Corona Tambah Membuat Miris, Inikah Hasil Kebijakan ala Kapitalis?

Oleh: Heni Yuliana S. Pd

Jumlah pasien covid-19 di Karawang kembali meningkat. Saat tulisan ini dibuat jumlah kasus berada di angka 24.533 terkonfirmasi positif. Bukan angka sedikit.

Gubernur Jawa barat Ridwan Kamil juga terus memantau perkembangan kasus covid ini. Pasalnya selama sebulan ini Karawang terus berada di zona merah. Ini

Kondisi itu berimbas peningkatan bed occupancy rate (BOR) di Rumah Sakit mencapai 89,4 persen. Hal itu disampaikan Juru Bicara Satgas Penanganan COVID-19 Karawang, Fitra Hergyana pada Rabu (16/6/2021).

Di Karawang juga telah ditemukan kasus Corona varian baru. Yaitu varian Delta, dengan nama lain B.1.617.2 dan pertama kali terdeteksi di India pada Oktober 2020.

Fitra Hergyana juga mengatakan, sebelumnya sebanyak 330 sampel dikirim ke Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) Kementerian Kesehatan RI.

Kemudian ditemukan 25 sampel yang merupakan virus corona varian delta. 21 Orang merupakan warga Karawang. (Kompas, 21/6/2021)

Tentu jadi keprihatinan kita bersama. Betapa virus ini memang nyata. Setiap hari semakin banyak korban berjatuhan. Data yang tertulis bisa jadi lebih kecil dari data yang sebenarnya. Fenomena gunung es.

Ini juga merupakan hasil kebijakan yang kurang tepat tempo hari. Di saat larangan mudik hari raya dilayangkan tetapi di saat yang sama tempat-tempat wisata dibuka lebar.

Bahkan turis mancanegara tetap diperbolehkan untuk datang ke negeri ini. Sungguh ironi. Kita masih ingat betul serbuan TKA China yang datang saat mudik dilarang. Juga dari India yang saat itu tengah dalam fase tsunami covid. (Detik nwes, 22/4/2021)

Ketidakpatuhan masyarakat terhadap protokol kesehatan juga menyumbang angka kenaikan penderita covid 19. Kita lihat di jalan-jalan masih banyak yang belum sadar tentang penggunaanan masker. Ini bisa karena belum ada kesadaran dan juga jenuh dengan kondisi yang ada. Akhirnya tenaga medis kewalahan. Banyak yang akhirnya menjadi korban hingga gugur dalam bertugas. Innalillahi

Ini semua terjadi karena sistem kapitalis sekular yang menjadi rujukan dalam mengambil kebijakan. Bagaimana dalam situasi yang membahayakan di masa pandemi ini, pemerintah masih menimang untung dan rugi. Ciri khas kapitalis.

Hal ini bisa dilihat dari kebijakan ekonomi yang lebih utama dibandingkan keselamatan jiwa rakyatnya. Kondisi ini diperparah dengan perilaku korup dari oknum-oknum penguasa yang akhirnya semakin memperparah stabilitas ekonomi dalam negeri. Kita tentu masih ingat korupsi Bansos yang dilakukan Mentri sosial saat rakyat masih berjuanguntuk memenuhi kebutuhan pokoknya.

Akhirnya bukannya Rakyat tidak mau patuh tapi dihadapkan pada pilihan dilematis. Sayang nyawa atau bertaruh nyawa agar tetap bisa mencukupi nafkah keluarga. Mati karena covid atau mati karena kelaparan.

Padahal Islam sudah memberikan panduan super lengkap dalam kehidupan. Termasuk bagaimana penanganan saat terjadi wabah. Lock down atau karantinawilayah jadi pilihan yang tepat.

Seperti diriwayatkan dalam hadits berikut ini:

إِذَا سَمِعْتُمْ بِالطَّاعُونِ بِأَرْضٍ فَلاَ تَدْخُلُوهَا، وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَا فَلاَ تَخْرُجُوا مِنْهَا

Artinya: “Jika kamu mendengar wabah di suatu wilayah, maka janganlah kalian memasukinya. Tapi jika terjadi wabah di tempat kamu berada, maka jangan tinggalkan tempat itu.” (HR Bukhari)

Dan ini dipraktekan betul saat terjadi wabah di masa pemerintahan Umar Bin Khattab. Beliau memberlakukan kebijakan lockdown. Yang menjadikan wabah bisa cepat teratasi.

Mengenai supplay kebutuhan pokok pun Khalifah Umar pada saat itu sigap untuk menjamin pasokan untuk warganya.

Beliau mengerahkan semua pemimpin daerah untuk ikut menyediakan kebutuhan pokok umatnya.

Kebijakan ini dilakukan ketika negara memang memprioritaskan keselantan di atas hal yang lain. Bukan mengorbankan merekaatas nama ekonomi belaka. Ini bisa dilakukan oleh negara yang mengemban Islam secara sempurna.