Covid Mengganas di Sumedang, Ini Alasannya

Oleh : Luri K
(Warga Sumedang)

Jumlah kasus positif covid-19 di negeri ini semakin mengganas. Begitu pun yang terjadi di daerah Kabupaten Sumedang. Lonjakan kasus terkonfirmasi covid sangat signifikan. Secara berturut-turut Senin sebanyak dua orang, Selasa tiga orang, Rabu 14 orang, Kamis enam orang, Jum`at 12 orang, Sabtu 16 orang dan Minggu sebanyak 20 kasus terkonfirmasi.

Iwa menyatakan bahwa Ini jumlah kasus tertinggi dalam masa Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB) di Sumedang. Data yang tercatat menunjukkan angka yang memprihatinkan. Harapan covid ini segera usai dengan berkurangnya jumlah yang terkonfirmasi positif tampaknya kian jauh dari angan. Alih-alih berkurang justru kasusnya semakin meningkat.

Banyak faktor mengapa jumlah positif covid meningkat tajam. Jika diperhatikan, kian hari masyarakat kian abainya untuk tetap menerapkan protokol kesehatan. Di sekitar lingkungan tempat tinggal saja, masih banyak yang tidak menggunakan masker, berkerumun tanpa menjaga jarak, mengabaikan social distancing. Belum lagi, even-even negara yang diselenggarakan seperti pilkada, banyak kasus yang melanggar protokol kesehatan.

Sejak awal terjadinya pandemi, pemerintah seolah-olah bersikap longgar atau tidak tegas dalam menerapkan aturan dalam mencegah pandemi ini. Contohnya saja seperti tempat wisata yang ada di Sumedang, tetap saja masih beroperasi. Sehingga pada saat liburan panjang, banyak masyarakat yang berbondong-bondong untuk berkunjung.

Tentu ini bisa menjadi klaster baru. Begitu pun pemerintah tetap menyelenggarakan pemilihan kepala daerah, sehingga banyak pelanggaran protokol kesehatan saat kampanye. Saat pencoblosan, tentu tidak akan lepas dari kerumunan. Ditambah lagi biaya rapid test atau pun swab untuk mengecek apakah mereka terkonfirmasi atau tidak membutuhkan biaya yang tak sedikit. Khususnya bagi warga Sumedang yang pulang dari perantauan atau baru keluar dari wilayah zona merah.

Adapun jika ada program rapid test gratis, tidak sampai menyentuh seluruh lapisan masyarakat. Program vaksin yang direncanakan akhir tahun ini yang akan diberikan pun, ternyata masih menimbulkan pro kontra di tengah masyarakat. Masyarakat tak sedikit yang meragukan efektivitas dari vaksin tersebut.

Sejatinya, dalam hal menyelesaikan permasalahan pandemi ini, yang dibutuhkan adalah sistem yang komprehensif. Karena, bukan hanya masalah dampak ekonomi saja yang harus diperhatikan dan diselesaikan, tapi juga jumlah positif covid-19 mesti menjadi prioritas utama.

Dalam Islam, saat terjadinya wabah pencegahan sangat diperhatikan. Begitu pun, dalam menindak tegas dan menerapkan aturan menjadi prioritas utama. Satu nyawa saja sangat berharga, sehingga negara harus berupaya semaksimal mungkin meminimalisir penyebaran wabah. Lain halnya dengan sistem saat ini, dalam Islam jaminan kesehatan akan diberikan pada seluruh rakyat secara gratis.

Tidak hanya dalam hal ini, kebutuhan ekonomi pun akan dipenuhi secara maksimal. Bukan hanya kepada masyarakat saja aturan diberlakukan, tentu berlaku juga untuk instansi pemerintah.

Wallahua’lam