COVID 19, MOMOK BAGI BERBAGAI SEKTOR

Oleh: Farah Salsabila

(Mahasiswa semester 4 F.Geografi UMS)

Covid 19, bukan lagi istilah wabah asing yang di dengar masyarakat Indonesia bahkan sampai seluruh penjuru dunia telah mengetahui bahkan merasakan keberadaan pandemi tersebut. Berdasarkan data yang disampaikan oleh Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 di Indonesia kasus positif per tanggal 5 juli 2020 mencapai angka 63.749 kasus positif, atas penambahan 1.607 dari hari sebelumnya.

Berbagai dampak yang dihasilkan dari pandemi Covid 19 ini terjadi terhadap beberapa sektor, yang menyebabkan ketidakseimbangan segala aktivitas masyarakat baik yang terjadi dalam jangka panjang maupun pendek. Dampak atau impact tersebut diantaranya pada sektor pariwisata, ekonomi dan makanan pokok.

Dalam CNN News pada 25 Februari 2020, peneliti Pusat Penelitian Ekonomi LIPI, Panky Tri Febiansyah dalam siaran pers mengatakan bahwa bidang pariwisata di Indonesia menjadi sektor yang terdampak pertama kali dengan potensi kerugian pendapatan devisa nasional mencapai 2 milyar dolar Amerika Serikat yang mana angka tersebut dari hasil simulasi berdasarkan perhitungan catatan 2019, ada 2 juta turis asal tiongkok yang menghabiskan 157 dolar per hari.

Ia menjelaskan, asumsi perhitungan ini dapat dipakai sebagai prediksi untuk 2020 bahwa turis asal Tiongkok akan menunda atau membatalkan perjalanannya ke Indonesia. Selain itu menurut McKinsey, Sektor pariwisata menurun tajam perkiraan dampak Covid-19 terhadap pariwisata sebesar Rp54.6 Triliun.

Dampak Covid-19 yang sangat dirasakan pada sektor pariwisata mulai dari tiket transportasi, hotel, tempat rekreasi, restoran, pusat oleh-oleh sampai karyawan yang berhubungan langsung dengan dunia pariwisata seperti karyawan travel agent, karyawan hotel, karyawan restoran, karyawan pusat oleh oleh, karyawan rental mobil,sopir, serta tour guide.

Menurut data yang diperoleh dari sumber valid yang tidak mau disebutkan namanya angka karyawan yang sudah dirumahkan dari sektor pariwisata sebesar 20 juta jiwa. Angka tersebut terlihat sangat miris mengingat penghasilan mereka bergantung dari sektor tersebut dan bisa jadi angka tersebut diluar prediksi dari menteri ketenagakerjaan.

BACA JUGA:  Wacana Keilmuan dan Keislaman di Universitas Muhammadiyah Surakarta, Sudah Terintegrasikah?

Di Indonesia, pandemi Covid-19 telah juga berdampak terhadap berbagai sektor mata pencaharian masyarakat. Termasuk pada sektor peternakan dan perikanan yang telah mengalami dampaknya, berdasarkan riset ekonomi dan industri BCA sektor peternakan dan perikanan ini termasuk dari dampak sedang dari pandemi Covid-19 ini. Akan tetapi walaupun termasuk kedalam dampak sedang, nantinya akan berakibat besar pada kegiatan produksi, konsumsi, serta distribusi pangan yang dihasilkan dari sektor peternakan dan perikanan tersebut di seluruh wilayah Indonesia.

Beberapa komoditas produk peternakan turut mengalami dampak penurunan daya beli antara lain daging, telur, ikan dan susu serta protein hewani lainnya. Kondisi ini telah berimbas kepada kerugian bahkan ancaman kebangkrutan akibat ketidakseimbangan produktivitas usaha dengan biaya operasional usaha peternakan dan perikanan.
Sejak empat bulan social distancing diterapkan dan sebagian daerah menetapkan aturan lockdown dampaknya mulai terasa terutama dari sisi ekonomi yang mengalami pelambatan, mulai merangkak naiknya harga makanan pokok dapat dijadikan indikator bahwa kita harus waspada dan bersiap menghadapi krisis.

Menurunnya daya beli dan terbatasnya produksi makanan pokok merupakan rambu-rambu ancaman awal bagi ketahanan pangan di Indonesia. Meluasnya wabah virus korona di Tanah Air berdampak pada meningkatnya kebutuhan bahan pokok masyarakat. Wacana lockdown atau karantina wilayah yang sempat bergaung juga menambah kekhawatiran masyarakat akan terjaminnya stok komoditas kebutuhan pokok di pasar, terlebih dengan adanya lockdown dan social distancing ini menyebabkan pemerintah tidak dapat melakukan impor makanan pokok dikarenakan tertutupnya akses ekspor impor.

Tentunya semua dampak atau momok yang menjadikan ketakutan masyarakat tidak lepas dari upaya pemerintah melakukan berbagai upaya untuk mengatasi masalah tersebut. Pemerintah pun membutuhkan peran masyarakat untuk bersama melawan pandemi ini sampai dinyatakannya berakhir.

BACA JUGA:  Refleksi Akhir Tahun 2019: Berhenti Berharap Pada Rezim Ingkar Janji

Tidak lupa selalu lakukan social distancing di setiap kegiatan, menerapkan protokol kesehatan yang telah di tetapkan, menjaga kesehatan dan tidak lupa selalu meminta perlindungan kepada allah SWT. Semoga kita bisa cepat melewati pandemi ini dan semua aktivitas masyarakat dapat berjalan seperti semula. (*)