol belaka. Tapi benar-benar cinta yang ikut serta di dalam perjuangan merebut kemerdakaan bangsa sejak dulu. Maka tidak heran jika di dalam alinea ketiga pembukaan UUD 1945 dengan jelas tertulis “atas berkat rahmat Allah yang maha kuasa…….” dan pada sila pertama pancasila berbunyi “ketuhanan yang maha esa”. Nasionalisme bangsa ini yang berlandaskan keimanan kepadaNya, menurut saya adalah nasionalisme yang berdimensi akhirat.

Mengapa saya mengatakan demikian? Karena dengan kemerdakaan bangsa yang merupakan rahmat dan amanat dari Allah ini tentu kelak akan dihisab di hari akhirat. Dengan apa kita mengisi mengisi kemerdekaan bangsa ini? Sudah sejauh mana kita sebagai bangsa menjalankan amanat untuk mensejahterakan segenap tumpah darah bangsa ini? Usaha apa yang sudah kita kerahkan untuk mengantar bangsa ini agar menjadi bangsa yang besar dan bersama-sama dengan bangsa yang lain di dalam menyejahterakan umat manusia? Dan yang lebih penting, sebagai generasi penerus para pendiri bangsa, sejauh mana kita mempertahankan dan menjaga amanat para pendiri bangsa yaitu ideologi pancasila yang denganya nilai-nilai sila ketuhanan dan empat sila lainnya akan selalu menjadi roda penggerak kehidupan berbangsa dan bernegara.

Menjaga amanat para pendiri bangsa untuk selalu mempertahankan keberlangsungan kehidupan berbangsa dan bernegara, adalah bentuk cinta kepada negara. Sikap mencintai tanah air pernah dicontohkan oleh Rasullah:
“Dari sahabat Anas, bahwa Nabi Saw. ketika kembali dari bepergian, dan melihat dinding-dinding Madinah beliau mempercepat laju untanya. Apabila beliau menunggangi unta maka beliau menggerakkanya (untuk mempercepat) karena kecintaan beliau pada Madinah.”  (HR. Bukhari, Ibnu Hibban dan Tirmidzi)

Pelajaran yang berharga dari hadis di atas adalah bagaimana Rasulullah menunjukkan rasa cintanya kepada tanah Madinah di mana beliau tinggal. Di sanalah beliau berhasil menyatukan suku-suku yang sering bertikai, di sana pulalah beliau berhasil mempersaudarakan kaum Ansor dan Kaum Muhajirin, di sana pulalah beliau berhasil membuat piagam madinah yang di dalamnya berisi poin-poin aturan untuk hidup secara bersama-bersama dan saling meghormati antara Muslim dan Non Muslim. Sebuah piagam perjanjian yang disebut-sebut para ahli sejarah sebagai konstitusi tertulis pertama di dunia.

Tentu saja segala pencapaian dan keberhasilan tersebut merupakan sebuah nikmat, rahmat dan juga sekaligus amanat dari Allah S.W.T. yang oleh Rasulllah akan selalu dijaga sepenuh hati dan sepenuh cinta.

Rasulullah telah wafat hampir 15 abad yang lalu. Tetapi kisah beliau tentang rasa cintanya kepada tanah yang di atasnya beliau berhasil membangun peradaban yang gemilang, terukir indah dengan tinta emas di atas prasasti sejarah umat manusia. Lantas, pada masa kini dengan konteks keindonesiaan kita, sejauh mana kita dapat “mencontek” bagaimana beliau bisa mencintai negerinya. Sebuah ironi di saat seharusnya kita bersama sama membangun dan mencintai negeri ini karena dilandasi keimanan kepada Allah, masih ada sekolompok orang yang dengan teganya melakukan aksi teror dan kekerasan. Teror dan kekerasan yang didasari rasa benci terhadap siapapun yang dianggap berbeda. Tidakkah mereka menengok sejarah hidup Rasulullah bagaimana beliau dengan sangat lihainya mengelola berbagai perbedaan yang ada di tengah-tengah masyarakat madinah kala itu. Sungguh merupakan sebuah pengkhianatan terhadap amanat para pendiri bangsa bagi siapapun yang melakukan teror dan kekerasan karena dilandasi rasa benci terhadap siapaun yang berbeda darinya.

Pada akhirnya, coretan sederhana ini meruapakan ajakan untuk kita semua agar mencintai negeri ini. Cinta yang dilandasi keimanan kepadaNya karena pada hakikaktnya negeri dan bangsa yang besar ini merupakan Rahmat, Nikmat dan sekaligus Amanat yang agung dari dariNya. Wassalam.